
Zizi keluar dari butik dan melihat sebuah minimarket yang tak begitu jauh dari butik.
Dengan langkah cepat karena panas matahari siang ini panas menyengat, Zizi pun melangkah seperti orang akan menagih hutang.
Zizi baru mendorong pintu minimarket untuk masuk ke dalam, otaknya sudah dipenuhi es krim dan juga minuman botol dingin.
Tapi...
"Dasar bodoh! Ngitung yang bener dong! Jadi kasir tidak becus, belanja sama beli tiket dua doang masa mau sembilan ratus ribu!"
Seorang perempuan dengan dandanan menor tampak marah-marah di tempat kasir.
Beberapa teman si pelayan sibuk menenangkan, begitu juga dua orang lain yang mengantri.
Si kasir terlihat tangannya gemetaran,
Zizi yang baru masuk jadi kepo mendekat, matanya menatap perempuan menor yang sudah macam artis kesasar.
Lipstik tebal, bedak tebal, bulu mata palsu, maskara, alis, anting panjang.
Zizi kemudian melihat ke tubuh si perempuan, blus merk menengah, celana Gucci KW, sepatu high heels merk standar.
Zizi geleng-geleng kepala, dan makin geleng-geleng saat melihat tas tangannya yang juga hanya sekelas harga satu jutaan.
Kasir bernama Putri itu kembali menghitung belanjaan perempuan itu dari awal, tangannya gemeteran dan wajahnya pucat.
"Haduuuh, lama."
Perempuan itu emosi lagi.
"Kalau begini caranya minimarket ini lebih baik tutup saja, milih karyawan saja tidak bisa, gadis bodoh, idiot, tidak bisa ngitung ditaruh di kasir."
"Maaf Ka, jangan sebut saya bodoh dan idiot, orang tua saya saja tidak pernah memperlakukan saya seperti itu. Mungkin memang saya orang tidak punya dibanding kaka, tapi bukan berarti saya tidak punya harga diri."
Kata si kasir pada si perempuan yang kini jadi mendelik macam telor rebus.
"Apa kamu bilang!! Berani membantah!"
Perempuan itu malah makin naik pitam, tangannya siap akan menampol wajah si kasir, saat kemudian...
Zizi menangkap tangan itu dan kemudian mendorong dengan kasar si perempuan yang sedang marah-marah.
Si perempuan yang nyaris terjengkang jika saja tak langsung ditolong orang-orang yang ada di belakangnya tampak melotot pada Zizi.
Tampak Zizi menyeringai.
"OKB ya."
Kata Zizi.
Si perempuan itu mendelik.
"Pantas banyak gaya, habis miskin jadi kaya sepertinya membuat anda kaget."
Ujar Zizi dengan senyuman sinis.
Tatapan Zizi mengarah dari ujung kepala sampai ujung kaki si perempuan.
"Baju merk standar, sepatu merk standar, tas juga, celana KW."
Zizi kemudian tertawa.
Zizi lantas melirik ke luar di mana di pelataran tampak mobil yang paling harganya lima ratus jutaan.
"Mobilmu Non?"
Tanya Zizi.
"Apa pedulimu!"
Kesal si perempuan.
"Memang aku tadinya tidak perduli, tapi kamu menyombongkan diri di depan seorang kasir yang hanya salah hitung."
Kata Zizi.
"Memangnya kau siapa! Sok ikut campur urusan orang."
Kata si perempuan.
"Yang jelas jam tanganku saja lebih mahal dari mobilmu, mungkin cukuplah untuk beli dua atau tiga mobil yang sama."
Kata Zizi.
Perempuan itu tertawa, mana ada jam tangan sebegitu mahal, pikirnya.
Ah yah, OKB belum tahu banyak soal barang bermerk yang benar-benar mewah.
Zizi menghela nafas.
"Kalau mau nyombong, belanjanya jangan ke minimarket, kalau mau beli tiket kereta pesan online biar nggak kelihatan jadulnya."
Kata Zizi.
"Lagian nyombong kok nanggung, nyombong tuh disuruh bayar sembilan ratus ribu bayar ya dua juta, habis itu mau marah-marah silahkan. Belum bayar sudah ngomel."
Haiiish... Perempuan itu mendesis kesal.
"Udah sana pergi, belanja di tempat lain saja, OKB!"
Zizi mendorong perempuan itu ke arah pintu keluar.
"Ta... Tapi tiketnya..."
Si kasir tampak panik karena tiket yang masing-masing harganya tiga ratus delapan puluh ribu itu nanti bagaimana nasibnya.
Zizi menoleh ke arah si kasir.
Tampak Zizi mengambil dompetnya, mengambil uang lembaran seratus ribuan sepuluh lembar.
"Nih, aku yang bayar, itu apa aja semua buat kamu bawa pulang aja."
Kata Zizi.
Sementara itu perempuan yang diomeli Zizi tampak marah-marah di dalam mobil.
"Bocah tidak ada akhlak, berani-beraninya dia mempermalukan aku!"
Kata perempuan itu.
"Apa sih?"
Tanya seorang laki-laki yang ada di belakang kemudi, tampaknya ia adalah pasangan si perempuan menor.
"Itu, gadis yang tak tahu sopan santun itu, berani-beraninya dia ngusir aku dan ngatain aku OKB, kamu turun sana! Kasih dia pelajaran."
Kata si perempuan kesal.
Si laki-laki menghela nafas.
"Sudahlah, tidak usah buat masalah."
"Tapi aku tadi sudah pesan tiket, sana cepetan! Nanti isterimu keburu tahu, kita tidak jadi liburan lagi!!"
Kata si perempuan itu tambah kesal.
Si laki-laki baru akan turun dari mobil, manakala Zizi keluar dari minimarket sambil minum air dinginnya dari botol.
"Nah itu anaknya."
Kata Si perempuan.
Laki-laki yang ada di balik kemudi langsung nyaris melompat begitu melihat sosok Zizi yang ditunjuk.
"Kenapa kamu kaget begitu?!"
Marah si perempuan itu pula.
"Lah kamu tidak tahu dia?"
Tanya si laki-laki.
"Tidak usah! Kalau dia anak saudaramu, tetanggamu, temanmu, aku tidak mau peduli."
"Dia anak pemilik Alpha Centauri, mall, apartemen, hotel, perumahan, rumah sakit, dan..."
"Hah? Apa? A.... Anak itu..."
Toweeoeoweeeeeeeng...
Kepala si perempuan keluar burung-burung.
**--------------**
"Aku ingin pulang..."
Nadia menangis tersedu-sedu, ia tampak terduduk di atas tempat tidur yang berukuran sangat besar di salah satu ruangan kastil yang lembab.
Alex mengusap wajah Nadia yang kini basah oleh air mata.
"Bertahanlah sampai aku punya cara untuk kita lepas dari sini."
Kata Alex lirih.
"Kenapa kita berada di sini Lex? Kenapa kamu tak juga mau menceritakannya padaku? Aku ingin tahu... Aku ingin tahu!"
Nadia menarik-narik kerah baju Alex dengan kedua tangan kurusnya.
Alex membisu,
Bagaimana mungkin ia akan mengatakan pada Nadia jika ia dan Natalie serta Attala adalah ular yang harus bersembunyi untuk beberapa waktu.
Sambil menyusun kekuatan lagi, sambil menunggu keluarga Natalie menyelesaikan urusan perusahaan agar mereka bisa kembali ke kota.
Ya...
Kembali ke kota.
Itulah yang diharapkan Alex.
Tapi Attala...
Alex bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukan Attala beberapa hari ini.
Sejak memutuskan tinggal di kastil yang tak akan pernah dikunjungi manusia dan hantu manapun, Attala seringkali menghilang entah ke mana.
Ia seperti sedang memiliki misi yang sengaja ia sembunyikan dari Alex dan Natalie.
Sayangnya, Attala juga sangat cerdik sekaligus picik.
Meskipun ia pergi, seluruh kastil ia pagari agar Alex tak bisa keluar, pun juga tak ada yang bisa masuk ke dalam sana.
"Aku takut Lex."
Kata Nadia.
"Aku tahu, tapi di sini adalah yang paling aman."
Bohong Alex.
"Apa kau sedang diincar pembunuh? Apa ada yang berusaha jahat padamu? Apa ular-ular besar itu Lex? Yang ada di apartemen?"
Tanya Nadia menatap Alex dengan matanya yang berkaca-kaca.
Alex menghela nafas.
Ia bingung harus menjawab apa.
Nadia bolak balik pingsan karena melihat ular, tapi dia tak sadar jika ular yang paling besar adalah yang kini duduk di tempat tidur bersamanya.
**--------------**