
"Jerry? Pantas nyelonong kayak tikus."
Zizi mengacak rambut Jerry, membuat anak kecil itu mengerucutkan bibirnya.
"Jadi saatnya kita makan Kak."
Jerry nyengir lebar dan melompat dengan semangat mendekati meja, ia mencomot iga bakar yang masih tersisa dua potong, Jerry juga menatap kentang goreng dengan mata berbinar-binar.
Zizi menghela nafas sambil kemudian duduk sila di atas sofa, memperhatikan Jerry yang makan dengan lahap.
"Kenapa orangtuamu pergi sampai subuh?"
Tanya Zizi.
Jerry menggeleng.
Zizi mengerutkan kening.
"Setiap sebulan sekali pasti ke sini, trus Papa sama Mama akan pergi sampai subuh."
Kata Jerry.
"Nginap di hotel ini?"
Tanya Zizi.
Jerry menggeleng.
"Kadang nginapnya di hotel yang enggak tingkat, kadang juga yang tingkat tapi nggak sebesar di sini."
Ujar Jerry membuat Zizi penasaran.
Zizi memandangi Jerry yang tampak makan begitu lahap seperti belum makan.
"Kamu belum makan apa? Pelan-pelan saja makannya."
Omel Zizi.
"Jerry belum makan kak dari siang, cuma dibelikan biskuit saja sama Mama."
Mendengarnya Zizi langsung menggelengkan kepalanya.
Jelas ini tidak benar, ada yang tak beres dengan orangtua Jerry, tapi entah apa.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara kaca jendela yang di geser. Zizi menoleh dan tampak Shane masuk ke dalam kamar.
Mereka bertatapan sejenak, namun cepat Shane kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Jerry.
Rasanya tak sanggup menatap wajah gadis itu lebih lama, Shane terlalu takut tak bisa melepaskan perasaannya nanti.
Jerry yang juga menoleh pada Shane tampak tersenyum lebar dengan mulut penuh kecap.
"Suami Kak Zizi."
Jerry tersenyum tanpa dosa, lalu kembali menggigit daging yang menempel pada iga bakarnya.
Shane berjalan menghampiri Jerry dan Zizi.
"Dia mau sembunyi di sini karena orangtuanya akan pulang setelah subuh."
Ujar Zizi.
"Pergi ke mana?"
Tanya Shane seraya duduk di dekat Jerry.
Jerry menggeleng sambil menghabiskan iga bakar di depannya.
Zizi bangkit dari duduknya.
"Zizi tidur sajalah sebentar, kita akan teruskan perjalanan besok pagi saja Kak, biar Jerry ada yang jaga."
Kata Zizi sambil kemudian melangkah menuju tempat tidur.
Shane menatap Zizi yang kini naik ke atas tempat tidur, masuk ke dalam selimut, lalu berbaring membelakangi pandangannya.
Shane akhirnya tertunduk, ia beralih pada Jerry lagi.
"Suami Kak Zizi, boleh Jerry habiskan kentang gorengnya juga?"
Tanya Jerry.
Shane mengangguk.
"Tentu saja, habiskanlah."
Kata Shane.
Jerry menyambut dengan senang.
**------------**
Maria yang lama-kelamaan bosan duduk di atas atap akhirnya memilih melayang lagi tak tentu arah.
Maria tampak melayang ke arah pantai, di mana banyak bebatuan di sana.
Hingga Maria melihat satu pasangan duduk bersimpuh pada batu besar di tumpukan batu-batu tersebut.
Di depan mereka tampak banyak makanan tersaji dengan bunga tujuh rupa yang di letakkan di sekitar makanan tersebut.
Maria yang penasaran semakin mendekati mereka, namun setelah berjarak sekitar tiga meter, Maria seperti menabrak pembatas yang tak terlihat.
Maria terpental dan menatap heran.
Tak lama berselang, sesuatu seperti muncul dari celah bebatuan, bentuknya seperti asap yang lama-lama menjadi sesosok perempuan.
Maria mengerutkan keningnya, mencoba memahami situasi yang kini sedang ia lihat.
Apa ini semacam ritual pemujaan meminta sesuatu pada mahluk gaib atau bagaimana?
Maria kembali melayang ke arah pasangan yang kini bersimpuh dengan khusuk di depan mahluk yang mawujud perempuan cantik menyerupai kanjeng ratu kidul, tapi Maria tahu persis dia bukan ratu kidul yang asli.
Maria kini mencoba mendekati dari arah lain, ia ingin tahu pasangan yang tengah menyembah mahluk jadi-jadian itu.
"Darah anak kecil yang kuminta sudah kuterima, apa yang ingin kalian minta sekarang?"
Terimakasih kanjeng ratu, kami sungguh lega jika kanjeng ratu akhirnya menerima persembahan kami, jika kanjeng ratu menginginkannya lagi, kami siap memberikannya pada anda Kanjeng ratu."
Kata laki-laki yang tengah menyembah itu.
Maria geleng-geleng kepala.
"Ya, tentu saja kalian harus terus mencarikan ku darah anak kecil bila bulan purnama tepat di malam Selasa kliwon seperti saat ini."
Maria mengerutkan kening.
"Tidak masalah kanjeng ratu, banyak anak jalanan yang tak terurus, kami bisa memilih kapan saja."
Haiiish gila!
Maria menggelengkan kepalanya.
Ini tidak bisa dibiarkan. Batin Maria.
Ia berusaha menembus penjagaan mahluk jadi-jadian itu, namun lagi-lagi Maria tak bisa.
"Bodoh!! Manusia bodoh!! Itu bukan ratu kidul!!"
Maria teriak-teriak, namun percuma saja orang-orang itu tak bisa dengar.
Mahluk jadi-jadian itu menoleh ke arah Maria sambil menyeringai licik, Maria menyipitkan matanya, sudah jelas ia adalah siluman serakah yang senang memanfaatkan manusia-manusia yang juga bermental serakah.
Ingin kaya, ingin terkenal, ingin mendapat kedudukan dengan cara instan.
Maria menatap kedua manusia bodoh yang kini terlihat mulai mengangkat wajahnya, dan betapa terkejutnya Maria begitu melihat perempuannya adalah perempuan yang sempat ia lihat di lift bersama Zizi.
Ya, perempuan itu, yang membawa anak kecil yang bisa melihat hantu.
Ah tunggu, jangan-jangan, darah anak kecil yang dimaksud adalah darah anak lucu tadi.
Maria merasa semakin tak ingin tinggal diam, tapi untuk melakukan sesuatu ia tak mampu karena mahluk jadi-jadian itu masih memagari sekitar mereka.
"Sekarang tinggal kau melayaniku malam ini hingga subuh nanti, aku akan masuk ke dalam istrimu."
Terdengar mahluk itu berkata lagi.
Maria bergidik jijik.
Cepat hantu itu melayang menuju kamar Zizi.
Ia harus mengatakan pada Zizi agar ia bisa melakukan sesuatu, menghentikan ritual ajaib itu, karena jika tidak, kelak pasti akan bertambah manusia pemuja macam mereka.
Gubrak!
Maria masuk ke dalam kamar di mana Shane kini duduk di sofa, Jerry tengah di toilet karena kekenyangan akhirnya mulas.
Maria langsung ke arah tempat tidur di mana Zizi sedang tidur.
Haiiish... Zizi sudah tidur.
Maria jadi bingung.
"Ada apa aunty?"
tanya Shane.
"Kau ingat perempuan yang tadi naik lift bersama kita?"
Tanya Maria.
Shane mengangguk.
Ya mana mungkin Shane lupa, perempuan itu menyebut dirinya dan Zizi pengantin baru, dan bahkan sekarang anaknya ada di kamar Zizi dan dia.
"Perempuan itu dan pasangannya tengah dibodohi siluman di bebatuan yang dekat laut, mereka memberikan tumbal, ah pasti anak kecil tadi."
kata Maria heboh.
Tepat saat Maria heboh, pintu kamar mandi terbuka dan terlihat anak kecil yang dimaksud Maria muncul dari sana.
Anak itu memegangi perutnya yang masih terasa mulas.
Ia menatap Shane dan Maria yang menatap ke arahnya, namun belum lagi Maria bicara, anak kecil itu sudah lebih dulu masuk lagi ke kamar mandi dan menutup pintu.
Maria menoleh pada Shane yang nyengir
"Dia baru saja menghabiskan dua iga bakar dan satu piring kentang goreng milik Nona Zizi."
Kata Shane.
"Hah... Jadi, bukan dia korban yang ditumbalkan."
Gumam Maria.
**------------**