Zizi

Zizi
184. Andromeda


"Kau masih ingat seperti apa wajahnya?"


Tanya Zizi.


Hantu pelayan itu mengangguk.


"Baiklah, kita panggil ustad sholeh pati melukis, kamu yang kasih tahu."


Kata Zizi serius.


Maria menggelengkan kepalanya.


"Zi, ini bukan acara mister Tukul jalan-jalan, lagian ustad sholeh pati tidak ikut."


Kata Maria.


Ah anak asuhnya ini kadang antara bolot dan gendeng di mix.


"Oh iya, kalau begitu Zizi saja yang gambar."


"Memangnya kamu bisa?"


Maria jelas kurang yakin.


"Hmm Aunty, jangan suka melupakan bakat Zizi, apa Aunty lupa kalau sejak kecil Zizi hobi melukis. Berapa puluh hantu yang sudah Zizi lukis saat masih kecil."


Ujar Zizi.


Maria mengingat-ingat masa lalu.


Ah iya juga, memang Zizi waktu kecil suka sekali menggambar dan melukis, terutama menggambar hantu yang dia lihat dan terasa lucu untuknya.


Baiklah.


Zizi mengeluarkan hp nya yang super canggih.


"Yuk cus, katakan."


Kata Zizi pada hantu pelayan.


Zizi harap, dengan dia menggambar sosok perempuan keturunan ular yang dimaksud, nantinya akan bisa jadi clue kedepannya.


Hantu pelayan bersiap, Zizi juga.


Lalu...


"Perempuan itu matanya bulat, dengan bulu mata lentik, hidung bangir seperti milik gadis-gadis Perancis, bibir tak terlalu tipis juga tak pula terlalu tebal, rambut panjang hitam pekat, kulit putih seperti pualam, leher jenjang. tubuh tinggi semampai, memakai gaun sepanjang lutut berwarna putih dengan tas tangan berwarna putih mutiara yang senada dengan warna sepatu dan antingnya."


Hantu pelayan itu sejenak menghentikan kalimatnya, Zizi menunggu kelanjutan hantu pelayan itu bicara lagi.


"Bicaranya memakai bahasa Inggris fasih, tapi nadanya persis seperti kalian, saya yakin dia dari wilayah kalian juga. Ah tunggu..."


Hantu pelayan itu seperti mengingat sesuatu.


"Apa?"


Zizi tak sabar.


"Andromeda, dia sempat menyebutkan kata Andromeda."


Kata hantu pelayan.


"Andromeda?"


Zizi dan Maria kembali saling berpandangan.


Hanya sekian detik, saat kemudian Maria bertanya pada Zizi.


"Coba gambarmu Zi, siapa tahu aku pernah lihat atau ketemu tidak sengaja di sekitar kita."


Kata Maria.


Zizi menunjukkan gambarnya di layar hpnya, dan...


Jiaaaaah...


Maria dan hantu pelayan yang ikut melongok langsung tepuk jidat.


"Ini mah gambar Sailor Mars."


Kata Maria geleng-geleng kepala.


Zizi nyengir.


"Ya pokoknya nanti cari yang mirip."


Ujar Zizi.


"Mana ada yang perempuan mirip gambarmu ini, yang ada kamu harus masuk dunia anime."


Kesal Maria.


"Ah Aunty cerewet, udah lanjutin belanjanya, Zizi mau ke tempat Mama nih."


Kata Zizi akhirnya.


Maria pun langsung menarik hantu pelayan karena ia akan memilih gaun lagi.


Zizi yang malas muter-muter lagi, akhirnya memilih duduk di sofa yang ada di butik itu, ia duduk di sana sambil main hp yang jelas saja tak terkonek dengan internet.


Zizi walhasil tetris saja sambil menunggu Maria selesai belanja.


Hmm...


Perempuan keturunan ular.


Siapa dia?


Lalu...


Andromeda.


Siapa maksudnya?


Apa itu merk mentega?


Atau merk mobil?


Atau...


Zizi tiba-tiba ingat hotel Papanya.


Zombie hotel berdiri berseberangan dengan sebuah apartemen mewah, yang namanya Zizi ingat adalah Andromeda Apartemen.


Apartemen yang konon saat ini bersaing ketat dengan Alpha Apartemen dari segi fasilitas dan sebagainya itu apa mungkin ada hubungannya?


Ah...


Papa...


Apakah Zizi harus mengatakannya pada Papa dan Mama juga?


Bisa jadi, memang semuanya saling berkaitan bukan?


Ya, siapa tahu...


Batin Zizi.


**---------------**


Jakarta,


Zion berada di balik meja kerjanya, ia tampak menatap layar laptopnya dengan serius.


Ada banyak email masuk dan kepalanya macam akan pecah melihat beberapa di antaranya tentang pemutusan kerjasama secara sepihak dari beberapa perusahaan yang biasa menjadi relasi perusahaan Zion, bahkan ada beberapanya pula yang memiliki saham cukup besar di Alpha Centauri.


Dalam rentan waktu hampir dua puluh tahun Zion aktif mengurus perusahaan, baru kali ini rasanya Alpha diguncang sedemikian dahsyat.


Zion tampak sangat gelisah, ia khawatir Alpha akan jatuh dan ia merasa tak becus mengurus semuanya seorang diri.


Entah apa yang terjadi sebetulnya, satu persatu koleganya seolah meninggalkan Zion.


Jika ini dibiarkan terus terjadi, bisa-bisa satu demi satu bisnis Alpha juga akan jatuh satu demi satu juga.


Zion merasa kini bebannya sangat berat.


Ribuan pegawai yang bekerja di bawah naungan Alpha seakan berada di depan mata Zion.


Mereka yang masih sendiri namun jadi tulang punggung, mereka yang masih sendiri bekerja sambil membiayai diri sendiri kuliah untuk mengejar cita-cita.


Mereka yang telah berkeluarga menanggung kebutuhan anak isteri, atau isteri yang bekerja untuk membantu perekonomian suami demi masa depan anak-anak mereka.


Belum lagi Zion juga memikirkan anak-anak di panti yang ada pada yayasan Alpha Centauri, atau orang yang hidup di panti jompo yang tak terurus oleh keluarga mereka, belum lagi anak-anak kurang mampu yang sekolah dibiayai oleh Alpha Centauri.


Alpha Hospital, juga tak luput dari pemikiran Zion. Di mana di sana, mereka memberikan fasilitas para dokter muda untuk mengabdi dan tetap diberikan imbalan yang layak.


Ah sungguh, Zion tak ingin semuanya nantinya harus dikorbankan, Zion tak sanggup rasanya melepas semuanya.


Jika pun kekayaan yang ia miliki seandainya Alpha bangkrut masih cukup untuk hidup sampai cucunya Zizi, tapi tetap saja Zion tak bisa egois.


Ada ribuan manusia yang kini harus ia perjuangkan, dan itu jauh lebih penting dari sekedar kesenangannya.


Tentu saja, pemimpin bukanlah seseorang yang berada di puncak kejayaan lalu bersenang-senang saja, lebih dari itu, seorang pemimpin haruslah lebih pusing manakala terjadi hantaman pada apapun yang ia pimpin.


Zion terlihat masih mengurut kening, manakala sebuah ketukan di depan pintu ruangannya terdengar.


"Masuk."


Kata Zion, yang sudah jelas itu adalah Pak Rizal sekretarisnya.


Dan benar saja, Pak Rizal tampak membuka pintu ruangan Zion dan masuk ke dalam.


Ia membawa tumpukan berkas yang untuk nantinya harus Zion teliti sebelum di tandatangani.


Pak Rizal meletakkan berkas-berkas itu di atas meja depan Zion, setelah itu ia juga meletakan satu kertas undangan dengan pita emas.


Undangan mewah yang cantik dan elegan.


"Andromeda Putra Corporation, mereka akan mengadakan pesta pernikahan salah satu pewarisnya."


Kata Pak Rizal.


Zion menatap undangan itu, membacanya dengan hati-hati.


Ukiran nama Alexander Sapta Wijaya terukir dengan tinta emas yang sudah menjelaskan bagaimana mewahnya pesta yang akan digelar.


Zion lalu menatap nama calon mempelai putri di undangan itu pula.


"Nadia Velia Brown."


Zion membaca nama calon mempelai putri.


Ia merasa tak asing dengan nama itu.


Nadia Velia?


Di mana ia pernah dengar nama itu?


**--------------**