Zizi

Zizi
211. Tak Ku Sangka Tak Ku Duga


Marthinus tampak siap menghajar Vero, namun dari beberapa pengawal, tiba-tiba dua di antaranya berubah menjadi ular besar yang langsung menerjang ke arah Marthinus.


Untunglah Marthinus sigap menghindar, Mbak Ning yang berdiri di dekat Zia menjerit sekuat tenaga dan langsung pingsan.


Zia tentu saja bingung melihat Mbak Ning belum apa-apa sudah ambruk ke lantai.


Daniel dan pengawal lain juga jadi bingung, harus menolong Mbak Ning lebih dulu, atau menolong Marthinus menghadapi ular-ular besar itu.


Marthinus melompat ke dinding dan lantas berbalik arah untuk ganti menerjang dua ekor ular besar jelmaan pengawal muda yang selama ini menyusup di antara mereka.


Sementara itu, Zia meminta Daniel menolong Mbak Ning lebih dulu, setelah itu Zia berlari ke arah Marthinus hendak membantu Marthinus.


Melihat Zia berlari ke arah Marthinus, tiba-tiba Vero melesat ke arah Zia, menarik tangannya dan membawa Zia menjauh.


Zia meronta berusaha melepaskan diri dari Vero.


Vero tak peduli.


Ia semakin mencengkram tangan Zia, menariknya ke lantai atas, dan kemudian mendorongnya masuk ke dalam kamar.


"Kau, ternyata aku salah memilihmu! Aku pikir kau bisa dipercaya menjadi pengawal, ternyata..."


Zia geram bukan main.


Matanya merah karena marah.


Zia menatap tajam Vero yang kini berdiri di depannya, dan kemudian mendorong Zia tanpa bicara apapun.


Tampak Zia tubuhnya terjatuh ke atas karpet kamar, Zia hendak bangkit berdiri, namun Vero seolah mendelik ke arah Zia.


"Tetap di tempatmu!!"


Bentak Vero pada Zia.


Suaranya... Suaranya...


Zia mengerutkan kening.


"Kau bodoh atau apa!! Sama sekali tak bisa menggunakan kemampuanmu membedakan mana orang-orang yang bisa dipercaya!!"


Vero tiba-tiba tubuhnya mengambang, pintu kamar tertutup sendiri seperti dibanting.


Zia masih berusaha bangkit, namun angin tiba-tiba seperti berputar di dalam ruangan.


Ruangan kamar Zia semakin lama rasanya semakin panas, Zia meraih tempat tidurnya.


Vero matanya menyala, dan tiba-tiba sinar kemerahan seolah membungkus Vero yang tubuhnya mengambang di udara.


Sinar itu serupa Ular Naga...


Pintu kamar Zia terbuka, Vero yang diliputi cahaya kemerahan berbentuk ular Naga itu melesat keluar dari dalam ruangan Zia.


Zia bangkit dan berusaha mengejar, namun pintu itu tiba-tiba kembali tertutup.


Brak!!!


Zia terlonjak.


Siapa dia sebetulnya...


Vero melayang turun ke lantai satu, di mana kini Marthinus tampak membanting satu ekor ular ke lantai dan kemudian menembak kepala ular itu dengan timah perak yang ia selalu siap.


Sementara itu, ular yang satunya tampak mengamuk dan membuat pengawal-pengawal Alpha Centauri, di mana di sana termasuk Daniel jatuh bergelimpangan dan terluka.


Vero terlihat turun dengan posisi masih mengambang, cahaya kemerahan yang berbentuk Naga itu kemudian menyerang ular yang hendak menerjang Marthinus.


Ular itu dalam sekali sabetan cahaya Naga dari tubuh Vero langsung tampak menggelepar.


Marthinus menatap Vero yang kini terlihat seperti Zizi ketika dulu Marthinus melihatnya bertarung dengan Ruthven dan pasukan Vampire nya.


Mahluk apa dia? Cahaya yang meliputinya berbentuk Naga, dan ini sangat panas. Batin Marthinus.


Dua ular yang merupakan jelmaan penyusup itu kemudian berubah menjadi manusia lagi, sebelum akhirnya, seperti yang lain, mereka juga tiba-tiba menghilang.


Para pengawal Alpha Centauri, termasuk Daniel lantas susah payah berdiri dari posisi mereka tergeletak di lantai.


Mereka muntah darah karena terkena sabetan ular yang sangat besar.


Beberapa barang tampak berantakan dan hancur.


"Siapa kau?"


Tanya Marthinus pada Vero.


Vero kemudian turun ke lantai, cahaya yang meliputinya pelahan menghilang.


Sosok Vero lantas semakin lama menjadi seperti asap.


(Asap ya bukan Asep)


Dan kemudian berubah menjadi seorang perempuan separuh baya dengan rambut yang mulai putih dan memegang tongkat berkepala Naga.


Perempuan itu terkekeh menatap Marthinus.


"Rupanya kau mahluk campuran dari daratan Eropa juga tak mampu mengenaliku."


Perempuan yang ternyata tak lain adalah Bandapati itu terkekeh-kekeh.


"Memangnya siapa kau?"


"Dasar bodoh! Tubuh saja tinggi besar, tapi tak mengenalku."


Bandapati memukulkan tongkatnya ke atas kepala Marthinus.


Tung!!


Bersaman dengan itu, Zia yang akhirnya berhasil keluar dari kamar tampak berlari menuju lantai satu dari anak tangga, dan betapa kagetnya ia, karena di lantai satu ada Nenek Bandapati.


"Nek, Nenek kapan datang?"


Tanya Zia, macam kedatangan Nenek dari kampung saja.


Bandapati begitu mendengar suara Zia, tampak ia langsung menoleh ke arah Zia yang kini menghampiri dari arah belakangnya.


"Kenapa kalian semua begitu bodoh, sampai banyak penyusup masuk pura-pura jadi pengawal?"


Tanya Nenek Bandapati geram.


Zia menghela nafas.


"Energi mereka sama sekali tak bisa dikenali Nek, bahkan Vero saja aku sama sekali tak bisa mengenalinya. Ah' ya, Vero, di mana dia?"


Zia celingak-celinguk mencari keberadaan pengawal yang berani menariknya ke kamar dan membantingnya ke lantai.


"Ehm..."


Nenek Bandapati ber' ehm-ehm.


"Ya Nek, pengawal perempuan itu, kurangajar sekali dia, berani-beraninya dia menarikku ke kamar, membantingku ke lantai dan mengurungku."


Kata Zia berapi-api.


Marthinus tampak berkedip-kedip ke arah Zia, memberikan isyarat tapi sang Nyonya tak menyadari.


Zia terus nyerocos.


"Tenang Nek, mulai sekarang aku akan lebih hati-hati, aku akan pastikan semua pengawal baru yang masuk melalui seleksiku."


Ujar Zia.


"Ah dan yang jelas, tidak akan aku terima orang macam Vero lagi itu, mana ada dulunya dia pertamanya namanya Veri lalu tiba-tiba jadi Vero."


Tambah Zia.


Lama-lama kesal mendengarkan Zia bicara, Nenek Bandapati lantas memukul kepala Zia.


"Aduh Nek, kepalaku, kenapa Nenek pentung?"


Zia protes.


"Aku bahkan akan punya cucu, di mana harga diriku masih dipentung Nenek."


Kata Zia pula.


"Lha salahmu, bicara terus tidak ada berhentinya. Vero, Veri, Vero... Kamu tahu tidak siapa Vero?"


Tanya Nenek Bandapati.


Zia tentu saja menggeleng.


"Ah tapi, tunggu Nek..."


Zia seperti ingat sesuatu yang penting.


Nenek Bandapati menatap cucunya.


"Tadi Vero melayang dan tubuhnya diselimuti cahaya berbentuk ular tangga, eh ular naga."


Kata Zia.


Marthinus pun tampak kedip-kedip lagi macam lampu sen.


"Apa mungkin ada Naga yang jadi budak Paman Jaka Lengleng juga Nek?"


Tanya Zia.


"Haduuuh, dasar bolot!"


Nenek Bandapati gemas sudah.


Ia geleng-geleng kepalanya.


Zia mengerutkan kening karena heran Nenek Bandapati seperti jadi kesal.


Nenek Bandapati terlihat berubah menjadi asap lagi, dan pelahan menjelma sebagai seorang gadis tomboi...


"Hah..."


Zia mundur beberapa langkah saking kagetnya melihat penampakan Nenek Bandapati yang ternyata selama ini pura-pura menjadi Vero.


"Aku sengaja menjaga kalian dari dekat, Karena kalian bodoh, sementara musuh sudah merancang serangan, kalian justeru dengan mudah membuka kesempatan dengan menerima banyak sekali anggota baru yang seleksinya tak sebagus saat dipegang Salim."


Kata Nenek Bandapati.


Zia mengelus dadanya yang rasanya jantungnya nyaris copot.


**------------**