
Shane melompat ke atas atap hotel, memilih duduk di sana, mencoba menenangkan diri.
Mendengar tak sengaja apa yang dibicarakan Zizi dan Maria membuat Shane lemas tak terkira.
Berat baginya untuk kembali masuk ke dalam kamar Zizi kali ini, jadi ia memilih akan duduk saja di atas atap hotel hingga besok Nona nya itu akan kembali menuju hutan ke dua.
Maria yang menunggu Zizi keluar dari kamar mandi tapi tak juga keluar akhirnya Maria memilih keluar saja dari kamar.
Rasanya ia jadi ikut bersalah telah memaksa Zizi mengutarakan apa yang sebetulnya ia rasakan pada Shane.
Sebetulnya Maria semula ingin menahan diri hingga nanti misi Zizi selesai, tapi Maria ternyata malah tak tahan sendiri.
Maria melayang keluar dari kamar hotel dan menuju atap hotel, dan betapa kagetnya Maria melihat Shane ada di sana juga.
"Shane."
Maria mendekati Shane yang juga terkejut melihat Maria yang tiba-tiba muncul di sana.
"Aunty."
Sapa Shane berusaha terlihat biasa saja.
"Ku pikir kau jalan-jalan ke pantai, ternyata malah duduk di sini."
Kata Maria.
Shane tersenyum.
"Ya tadi hanya sebentar, lalu rasanya duduk di sini lebih menyenangkan.”
Kata Shane.
Maria mengangguk saja, lalu melayang duduk di samping Shane.
keduanya menatap laut dan langit di sana.
"Sepertinya baru akan kembali ke hutan besok pagi, Zizi kelelahan jadi butuh istirahat malam ini, biar sajalah."
Kata Maria.
Shane tersenyum saja.
Maria menoleh pada Shane.
"Kau kembalilah ke kamar Shane, tak ada yang menjaga Zizi, aku ingin duduk di sini hingga nanti tengah malam."
kata Maria.
Shane menoleh pada Maria.
"Pergilah, kasihan jika dia sendiri."
Ujar Maria lagi mengulang.
Shane tertunduk sejenak, setelah itu baru ia akhirnya berdiri dari duduknya.
"Baiklah."
Putus Shane.
Sebetulnya semula ia ingin duduk saja di atap hingga pagi, namun karena Maria ada di sana, Shane memilih pergi saja.
Tentu Shane tak ingin Maria sampai tahu dengan apa yang sedang mengganggu pikiran Shane saat ini.
Ah tidak...
Biarlah Maria dan Zizi tetap tak tahu jika Shane mendengar apa yang keduanya bicarakan. Shane akan menyimpannya sendiri saja.
Zizi keluar dari kamar mandi dan berjalan ke sofa.
Sepi.
Maria pergi entah ke mana. Ia pergi tanpa menunggu Zizi keluar dan tak mengatakan akan ke mana.
Zizi baru akan meraih hp miliknya di atas sofa, saat ia mendengar suara ketukan di luar pintu.
Zizi pun bergegas menuju pintu kamar hotelnya.
Hari sudah cukup malam, siapa yang mengetuk pintu kamar hotel di jam seperti ini. Batin Zizi.
Zizi membuka pintu kamarnya pelahan, dan terlihat anak kecil yang Zizi temui di lift saat mereka tadi naik ke lantai yang sama.
Zizi menatapnya sambil mengerutkan kening.
"Kamu, ada apa?"
Tanya Zizi sambil celingak-celinguk di sepanjang koridor hotel dan tak ada satupun orang, begitu juga orangtua anak itu.
"Kak, aku mau sembunyi di sini."
Anak itu menerobos Zizi dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Heee!!"
Zizi mengejar anak itu dan segera menarik kerah bagian belakangnya.
"Tolong Kaaak, aku mau sembunyi di sini sajaaaa."
Teriaknya.
"Kenapa harus sembunyi? Orangtuamu mana?"
Tanya Zizi.
"Mereka pergi Kak, besok subuh baru akan kembali."
Kata anak kecil itu.
Zizi menatap anak yang berdiri di hadapannya. Terlihat ia tak sedang bohong dan bercerita yang sesungguhnya.
"Boleh kan kak, saya ingin tidur di sini saja, aku takut."
Anak itu menatap dengan tatapan memelas pada Zizi yang akhirnya tak bisa menolak permintaan anak itu.
"Namamu siapa?"
Tanya Zizi pada si anak gembul yang kini terlihat berbinar-binar melihat lebihan menu pesanan zizi yang belum sempat dimakan.
"Ini semua boleh aku makan kak?"
Zizi mendengus.
"Namamu siapa dulu?"
Kesal Zizi.
Anak itu tersenyum pada Zizi.
"Jerry Ka... Namaku Jerry."
**-------------**