
Zizi keluar dari kamar Arya, sementara Arya masih duduk menatap semua barang yang telah ia kemasi.
Zizi menutup pintu kamar Arya sambil memandang Arya dari sana sebentar, sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu.
Sebagai gadis yang tak biasa, sulit bagi Zizi menjelaskan semua hal yang ia pikirkan dan rasakan.
Takdirnya berbeda dengan gadis di luar sana, yang bisa menikmati hidup mereka dengan tanpa gangguan apapun.
Sekolah, punya banyak teman, jalan-jalan, berlibur, ke salon, shopping, dan lain sebagainya.
Tidak, Zizi tak bisa begitu.
Mungkin Zizi pernah mencoba seperti itu, punya teman dan bersikap seolah sama seperti manusia lainnya.
Tapi...
Yang terjadi adalah teman-temannya harus berhadapan dengan hal mengerikan juga.
Zizi sudah tak bisa lagi membiarkan itu terjadi, hidupnya dikelilingi bahaya, dikelilingi banyak mahluk yang bisa kapan saja melukainya dan orang-orang di sekelilingnya.
Sudah cukup, Zizi merasa tak perlu lagi ada korban manusia karena dekat dengannya, terlebih jika manusia itu adalah kak Arya.
Zizi berjalan gontai menuju kamarnya sendiri, Zizi baru akan membuka handle kamarnya, saat tiba-tiba Papanya muncul dari tangga dan melihat ke arahnya.
"Kamu di rumah?"
Zizi yang ditanya Papanya tampak mengangguk,
"Kebetulan Zi, kemari sebentar."
Kata Papa.
Zizi menurut, meski sebetulnya tubuhnya menuntut ingin istirahat, tapi karena Paparan sepertinya akan membicarakan hal penting, maka Zizi mengalah menuruti perintah Papa dulu.
Tampak sang Papa yang memakai kaos oblong dan celana pendek itu berjalan ke arah sofa di lantai atas, Zizi mengikuti.
"Papa dari tempat Uyut? Kata Paman Dimas, Uyut dibawa ke rumah lain di dekat Bandara."
Tanya Zizi pada Papanya yang kini sudah duduk.
Zizi menyusul duduk.
Tampak Papa menganggukkan kepalanya.
"Uyut sudah dijemput Paman Ziyan, dia dibawa ke Jepang, nanti setelah acara pernikahan pergilah mengunjunginya, Ali akan pindah sekolah di Jepang."
Kata Papa.
"Ali? Pindah ke Jepang?"
Zizi kaget.
"Ya, untuk menemani Uyut, dan mempersiapkan diri untuk nantinya bisa masuk universitas terbaik di sana juga."
Jelas Papa.
"Ah yah, Ali sangat menyukai belajar, Zizi lupa."
Kata Zizi.
Papa mengulum senyum.
Zizi duduk di sofa yang sama dengan Papanya, kakinya naik semua dalam posisi sila sambil memangku bantal sofa.
"Kamu terlihat sangat lelah, setelah ini nanti istirahatlah."
Kata Papa yang melihat Zizi tampak kelelahan.
Zizi mengangguk.
"Ada apa Pa?"
Tanya Zizi.
Papa menghela nafasnya sejenak, lalu...
"Rumah Kemang, nanti kamu tinggalah di sana setelah menikah."
Ujar Papa.
"Dengan uyut?"
Tanya Zizi.
Papa menggeleng.
"Uyut sudah memutuskan untuk tinggal sampai akhir hayatnya di Jepang saja. Ia tak akan kembali ke Indonesia lagi."
Zizi tampak membulatkan matanya.
"Kenapa?"
Tanya Zizi.
Ah pasti Uyut sangat trauma dengan apa yang baru ia alami. Batin Zizi.
Papa akhirnya menceritakan semua yang disampaikan sang Kakek padanya.
Terutama kejadian ular besar yang tiba-tiba ada di kamarnya, lalu seekor ular keemasan muncul untuk menyelamatkannya.
Papa tak lupa menceritakan apa yang pernah dialami Kakeknya setelah tak lama Nenek meninggal.
"Jadi, ular itu?"
Zizi terperangah tak percaya.
Zizi lantas ingat ruangan lemari baju di kamar Uyut nya.
Ya...
Di sana, yang Zizi dan Maria sempat mencoba mencari keberadaan ular karena mengira ada musuh bersembunyi di sana.
"Tapi, kita belum tahu itu benar atau tidak Zi."
Kata Papa.
"Jika Uyut yang cerita berarti benar Pa, kan uyut tidak mungkin membohongi kita."
Papa menggeleng.
"Bukan itu, maksudnya ular bersisik emas itu, dia mengaku Ibu dari Uyut, bisa jadi ia berbohong, maka..."
"Tidak."
Tiba-tiba terdengar suara Mama muncul dari belakang sofa di mana Zizi dan Papanya duduk berbincang.
Zizi dan Papanya langsung menoleh ke arah belakang mereka, di mana tampak Mama dengan wajah pucat kini berjalan ke arah mereka.
"Kau sakit? kenapa begitu pucat."
Papa begitu khawatir melihat isterinya pucat pasi.
Mama menggeleng.
Tangannya meraih tangan sang suami dan menggenggamnya dengan lembut.
"Jangan percaya pada ular itu, jangan, kita harus belajar dari masa lalu, Gendis Arum dan Paman Jaka Lengleng, kita pernah merasa mereka baik bukan?"
Mama menatap Papa dan Zizi bergantian.
Zizi mengangguk.
"Zizi tahu Ma, Zizi tak mudah percaya pada silukman, tenang saja."
Kata Zizi.
Mama mengangguk dan tersenyum lega.
"Tak usah menemuinya Zi, jika tinggal di rumah Kemang, tutup saja kamar Uyut, kunci dan tak perlu ada yang masuk."
Kata Mama.
Zizi mengangguk.
Mama lantas menatap suaminya yang duduk di sampingnya.
"Aku..."
Mama tiba-tiba berlinang air mata.
Zizi dan Papanya saling pandang karena bingung melihat Mama tiba-tiba menangis.
"Ada apa sayang?"
Tanya Papa.
"Nadia... Betapa malang dia Pa... Aku sangat menyesal tidak bisa menjaganya dengan baik."
Mama menangis tersedu-sedu, dadanya sejak tadi rasanya begitu sesak karena rasa sedih akibat penyesalan yang teramat dalam.
Papa meraih isterinya untuk kemudian dipeluknya dengan erat.
"Kita akan mencarinya, kita akan cari dia sampai ketemu dan menyelamatkan nya."
Kata Papa.
"Dia akan melahirkan anak ular."
Ujar Zizi.
Mama dan Papanya menatap Zizi.
"Dia sedang hamil, dia disembunyikan Alex."
Tambah Zizi lagi.
Mama terlihat terperangah tak percaya.
"Ha... Hamil?"
Mama menatap Zizi seolah berharap apa yang ia dengar adalah salah.
Tapi Zizi justeru mengangguk.
"Nadia hamil sebelum menikah, anak Alex, keturunan Paman Jaka Lengleng. Percampuran darah yang mereka inginkan, agar seperti Zizi, agar bisa memiliki kekuatan memegang Jayapada."
"Ba... Bagaimana kamu tahu?"
Tanya Mama...
Zizi menghela nafas,
"Eyang Bandapati yang bilang, sebelum Zizi menyerang mereka, apartemen Andromeda sudah dipenuhi energi kegelapan. Ratusan siluman berjaga di sana, mengusir banyak sekali hantu dari sana."
Mama dan papa diam.
"Kata Eyang, itu karena Nadia yang tinggal di sana, ia sedang hamil dan harus dijaga."
Mendengarnya Mama tampak begitu syok.
"Zizi mengobrak abrik Andromeda karena mereka menyusupkan banyak sekali ular di tengah kita. Pelayan di rumah Uyut, Zizi membantainya di hotel."
"Siapa dia Zi? Kakek juga cerita ular yang hampir mencelakainya berubah menjadi seorang pelayan, tapi Kakek tidak melihat wajahnya."
Kata Papa.
"Erna."
Sahut Zizi.
"Hah? Erna?"
Papa dan Mama nyaris bersamaan.
Tentu saja mereka tak menyangka sama sekali, Erna terlihat begitu lugu dan pendiam, datang dari kampung yang sangat jauh, yang dibawa oleh agency yang juga sudah sering dimintai tolong oleh perusahaan maupun para petinggi di perusahaan Alpha.
"Lalu di mana Nadia sekarang Zi?"
Tanya Mama.
Zizi menggeleng.
"Entahlah, ia berada di alam silukman, Aunty Maria sudah berusaha mengejar tapi tidak bisa. Alex mendorongnya masuk ke sebuah pohon besar yang pintunya dijaga oleh kekuatan yang cukup besar."
"Kenapa kamu tidak hancurkan saja pintunya dengan Jayapada dan selamatkan Nadia?"
Mama malah jadi seperti kesal.
Zizi menghela nafas,
"Zizi akan melakukannya, tapi kata Nenek Retnoasih semua sudah takdir, mau bagaimanapun Zizi ngotot membawa Nadia, ia akan sudah ditetapkan menjadi Ibu dari anak-anak ular."
"Tapi bagaimana jika nantinya akhirnya kalian akan berhadapan sebagai musuh? Mama tidak sanggup membayangkannya..."
Lirih Mama.
Zizi menatap Mama dan Papanya.
"Jika Nadia menjadi jahat, Zizi akan membunuhnya."
**-----------**