
Zizi selangkah lagi akan memasuki ruangan lemari pakaian kamar Uyut, manakala...
"Heh Zi!"
Tiba-tiba, kepala Maria menembus plafon dan melongok dari atas.
Zizi melompat sampai hampir menghajar kepala Maria dengan stik golf.
"Aunty! Kenapa muncul begitu!!"
Kesal Zizi.
Maria menembus plafon kamar Uyut dan lantas melayang ke arah Zizi.
"Kenapa sih?"
Maria celingak-celinguk bingung.
Zizi menatap tangan Maria yang kini bukan membawa ulekan dan centong sayur, melainkan selembar kulit ular.
"Kulit ular?"
Tanya Zizi pada Maria.
Maria yang semula sedang celingak-celinguk akhirnya kembali menoleh ke arah Zizi.
"Oh iya Zi, ini kulit ular, aku menemukannya di plafon."
Ujar Maria.
Zizi mengerutkan kening.
"Sudah ganti kulit, apa mungkin ada pengawal lama juga?"
Gumam Zizi.
"Mungkin saja bukan pengawal lama, tapi pelayan rumah."
Celetuk Maria.
Zizi memandang Maria.
"Tidak mungkin Mbak Wati."
Kata Zizi.
"Lah siapa juga yang bilang Mbak Wati."
Kata Maria.
Zizi lantas memberikan isyarat pada Maria tengang ada yang mencurigakan di ruangan lemari pakaian sang Uyut.
"Ada siapa?"
Tanya Maria.
"Ya entah, kan Zizi mau masuk kepala Aunty nongol duluan."
Zizi jadi kesal lagi.
Maria cekikikan.
"Sori Zi, dari tadi bolak-balik nembus plafon tidak ada kamu."
Haiiish... Zizi mendesis.
Zizi kemudian berjalan kembali menuju ruangan lemari pakaian, begitu Zizi masuk, lampu di dalam ruangan itu menyala sendiri secara otomatis.
Ruangan yang dipenuhi kemeja, setelan jas, sepatu, dasi, jam tangan hingga tas serta tongkat dan koleksi cincin batu mulia milik Uyutnya itu terlihat rapih.
Zizi semakin masuk ke dalam, memastikan ada mahluk apa di sana.
Aroma khas orangtua yang tadi tercium cukup pekat telah menghilang, kini yang tertinggal hanya aroma wangi parfum mewah untuk ruangan saja.
"Tak ada apa-apa di sini."
Kata Maria.
Zizi terheran-heran, jelas sekali ia tadi merasakan ada sesuatu di sana.
Energinya cukup kuat dan Zizi bisa merasakannya, ditambah pintu ruangan itu terbuka sendiri, jelas itu bukan ulah angin.
"Apa kamu merasa ada ular bersembunyi di sini juga?"
Tanya Maria yang ikut membantu memeriksa setiap sudut ruangan itu.
"Bukan."
Sahut Zizi yang akhirnya memilih duduk di bangku yang untuk memakai sepatu.
"Aroma dan rasa energinya, itu bukan ular."
Kata Zizi.
"Jadi apa? Sosis bakar?"
Tanya Maria sambil nungging mencari dikolong etalase.
Zizi melemparnya dengan salah satu sepatu Kakek.
"Aduh!"
Maria mengaduh dan menoleh ke arah Zizi.
"Kenapa lempar Aunty pakai sepatu?"
Maria mengomel sambil berdiri melayang.
"Lah abis, lagi ngomongin ular malah jadi ngomongin sosis."
Kesal Zizi.
"Ah bilang saja kamu lapar."
Kata Maria yang tahu sekali Zizi lapar karena baru pulang dari London, belum mencicipi sop iga langsung harus ngacir ke sini.
"Delivery order saja Zi, Aunty juga lapar."
Kata Maria.
"Ah malas, pesan chef Rasya saja."
"Jiaaah, lamalah harus ke hotel, katamu mau institusi para pengawal baru lebih dulu."
"Ikh Aunty... Introgasi Auntyyyy... bukan institusi."
Zizi yang sebetulnya bolot juga jadi kesal.
Entah siapa yang lebih bolot diantara keduanya, karena yang jelas mereka sering gantian kumat.
Maria tapi tak peduli, pokoknya menurut Maria, apapun yang dia katakan itu berarti sudah benar.
"Zizi akan minta Chef Rasya masak, lalu dibawa ke sini sama salah satu staf hotel."
**----------------**
Rumah Bogor,
"Apa? Sekarang?"
Tanya Vero pada Daniel yang memberitahu jika semua pengawal baru diminta berkumpul di rumah Kemang.
"Ya sekarang, bersiaplah."
Kata Daniel.
"Lah yang jaga di sini siapa?"
Tanya Vero lagi.
Daniel menggeleng.
"Ini perintah Nona Zizi langsung ke Tuan Dave, jadi cepatlah!"
Daniel bergegas menuju keluar.
Lesti yang mencuri dengar obrolan kedua pengawal itu ngeloyor pergi ke ruang tidurnya.
Vero masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan topi, lantas keluar kamar lagi untuk bergegas menyusul Daniel.
Namun belum lagi Vero sampai pembatas ruangan tengah dan ruangan depan, tiba-tiba terdengar suara teriakan Lesti dari kamarnya.
Vero yang posisinya paling dekat dengan ruang tidur Lesti langsung tampak berbalik dan lari ke arah kamar Lesti.
Vero membuka pintu kamar Lesti dan terlihat Lesti berdiri di atas tempat tidur dengan wajah ketakutan.
"U... U... Ular."
Kata Lesti menunjuk ke bawah meja riasnya.
Vero masuk ke dalam kamar.
Ia ke arah meja rias, dan kini terlihat seekor ular jenis phyton berada di bawah meja rias.
Ular sebesar lengan itu bergerak hendak keluar dari persembunyiannya.
Vero berjongkok, dan dengan santai, ia mengambil ular itu.
Phyton itu melingkarkan tubuhnya pada tangan Vero yang memegangi bagian kepalanya.
Lesti yang melihatnya bergidik ngeri.
"Kenapa tiba-tiba ada ular di kamarku?"
Lesti ketakutan setengah mati, ia terduduk lemas di atas tempat tidur.
Vero tersenyum miring.
"Dia hanya ingin main, santai saja."
Kata Vero.
"Bawa pergi cepat! Aku takut!"
Kata Lesti yang rasanya ingin menjerit.
Vero akhirnya keluar dari kamar Lesti membawa ular Phyton tersebut.
Tampak ia berjalan menjauhi kamar Lesti, saat kemudian ia berpapasan dengan Marthinus.
"Aku mendengar teriakan."
Kata Marthinus yang sengaja keluar dari kamarnya setelah istirahat sebentar karena mual lama berada di pesawat.
"Lesti takut ular."
Kata Vero.
Marthinus melirik ular yang ada di tangan Vero.
Ah bukan, bukan ular Phyton yang menarik perhatian Marthinus, tapi ular tatto yang ada di lengan Vero.
"Kau memilikinya juga, siapa kau?"
Tiba-tiba Marthinus bertanya, suaranya tajam, sama seperti tatapannya yang tajam menghujam.
Vero menatap Marthinus.
Ia terlihat gugup.
Kegugupan Vero malah semakin membuat Marthinus curiga.
Marthinus meraih Phyton pada tangan Vero, dan lantas di cekeknya hingga mati.
Vero terlihat marah.
"Kenapa kau membunuhnya?"
Tanya Vero.
Marthinus tak peduli.
Ia membanting tubuh ular Phyton ke atas lantai, dan tangannya kemudian cepat menarik tangan Vero yang ada tatto ularnya.
Marthinus merobek paksa lengan baju Vero agar bisa melihat tatto ular yang ada di lengan Vero.
"Hey, apa yang kau lakukan!!! Ini pelecehan!!"
Vero jelas melawan, ia berusaha memukul Marthinus, tapi tentu saja tubuhnya yang tinggi besar tak sepadan dengan Vero.
Marthinus mendesak Vero ke dinding, dan menarik tangan yang ada tattonya, sementara tangan satunya lagi ia kunci agar tak bisa apa-apa.
"Lepas kataku!! Lepas!!"
Teriak Vero keras.
Teriakan Vero membuat Zia yang ada di lantai atas bersama Mbak Ning yang menunggui Zia minum obat tergopoh keluar kamar dan turun ke lantai satu, begitu juga para pengawal lain di luar yang langsung masuk ke dalam rumah.
Mereka menatap Marthinus yang tampak mengunci Vero.
"Mister Marthinus, ada apa?"
Tanya Zia.
Marthinus menoleh ke arah Zia.
"Tatto ular, semua yang memiliki tatto ular ini adalah mata-mata."
Kata Marthinus menunjukkan tatto ular di lengan Vero.
Zia terbelalak.
Vero mendesis, lalu...
**-----------**