Zizi

Zizi
147. Apakah Ini Akhirnya?


Shane rasanya baru saja memejamkan mata untuk terlelap, manakala ia mendengar seperti suara berisik di sekitar kastil.


Sebagai Vampire, pendengaran dan penglihatan Shane memang tak seperti manusia biasa, ia bisa mendengar bahkan saat Emak-emak berbisik di radius satu kilometer.


Shane pelahan membuka matanya lagi, mencoba mendengarkan suara berisik apa yang kini berada di luar kastil.


Hingga...


"Shane, kemarilah, cepat!!"


Terdengar suara Katerina memanggil Shane.


Shane melihat ke arah rak besar yang seperti rak buku yang juga berguna seperti dinding pembatas.


Katerina berada di sana, melambaikan tangan pada Shane.


Bragkk!!


Dummb...


Terdengar kembali suara berisik yang seperti pintu utama kastil dirobohkan.


Tak lama setelah itu, terdengar lolongan khas suara Lycan tak jauh dari ruangan di mana Shane kini berada.


"Shane, cepatlah, jumlah mereka sangat banyak, kita tak akan mampu melawan!"


Katerina kembali bersuara.


Menyadarkan Shane untuk segera bertindak.


Shane pun cepat berdiri.


Katerina yang sepertinya tak sabar lagi, akhirnya melayang ke arah Shane, menarik tangan Shane dan segera menuju tempat rahasia di dalam kastil itu.


Mereka masuk ke sebuah lorong panjang di balik dinding berupa rak buku.


Rak buku yang saat Katerina dan Shane masuk lantas menutup sendiri sebagaimana dinding itu seolah mengaburkan siapapun jika di sana ada lorong rahasia.


Para Lycan menjebol pintu ruangan di mana Shane tadi berada.


Mereka mengendus aroma Shane dan Katerina yang masih baru.


Mereka yakin jika keduanya belum terlalu jauh.


Para Lycan melolong, seolah memberitahu seluruh pasukan untuk bersiaga.


"Mereka pasti akan segera keluar dari kastil ini, cepat tangkap mereka!"


Kata pemimpin para Lycan.


Shane dan Katerina di lorong rahasia berlari menyusuri lorong panjang yang seolah tak berujung.


"Kita akan ke mana?"


Tanya Shane.


"Jurang."


Sahut Katerina sambil tetap berlari.


"Jurang? Apa kau gila?"


Shane heran bukan kepalang.


"Kau lebih milih dimakan Lycan? Atau jatuh ke jurang?"


Tanya Katerina dengan pertanyaan bodohnya.


Shane jelas saja mendengus.


Pertanyaan macam apa begitu, bahkan orang terkena kanker stadium empat saja masih ingin hidup, ini malah disuruh pilih dimakan Lycan atau masuk jurang.


"Kau pikir itu pertanyaan yang bisa dijawab? Itu sama-sama hasilnya mati."


Shane akhirnya berhenti berlari.


Katerina menoleh pada Shane.


"Kenapa berhenti?"


Tanya Katerina kesal.


"Kita lari menghindar dari kejaran Lycan hanya untuk jatuh ke jurang itu tidak lucu Kate!"


Shane tak kalah kesal.


Katerina mendengus.


"Setidaknya kita tidak dimakan Lycan."


Kata Katerina.


Shane menggelengkan kepalanya.


"Aku lebih baik menghadapi mereka daripada menuruti ide konyolmu."


Shane baru akan berbalik saat tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu di hantam dengan keras.


Lolongan Lycan mulai terdengar dari tempat Shane dan Katerina kini berdiri.


Katerina yang kemudian melihat bayangan Lycan di dinding lorong itu langsung meraih tangan Shane lagi dan menariknya cepat.


"Jangan berdebat dulu, nanti saja debatnya, kita selamatkan diri dulu."


Kata Katerina sambil berlari sekencang ia bisa.


Di belakang mereka, Lycan tampak sudah mulai mengejar Shane dan Katerina, para Lycan itu seperti binatang buas yang kelaparan dan kini melihat mangsa yang harus segera mereka dapatkan.


Para Lycan itu berlari begitu cepat, bahkan di antara mereka ada yang merayap di dinding datang seekor nyamuk lalu ditangkap, hap.


Shane yang berlari di belakang Katerina melihat para Lycan semakin dekat tampak bersiap dengan cakarnya.


Saat kemudian salah satu Lycan itu melompat ke arah Shane, segera Shane menghindar dan memukul Lycan itu.


Shane melepaskan tangannya dari pegangan Katerina.


"Kau pergilah lebih dulu!"


Teriak Shane pada Katerina.


Shane tampak berdiri di tengah lorong menghadang para Lycan yang semakin mendekat.


"No Shane!"


"Pergi!!"


Kata Shane.


Dan Lycan-lycan itu melompat ke arah Shane.


Shane sekuat tenaga menghadapi para Lycan sendirian.


Ia memukul, menendang, melompat dengan gesit, tak sedikit cakaran Lycan mengenai tubuh Shane.


Katerina yang melihat Shane dikeroyok sebetulnya ingin menolong.


Namun begitu melihat Lycan yang mengeroyok Shane ada yang beralih mengejarnya, Katerina pun melarikan diri.


Katerina di kejar tiga Lycan yang ukurannya cukup besar, mereka berlari sangat cepat layaknya serigala.


Katerina sesekali melemparkan belati bermata peraknya ke arah Lycan yang mengejarnya, namun para Lycan itu dengan sigap mampu menghindari serangan Katerina.


Sementara itu, Shane sendiri terus melakukan perlawanan, luluh lantak tubuhnya tapi tak juga ia menyerah kalah.


Shane terus bertarung habis-habisan melawan para Lycan yang jumlahnya terus bertambah.


Dalam kondisi yang rasanya Shane bahkan tak yakin akan keluar hidup-hidup itu, tiba-tiba ia teringat Zizi.


Wajah Zizi, senyumnya, tawanya, cara bicaranya, ah Shane rasanya begitu sedih jika sampai tak bisa bertemu Zizi lagi.


Tapi...


Sraaaak!!


Cakaran itu mengenai tubuh Shane kembali.


Pemuda itupun seketika limbung ke bawah, jatuh tersungkur dengan luka yang tampak memenuhi sekujur tubuhnya.


Shane meringis, sakit luar biasa rasanya, tapi toh Shane berusaha tetap bangkit.


Shane yang baru akan berdiri tiba-tiba diterjang Lycan lagi.


Lycan itu bersiap menggigit Shane, untungnya Shane masih memiliki sedikit tenaga untuk menghindar, meskipun setelah itu ia limbung lagi.


Shane jatuh terjerembab ke dasar lorong yang tergenang air.


Para Lycan bersiap menerjang Shane lagi, mereka merasa jika sudah saatnya mereka berpesta setelah sekian lama mereka hanya bertahan hidup dengan makan binatang kecil di dalam hutan.


Para Lycan itu melolong nyaring, wajah-wajah mereka sumringah karena merasa mendapatkan mangsa hari ini.


Mereka bersiap memakan Shane yang sudah hampir sekarat, saat tiba-tiba...


Daaar!!


Darr!!


Terdengar seperti tembakan sebuah senjata api.


Shane melihat samar-samar dari posisinya, sebuah bayangan melesat ke arah para Lycan yang semula akan menyerang Shane dihajarnya dengan gerakan yang luar biasa cepat.


Sambil mengarahkan senjatanya, bayangan itu membidik beberapa Lycan yang sekali tembak mengenai jantung mereka.


Beberapa Lycan langsung terdengar mengerang kesakitan.


Ada dari mereka terjatuh di atas genangan air di dalam lorong itu tak jauh dari tempat Shane, dan seketika, bayangan itu melompat ke arah mereka lalu menghujamkan tombaknya.


Tubuh-tubuh Lycan yang terkena senjata milik sosok bayangan itu mengejang, disusul suara mereka mengerang dan menjerit manakala tombak yang ujungnya terbuat dari perak ditusukkan tepat ke jantung-jantung mereka.


Beberapa Lycan yang melihat kawanannya bertumbangan akhirnya memilih mundur, bayangan itu menembakkan senjatanya lagi, membuat para Lycan itupun semakin kocar-kacir.


Shane mencoba bangun dari posisinya dengan susah payah, tapi karena kondisinya sudah sangat parah dipenuhi luka cakaran dan juga gigitan di sekujur tubuhnya, akhirnya Shane pun ambruk.


**--------------**