Zizi

Zizi
119. Hantu Pembunuh


Dave yang mengantar Ali terlihat menatap Shane.


Pemuda itu nyatanya memang sangat tampan namun juga penuh misteri bagi Dave.


Dave memilih mendahului Tuan Muda Ali untuk menemui Zion.


Dave masuk ke dalam ruang keluarga dan mendapati Zion dan Zia yang terlihat duduk di sana.


"Bang Dave."


Terdengar Mbak Ning menyebut nama Dave karena ia yang pertama melihat kedatangan salah satu pengawal senior yang dimiliki Alpha Centauri.


Zion dan Zia yang mendengar sontak menoleh ke arah Dave yang kini berjalan ke arah mereka dan kemudian membungkuk memberi salam.


"Selamat sore Tuan, Nyonya."


Kata Dave.


Zion mengangguk.


Zia sendiri terlihat tersenyum.


"Saya datang mengantar Tuan Muda Ali."


Dave melapor, yang hanya selang satu detik berikutnya terlihat Ali muncul bersama Zizi.


Zion pun berdiri menyambut kedatangan keponakannya.


Ali menghambur ke arah Zion lalu memeluknya.


"Sehat Ali?"


Tanya Zion.


Zia sendiri yang kepalanya sebetulnya masih berat gara-gara mendengar laporan Maria tentang kelakuan Zizi selama ke Merapi juga akhirnya memaksakan diri untuk berdiri guna menyambut Ali.


"Sehat Paman."


Jawab Ali.


Setelah pelukan Zion terlepas, Ali beralih ke arah Zia dan menyalami Bibinya itu.


Mbak Ning terlihat segera menuju dapur guna meminta Lesti membantunya membuatkan minuman untuk para majikannya.


Zion mengajak bicara Dave lebih dulu ke ruang kerjanya di lantai dua, ada hal yang sepertinya cukup penting.


"Mbak... Mbak Ning."


Zia memanggil Mbak Ning, membuat Mbak Ning kembali tergopoh-gopoh kembali ke ruang keluarga.


"Ya Nyonya, ada apa?"


Tanya Mbak Ning.


"Kamar untuk Ali sudah disiapkan?"


Tanya Zia.


Mbak Ning mengangguk cepat, secepat gerakan ninja.


"Sudah Nya, kamar sebelah Kak Arya, saya siapkan di sana."


Kata Mbak Ning.


Zia mengangguk lalu beralih pada Ali dan Zizi.


"Zizi, antar Ali ke kamarnya."


Kata Zia.


"Oke Ma."


Sahut Zizi yang kemudian langsung mengajak Ali ke lantai dua.


"Kamu ngga bawa baju?"


Tanya Zizi pada Ali yang terlihat hanya menggendong ransel kecil.


"Gampang nanti belanja di sini Kak, malas bawa baju, banyak toko baju inih. Di Alpha Mall juga bisa nanti beli beberapa."


Ujar Ali enteng.


Zizi mantuk-mantuk.


"Iya bener, memang lebih praktis begitu."


Kata Zizi lagi.


Ali mengangguk.


Keduanya beriringan menuju lantai dua di mana kamar Ali telah disiapkan.


"Jadi Kak Zizi juga baru pulang pagi tadi?"


Tanya Ali.


Zizi mengangguk.


"Tadinya rencananya Kak Zizi mau ke Kuala Lumpur setelah tidak terlalu capek, tapi ternyata kamu lebih dulu datang."


Ujar Zizi.


Ali tersenyum sekilas.


Saat mereka kemudian melewati kamar Arya di mana letaknya di tengah kamar Zizi dan kamar yang akan ditempati Ali, terlihat Ali menatap kamar itu.


"Kamar Kakak angkat Zizi, Kak Arya."


Ujar Zizi.


"Oooh yang katanya ikut Paman dan Bibi sejak kecil itu ya Kak? Yang masih saudara dengan Bang Dimas?"


Tanya Ali.


Zizi mengangguk.


Sahut Zizi seraya tersenyum.


Zizi membuka kamar yang ada di samping kamar Kak Arya dan kemudian Ali masuk ke dalam kamar yang luasnya setengahnya rumah tipe 36 di perumahan KPR.


Ali melepaskan ransel dan jaketnya, sementara Zizi melompat ke arah salah satu sofa yang ada di sana.


Ali menyusul duduk di sofa seberang Zizi duduk.


"So' apa yang membawamu datang ke Indonesia mencari Kak Zizi, Al?"


Tanya Zizi.


Ali menghela nafas, ia memandang kakak sepupunya yang kini duduk di seberangnya.


"Kakek tua, mahluk itu seperti kakek tua, dia mengikuti Ali terus Kak."


Ujar Ali.


Zizi celingak-celinguk karena tak ada satupun mahluk yang ia lihat mengikuti Ali.


"Dia melompat keluar begitu mobil ini mendekati pagar rumah, ada energi yang sangat kuat yang terpancar dari rumah ini."


Ujar Ali.


"Kamu ingat sejak kapan ia mengikuti?"


Tanya Zizi.


Ali terdiam sejenak, seolah mencoba mengingat.


Lalu...


"Aku tidak yakin Kak, tetapi yang jelas sudah hampir tiga Minggu ini dia selalu mengikuti ku, ke manapun dia berjalan di belakangku dan aku tahu dia ada di belakang ku setiap hari."


Zizi menatap Ali.


"Mungkin kamu menyelamatkan seseorang, kamu nggak inget Al?"


Tanya Zizi.


Ali pun diam lagi, mencoba mengingat lagi.


**-------------**


Di tempat yang tak jauh dari kos Dewi, di mana terdapat seperti sebuah tanah kosong yang masih ditumbuhi beberapa pohon Mangga dan lainnya, Dimas dan Arya terlihat memasuki tanah kosong tersebut.


Tanah kosong itu bersebelahan dengan komplek pemakaman warga setempat. Area pemakaman yang cukup besar dan padat.


"Bisa jadi Dewi masuk ke tempat ini."


Kata Dimas yang berjalan lebih dulu dari Arya.


Dimas terus melangkah seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari kira-kira di mana keberadaan Dewi atau mayat Dewi.


Hingga tiba-tiba...


Dari arah depan keduanya, melesat seperti mahluk yang terbang sangat cepat menuju ke arah keduanya.


Bang Dimas yang berdiri di depan dan melihat mahluk itu muncul membuat Bang Dimas reflek menghindar.


Namun itu justeru membuat mahluk itu akhirnya justeru menabrak Arya.


Arya yang belum sempat menghindar karena tak tahu dengan apa yang terjadi seketika terpental ke belakang karena terasa ditabrak sesuatu.


"Arya."


Bang Dimas segera mencoba meraih Arya, namun tiba-tiba tubuh Arya terseret begitu saja.


Dimas tentu saja memanggil Arya seraya mengejar.


Hingga kemudian Arya kepalanya terantuk sebuah pohon dan akhirnya Arya tak sadarkan diri.


"Ar."


Dimas menghambur ke arah tubuh Arya yang tergeletak di tanah dan kepalanya terluka.


Bang Dimas segera menghubungi Alpha Centauri hospital untuk segera menjemput Arya yang kini membutuhkan pertolongan secepatnya.


Dimas sambil menunggu bantuan datang terlihat sibuk menolong Arya untuk sedikit mengurangi pendarahan di kepala Arya.


Sementara itu, di atas pohon di mana tepat di atas Dimas dan Arya saat ini berada, terlihat duduk di atas dahan sesosok hantu perempuan dengan wajah yang semuanya hampir tertutup rambut.


Hanya satu matanya saja yang terlihat dan bibirnya menyeringai senang melihat Arya yang sekarat.


"Tak ada yang boleh menemukan jasad Dewi, hahahaha... Rasakan kau gadis jahat."


Kata si hantu itu.


Di depan tanah kosong Dewi yang bisa mendengar suara hantu itu menangis, ia melayang menuju kos nya, menangis sesenggukan.


Senja di langit terlihat telah turun.


Dewi melayang memasuki kamar kos nya menembus dinding.


Setelah sekian hari ia bingung ke mana, kini akhirnya ia memilih ke kos nya.


Apa aku juga harus mengetuk teman-teman yang tinggal satu rumah kos dengannya itu?


Apakah itu akan membantu mayatku untuk bisa segera mendapatkan pertolongan?


Tapi hantu itu...


Dia tak mungkin akan membiarkan mayat Dewi ditemukan.


Dia begitu mendendam, hingga Dewi sudah jadi mayat dan sama-sama jadi hantupun masih saja ingin ia siksa.


Padahal Dewi tak sepenuhnya bersalah. Dewi sudah berulangkali menjelaskan, tapi...


**------------**