Zizi

Zizi
248. Menuju Resepsi


Setelah acara penandatanganan surat-surat nikah yang sempat memakan korban petugas mukanya kena pulpen, maka tinggalah mereka memasuki acara resepsi yang memang sengaja digelar oleh Zion di hari yang sama.


Mengingat keluarga Ziyan yang tak mungkin terlalu lama di Indonesia, dan juga banyak tamu penting lainnya, maka waktu acara memang dibuat seefisien mungkin.


Untuk menunggu acara resepsi yang akan di gelar pada sore dan malam hari, Zizi harus rela kembali berganti pakaian dan mengganti model riasan.


Berbeda dengan saat pagi tadi Zizi dirias di kamar ia menginap semalam sebelumnya, kali ini saat akan resepsi, Zizi berada di kamar pengantin yang juga Shane ada di sana pula.


"Saya akan merias dua jam lagi agar tidak terlalu lama jarak dengan waktu acara, silahkan anda berdua istirahat lebih dulu."


Kata Nyi Wulansari begitu selesai membatu Zizi melepas sanggul dan semua pritilan-pritilannya.


Zizi mengangguk.


"Ya Zizi lapar."


Kata Zizi.


Zizi meminta beberapa menu makan ke kamarnya, ia ingin makan yang banyak, lalu akan tidur sebentar karena tadi bangun jam empat pagi.


Nyi Wulansari keluar dari kamar pengantin bersama para asistennya.


"Suaminya ganteng sekali, isterinya juga cantik, sayangnya petakilan kayak ulet pete mabok."


Kata salah satu asisten Nyi Wulansari.


"Husz jangan bicara macam-macam Nona Zizi, kamu mau di tampol sampai puncak Jayawijaya apa."


Kata asisten yang satunya, membuat asisten yang julid pada Zizi cekikikan.


"Sori... sori..."


Sementara itu, para asisten hantu Nyi Wulansari justeru telah lebih dulu pergi ke lantai tiga sampai lantai lima yang disediakan untuk pesta para tamu dari dunia lelembut.


Di sana Nyi Retnoasih dan Bandapati sibuk keliling untuk berbasa-basi dengan para tamu.


Nyi Retnoasih sendiri tampak begitu luwes menyambut para tamu, ia juga selayaknya tuan rumah yang begitu telaten meladeni tamu-tamunya.


Tapi, berbeda halnya dengan Nyi Retnoasih, Bandapati entah sudah berapa kali menabok kepala lelembut yang datang menjadi tamu dan ketahuan belum apa-apa makan terus.


Sudah nyumbang pake amplop kosong dan ada juga yang cuma isinya tanah kuburan, para lelembut itu malah makan paling banyak.


Sebetulnya Zia sudah bilang pada kedua Neneknya yang memaksa ingin ikut mengurus para tamu di acara Zizi, bahwa Zia dan Zion tak memaksa para tamu harus membawa amplop atau kado apapun.


Toh dari tamu manusia juga pastinya sudah lebih dari cukup, karena tamu Zion jelas sosok-sosok berkelas.


Dari yang sumbangannya senilai satu unit mobil tipe menengah, sampai Paman Ziyan dan Bibi Aisyah yan sengaja memberi hadiah Zizi satu rumah mewah di daerah elit Korea Selatan, mengingat Zizi cukup suka juga jika jalan ke Korea Selatan.


Sepeninggal para perias Zizi duduk di sofa yang ada di kamar hotelnya,


"Nona, saya akan mandi sebentar."


Kata Shane.


Zizi mengerutkan kening, karena masih dipanggil Nona.


"Kak Seng mau Zizi tabok panggil Nona?"


Kesal Zizi.


"Oh iya, maaf Zizi, maaf."


Shane nyengir menyadari kesalahannya. Nyatanya memang sulit merubah kebiasaan.


Zizi menghela nafas.


Ceritanya berusaha sabar.


Baru tiga jam jadi suami isteri, masa mau ribut, kan apa kata Maria dan Zanuba.


"Ya udah, Zizi maafkan, salamannya nunggu lebaran."


Kata Zizi.


Hah salaman saja harus menunggu lebaran?


Toweeeeeng...


**-----------------**


Sementara itu, Zia dan Zion sibuk menjamu tamu-tamu istimewa mereka yang memang memilih hadir pada saat acara sakralnya.


Beberapanya adalah pemegang saham Alpha Centauri yang cukup besar dan saat masalah dengan Hery Sapta dulu, mereka ada di pihak Zion.


Zion dan Kak Ziyan menemani mereka bersantap siang dalam satu meja berbentuk bundar berukuran besar yang terdiri dari banyak kursi.


Sementara Zia dan Aisyah menemani isteri para pemegang saham tersebut dalam meja yang berbeda.


Eva sibuk berbincang dengan Kanaya, sedangkan Ali memilih berkeliling gedung resepsi.


Pengawal berjaga di mana-mana, termasuk juga beberapa pengawal pribadi keluarga Ali yang juga ada di sana.


Energi hantu terasa kuat sekali di gedung tersebut, membuat Ali cukup terganggu.


"Apa mungkin Kak Zizi juga mengundang para hantu menjadi tamu?"


Gumam Ali.


Ali di luar gedung, di jalan yang terhubung dengan hotel Alpha milik keluarga besarnya, tampak menatap ke atas dan betapa kagetnya Ali, karena begitu banyak hantu melayang masuk ke dalam gedung.


Kak Zizi, apa yang dia pikirkan para hantu juga diundang? Bahkan aku tak akan pernah berpikir mengundang mereka. Batin Ali.


"Tuan Muda Ali, apa yang anda lakukan di sini?"


Ali menoleh dan tampak Maria melayang di belakang Ali.


Ali nyengir dan menunjuk ke arah atas di mana di sana ada lantai tiga sampai lantai lima.


"Apa kak Zizi juga mengundang para hantu?"


Tanya Ali.


Maria melihat ke arah yang ditunjuk Ali, lalu mengangguk.


"Ya Zizi mengundang mereka, terutama yang pernah membantu saat perjalanan ke Merapi."


"Ooh begitu."


Ali mantuk-mantuk.


"Apa mereka menyeramkan?"


Tanya Ali yang jadi penasaran.


Maria terdiam sejenak.


"Ya, seram itu standar, kalau untuk Zizi tidak ada yang seram, tapi untuk Mbak Ning semuanya seram."


Ali yang mendengar tertawa.


"Wajah hancur, kepala tanpa tubuh, atau tubuh tanpa kepala, perempuan yang pakai daster putih rambut panjang, apa itu namanya? Hantu bungkus, aku juga tidak nyaman melihat mereka."


Kata Ali.


"Wah berarti tidak usah tuan Muda Ali ke sana, nanti salah-salah pingsan dan kerasukan."


Ali tertawa lagi.


"Ya... Baiklah."


Ujar Ali pula.


Bersamaan dengan itu, di hotel tampak pelayan yang mengantar pesanan makanan Zizi mendorong kereta dorong penuh makanan.


Zanuba yang sedang melayang keliling hotel Alpha yang dua kali lebih besar dari zombie hotel itu sangat mewah, Zanuba rasanya jadi betah.


Zanuba baru akan iseng ke kamar Zizi saat melihat dua pelayan yang mendorong kereta makanan ke kamar Zizi diikuti hantu berpakaian pelayan juga dengan kepala hampir putus.


Zanuba melayang ke arahnya,


"Hey!"


Zanuba menatap pelayan hantu dengan kepala hampir putus.


"Kamu mau nakutin pelayan itu, apa mau nakutin tamu yang mau diantar makanan?"


Tanya Zanuba.


Pelayan hantu kepala hampir putus itu menatap Zanuba.


"Kau hantu boncel?"


Tanya pelayan hantu.


Dikatai boncel tentu saja Zanuba tak terima, di tabok nya kepala hantu itu sampai lepas dan menggelundung kepintu tepat saat pintu dibuka oleh Zizi.


"Zi kepala."


Kata Zanuba.


Zizi melihat ke bawah, dan melihat ada kepala di bawahnya.


Tubuh pelayan hantu berjalan sempoyongan menembus dua pelayan manusia, yang begitu mereka dilewati hantu itu tiba-tiba bisa melihat Zizi mengambil kepala...


"I...I...I... faaaan... Aaaaaaaaa..."


Dua pelayan manusia itu langsung lari kocar-kacir.


"Ifan, kamu Ifan?"


Tanya Zizi pada kepala yang dipegangnya.


"Iya Nona, aku dulu bekerja di sini."


Zizi meletakkan kepala Ifan di atas tubuh Ifan lagi, tapi bukan Zizi kalau caranya bener, Zizi meletakkannya terbalik.


"Nona... Nona... duniaku terbalik."


Teriak Ifan.


"Ya sabar saja."


Sahut Zizi cuek, lalu menarik kereta makanannya masuk ke dalam kamar.


Zanuba melihat Ifan bukannya menolong, malah cekikikan.


"Aku juga mau makan aaaaah..."


Zanuba melayang meninggalkan Ifan, Zizi masuk kamar dan menutup pintu.


"Pantas perasaanku tidak enak mengikuti Hilman dan Farid, ternyata aku akan sial."


Batin Ifan menyesal.


**------------**