
"Ehehehehe... Ehehehehehe..."
Suara tawa yang khas itu terdengar seiring dengan hantaman keras ke arah Zizi.
Zizi terlempar cukup jauh, namun segera melompat lagi melesat ke tempat di mana Grandong tersungkur dan di sebelahnya kini berdiri seorang Nenek dengan rambut acak-acakan dan berwajah menyeramkan.
"Mak Lampir, tidak usah tahu campur!!"
Bentak Zizi.
Mak Lampir melongo, lalu tertawa lagi...
"Ehehehehe... ehehehehe..."
Haiiish... Zizi mendesis.
Tung!!
Mak Lampir mementung kepala Zizi dengan tongkatnya.
"Ikut campur bodoh! Bukan tahu campur."
Kata Mak Lampir.
"Ah iya itu maksudnya."
"Ehehehehe... Dasar cicit Bandapati, sama-sama bolotnya. Ehehehe..."
Mak Lampir tertawa terus.
Zizi kemudian terlihat mengacungkan pedangnya ke arah Mak Lampir.
"Pergilah Mak, Zizi tidak akan melukai orangtua, ini urusanku dengan si bulu-bulu ini!!"
Kata Zizi.
"Dia anak angkatku, bagaimana bisa aku tak ikut campur, jika kau akan melukainya, maka kau juga harus berhadapan denganku."
Ujar Mak Lampir.
Mak Lampir yang dulunya juga manusia dan sebetulnya adalah seorang putri cantik dari sebuah kerajaan di negeri Champa itu menatap Zizi.
Zizi terlihat siaga dengan pedang Jayapada.
Mak Lampir terlihat mengangkat tongkatnya yang ujungnya terdapat seperti tengkorak.
Ia komat-kamit, bersamaan dengan itu tiba-tiba Shane datang ke arah mereka dan berdiri di tengah Zizi dan Mak Lampir.
"Biar saya yang mengurus Nenek-Nenek ini Nona."
Kata Shane.
Mak Lampir yang melihat Shane berdiri dengan gagah untuk melindungi Zizi terkesiap.
Entah kenapa ia jadi ingat kekasihnya dulu yang membuatnya akhirnya berakhir menjadi seperti sekarang.
Ya...
Pangeran Kumbang, penguasa kegelapan dari Negeri siluman di salah satu hutan di Sumatera, si pulau emas.
Karena mencintai pangeran dari negeri siluman itulah Mak Lampir akhirnya menjadi siluman pula, meski akhirnya Pangeran Kumbang mencampakkan dirinya begitu wujudnya berubah tak lagi cantik sebagaimana saat masih menjadi manusia.
Mak Lampir menatap tajam Shane.
"Apa kalian sepasang kekasih?"
Tanya Mak Lampir pada Shane dan Zizi yang jelas-jelas mereka juga merupakan mahluk yang berbeda.
Shane mengangguk.
"Ya."
Jawab Shane pula.
Zizi juga ikut mantuk-mantuk, entah paham atau tidak dengan yang dimaksud kekasih, karena kadang dia terlalu bolot.
"Ehehehehe... Ehehehehe..."
Mak Lampir tertawa lagi dengan tawanya yang serenyah kerupuk cap dua saudara.
"Ternyata di jaman sekarang masih ada kekasih berbeda alam."
Mak Lampir terkekeh lagi.
"Kami satu alam, hanya beda jenis."
Kata Shane.
"Ooh... kamu dari jenis apa? Bukan binatang, bukan juga tumbuh-tumbuhan."
Kata Mak Lampir.
"Vampire."
Sahut Shane.
"Vampire? Wah nama kita mirip, jangan-jangan kita jodoh, ehehehehehe... ehehehehe..."
Mak Lampir ngarep berondong.
Zizi jadi kesal.
"Awas Kak Seng, Zizi saja."
Zizi menarik Shane menjauh, lalu Zizi yang ganti di depan.
"Sudahlah Mak, jangan bicara terus, Zizi harus segera pulang!!"
"Ya sudah sana pulang, kamu yang di sini terus, Mak mah emang di sini tempat tinggalnya."
Mak Lampir akhirnya tak jadi menyerang Zizi.
Zizi jadi heran.
Mak Lampir malah berbalik berjalan ke arah Grandong lagi.
Kata Zizi kesal.
Dia sudah mode on malah Mak Lampir tidak jadi.
"Aku jadi malas setelah melihat kalian."
Ujar Mak Lampir.
Jiaaaah...
"Mak, jangan nostalgila Mak."
Kata Zizi.
"Sudahlah, aku benar-benar jadi badmood."
Sahut Mak Lampir yang kemudian memanggil bala siluman bawahannya untuk segera membawa Grandong pergi.
"Pergilah, aku malas bertarung, kapan-kapan saja aku akan menjajal kesaktian Jayapada. Aku malas nanti di tegur Eyang Sapujagad juga."
Kata Mak Lampir.
"Lha gimana sih, malah nggak jadi gelut."
Zizi kecewa.
Di sekitar Mak Lampir tiba-tiba dipenuhi asap putih, dan dalam sekejap ia pun menghilang.
"Ikh."
Zizi manyun.
"Nona."
Panggil Shane di belakang Zizi.
Zizi menoleh.
"Raja Dalu sudah bersama Aunty dan Minmin, kita pergi saja sekarang."
Kata Shane.
"Ah yah, kita harus kembali ke hutan ke lima, karena Bunga Petak ada di sana."
Kata Zizi.
Shane mengangguk.
Jayapada kembali menghilang secara gaib, Zizi melanjutkan langkahnya bersama Shane.
Sesekali ia masih mencoba menoleh ke tempat menghilangnya Mak Lampir.
Siluman aneh, kirain mau ngajak duel mati-matian, ternyata malah pergi tak tahu ke mana. Batin Zizi.
Tapi...
Tanpa Zizi sadari, Mak Lampir sejatinya masih berada di satu tempat yang bisa mengawasi Zizi dan Shane.
Matanya berkaca-kaca, hatinya begitu hancur minah, serasa seperti kacang goreng diblender hingga jadi bumbu pecel.
Ya, melihat pasangan muda itu, Shane si vampire dan Zizi seorang gadis manusia bisa bersama-sama, begitu melukai hatinya.
Luka yang diakibatkan dari mengingat kisah tragisnya dengan sang Pangeran Kumbang, siluman harimau.
Saat ia masih cantik sebagai manusia, saat itu pangeran begitu mencintainya. Sayangnya cinta mereka tak mendapat restu, akhirnya Mak Lampir yang masih menjadi seorang putri belajar kesaktian pada seorang Guru pemuja Batara Kala.
Ia pun bisa mengembara di dunia siluman untuk bersatu dengan pangeran Kumbang, namun sayangnya naas Pangeran Kumbang tewas bertempur dengan sesama siluman.
Namun, cinta Mak Lampir nyatanya begitu besar. Iapun meminta pertolongan kepada sang Guru agar bisa membangkitkan lagi pangeran kumbang, meskipun dengan syarat Mak Lampir kehilangan kecantikan nya.
Singkat cerita, Mak Lampir menjadi buruk rupa dan berubah menjadi Nenek-nenek, sementara pangeran kumbang yang berhasil dihidupkan lagi justru meninggalkannya.
Jadilah Mak Lampir berakhir dalam kesendirian lalu menjadi penunggu Gunung Merapi.
Mak Lampir menatap Zizi dan Shane yang terlihat begitu harmonis lagi, matanya mulai basah, berandai-andai cintanya bisa seindah mereka.
Ah nyatanya, keluarga Bandapati selalu beruntung dalam masalah percintaan.
Bandapati bisa menikahi seorang pertapa dan mendapatkan anak Retnoasih, lalu Retnoasih menikah dengan Aji Manggala, seorang ksatria keturunan dari Galuh Purba melahirkan anak Nyi Pramastri, lalu kini seribu tahun berlalu, keturunan mereka kembali mengulang kisah cinta yang sama.
Mak Lampir mengusap air matanya.
Sedangkan Zizi dan Shane yang tak tahu sedang membuat Mak Lampir terkenang-kenang masa mudanya terlihat sudah mendekati perbatasan.
Tampak di sana Raja Dalu memberikan salam penghormatan kepada Zizi.
Zizi cepat meminta Raja Dalu berdiri saja.
"Jangan begitu pada Zizi, nanti Zizi dimarahi Mama."
Kata Zizi.
Ya, Zia selalu mengajarkan Zizi agar tidak boleh menerima penghormatan berlebihan dari siapapun, karena itu akan membuat hati Zizi menjadi kotor penuh kesombongan.
Raja Dalu bangkit berdiri, di sebelahnya Maria dan Mintul menjaga Raja Dalu.
"Kami akan mengawal anda hingga sampai ke Tanah Dalu kembali dengan selamat Raja."
Kata Zizi.
"Terimakasih Nona, sungguh saya tidak akan melupakan hari ini."
Kata Raja Dalu.
Zizi nyengir.
"Terimakasihnya nanti saja Raja, kalau isteri anda sudah bisa dibebaskan juga dari Ceremai, dan kalian sudah sampai di Tanah Dalu lagi dengan selamat dan berkumpul kembali dengan Putri Arum Dalu."
Ujar Zizi.
**------------**