Zizi

Zizi
252. Konslet


Shane menatap Zizi yang diam mematung sejak sepuluh menit yang lalu,


"Kamu, tidak apa-apa kan Zi?"


Tanya Shane hati-hati, takut tiba-tiba Zizi menonjok mukanya.


Zizi yang sejak tadi bengong menatap langit-langit kamar hotel kini mengalihkan pandangannya ke arah Shane.


Otak Zizi saat ini sedang berusaha memahami situasi dan kondisi yang tidak lazim.


Ah entahlah, ia belum sepenuhnya memahami kenapa begitu menikah tiba-tiba harus ada acara seperti tadi.


Zizi membalas tatapan Shane yang lembut, lampu kamar yang sudah kembali dinyalakan membuat Zizi bisa leluasa melihat wajah tampan Shane.


Shane yang lama-lama jadi geli sendiri melihat Zizi seperti ngeheng jadi tertawa.


"Ih, kenapa ketawa?!"


Zizi menabok Shane.


Otaknya mulai bekerja lagi.


Zizi bangkit dari posisinya, melihat tempat tidur sudah acak-acakan membuat otak Zizi acak-acakan lagi.


"Tidak apa-apa, kamu mau mandi? Perlu kubantu?"


Tanya Shane menawarkan diri,


Zizi menggeleng.


"Aku bisa mandi sendiri, kenapa harus dibantu."


Shane tersenyum, lalu mengacak rambut Zizi.


"Jangan bandel lagi, sekarang Zizi akan jadi Ibu."


"Ho?"


Zizi melongo.


"Begitu saja bisa jadi Ibu?"


Zizi pada Shane, membuat Shane tertawa.


"Kalau hanya begitu kenapa harus menikah dulu, itu kan mudah."


Ujar Zizi asal jeplak.


Sudah jelas jika itu terdengar oleh Zia, oleh Nyi Retnoasih dan Eyang Bandapati, pasti Zizi sudah dibungkus dengan kertas roti dan dimasukkan ke dalam microwave.


"Pernikahan adalah untuk melindungi perempuan Zizi, melindungi nama baik, melindungi hak perempuan agar laki-laki bisa bertanggungjawab sepenuhnya padanya, melindungi hak waris keturunan yang dilahirkan perempuan itu."


Zizi berusaha mencerna kalimat yang sulit ditangkap otaknya.


"Itu sebabnya, tidak boleh melakukannya sebelum menikah meskipun itu mudah, karena akan merugikan banyak untuk perempuan,"


"Oh ya, Zizi tidak suka rugi."


Kata Zizi.


Shane mengangguk.


"Itu sebabnya untuk mendapatkan Zizi, aku rela menikah dulu."


Kata Shane yang lantas tertawa lagi karena melihat ekspresi Zizi yang masih seperti anak kecil.


Benar saja Zizi memang selama ini hidup hanya bermain-main saja dan sibuk mengurus hantu.


Ia tak pernah memikirkan hal lain apalagi memikirkan sesuatu yang aneh-aneh.


Zizi anak yang polos, hatinya baik dan tulus, meskipun jahilnya sering membuat hantu saja sampai ingin tobat.


Zizi turun dari tempat tidur, ia merasa gerah dan tubuhnya tidak nyaman, ia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi, Shane menatapnya dari atas tempat tidur hingga akhirnya Zizi masuk ke dalam kamar mandi.


Shane melepas sprei tempat tidur dan menggulungnya, setelah itu ia tampak kemudian berbaring di sana.


Lusa mereka akan ke Jepang, mengunjungi Kakek buyut di sana, Shane berencana akan mengunjungi zombi hotel yang ada di Jepang, yang merupakan kerjasama Papa mertunya dengan tuan Jiro Takashi.


Zombie hotel memang diberikan Zion pada Shane untuk dikelola, nanti jika zombi hotel berhasil dikelola dengan baik, maka Zion akan memberikan bisnis lainnya untuk dikelola Shane juga.


Shane jelas tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Pastinya ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Malam masih cukup panjang untuk sampai ke pagi hari karena jam masih berputar di angka dua dini hari.


Pesta resepsi untuk bangsa lelembut masih berlangsung meriah.


Maria dan Zanuba yang lama-kelamaan pusing berada di tengah hingar bingar pesta akhirnya memilih ngadem duduk berdua di atap gedung yang bersebrangan dengan Alpha hotel.


Kedua mahluk itu sekalian mengawasi kamar Zizi bilamana nanti ada hal-hal buruk terjadi, seperti misal Shane di lempar keluar, atau bahkan Zizi melakukan perlawanan dengan menggunakan Jayapada.


Oh tidak...


Sungguh mengerikan jika itu sampai terjadi.


Yang ada the pandawa tak akan lahir dan tak jadi terbit. Wkwkwkk...


**---------------**