Zizi

Zizi
135. Dengarkan Aunty!


Shane sudah duduk di dalam pesawat. Ia tampak duduk di dekat jendela, menatap keluar dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


Sebetulnya Shane bukannya tega dan jahat meninggalkan Zizi tanpa pamit, namun bagi Shane, berpamitan akan membuatnya jauh lebih sulit untuk pergi, pun juga pastinya Zizi akan sulit melepaskan Shane.


Belum lagi jika Zizi nanti sampai memaksa minta ikut, pastinya Shane tak akan sanggup menolak Zizi yang setiap ada keinginan akan punya banyak cara untuk memaksa.


Shane mengalihkan pandangan matanya, ia berusaha membulatkan tekad sebulat-bulatnya, bahkan jauh lebih bulat dari kedua tangan Doraemon.


Pesawat mulai akan segera lepas landas, pramugari yang cantik jelita sedang sibuk bicara di depan.


"Saya akan kembali Nona, tunggulah, saya akan tepati janji saya pada Nona dan Tuan Zion."


Lirih Shane.


Wuuuuzzz...


Ciiiiiiiiiiiiit...


Mobil Zizi berhenti di depan bandara.


Zizi langsung turun dari mobil dan lari secepat ia mampu.


Melompat dan melesat bagai mengejar hantu.


"Kak Seeeeeeeng..."


"Kak Seeeeeeeng..."


Zizi berlari seperti orang gila memanggil Shane begitu turun dari mobil, menerobos orang-orang banyak yang ada di Bandara.


Pesawat tujuan London telah terbang, Zizi menatap pesawat itu mengangkasa.


Satpam yang berusaha menghalangi bahkan sampai terpental ke belakang, karena Zizi tanpa sadar mengeluarkan kekuatan Jayapada dalam dirinya.


Banyak orang yang dilewati Zizi juga mulai terkena imbas juga, mereka seperti terdorong ke belakang dan jatuh, membuat suasana di Bandara jadi kacau.


Zizi celingak-celinguk, ia akan meringsek lebih ke dalam, namun petugas Bandara yang jumlahnya bertambah banyak langsung mengamankan.


"Lepas, lepasin Zizi... Lepaaaaaaas!"


Teriak Zizi membuat semua kembali terpental.


"Nona... Nona sadarlah, ini Bandara."


Daniel dan beberapa pengawal lain yang menyusul Zizi berlarian menuju Zizi kini terlihat sangat panik mencari sosok Shane.


"Kak Seeeeng... Kenapa tinggalin Zizi."


Zizi akhirnya menangis, ia sungguh-sungguh tak bisa menahan air matanya.


Zizi tak tahu salahnya di mana hingga Shane pergi.


Zizi tak tahu apa masalahnya kenapa Shane pergi.


Zizi juga benar-benar tak bisa mengerti bagaimana bisa Shane tega pergi.


Hingga...


Dalam kekalutannya yang luar biasa, tiba-tiba...


"Zizi..."


Sebuah panggilan yang Zizi tentu saja tak asing terdengar dari belakang.


Zizi pun menoleh, dan tampak Kak Arya yang berjalan bersama Ali kini mendekat ke arah Zizi.


Maria juga melayang bersama Ali dan Arya.


Maria yang melihat Zizi menangis sampai terkejut, karena ini tentu jarang sekali terjadi pada Zizi.


Maria melayang menghampiri Zizi dan meraih Zizi untuk memeluknya dengan erat.


"Dia pasti akan kembali Zizi, tidak usah nangis."


Ujar Maria seraya merenggangkan pelukannya.


Zizi menatap Maria.


Curiga...


"Aunty tahu sesuatu bukan?"


Tanya Zizi.


Maria tentu saja langsung salah tingkah.


Zizi semakin tajam menatap Maria.


Maria yang takut energi Jayapada keluar sepenuhnya dari Zizi akhirnya segera menyerah.


"Ya... Ya... Baiklah, Aunty akan ceritakan, tapi nanti kalau sudah di rumah, kita sebaiknya pulang Zizi, kau menjadi pusat perhatian."


Ujar Maria.


"Ceritakan di sini, Zizi akan menyusul Kak Seng sekarang juga."


Kata Zizi.


"Tapi Kak, penerbangan ke London sudah..."


"Aku akan menyusul kak Seng bagaimanapun caranya, sekalipun dengan memaksa Kuntilanak membawaku terbang dari Indonesia ke London."


Kata Zizi memutus kalimat Ali.


Ali menghela nafas.


"Zizi, kita pulang dulu, ayo Kak Arya yang akan antar."


Kata Arya.


Pemuda itu mengulurkan tangannya ke arah Zizi, namun tanpa di duga Zizi menampiknya meski dengan pelan.


Ali yang tak mau ikut campur urusan Kakak sepupunya dengan dua pemuda yang bucin padanya memilih diam dan mencoba mengawasi sekeliling.


"Kak Seng, kamu mengganggunya kan Kak?"


Tanya Zizi pada Arya yang langsung mencelos ditanya Zizi begitu.


"Apa yang Kak Arya katakan pada Kak Seng hingga ia pergi tiba-tiba?"


Tanya Zizi sinis, tatapan matanya juga sama sinisnya.


"Zizi, tenanglah, kamu salah faham."


Maria berusaha menenangkan Zizi yang matanya kini mulai menyala.


Maria yang benar-benar takut Zizi mengamuk akhirnya memilih meraih tangan Zizi dan cepat mencengkeramnya untuk membawanya keluar dari Bandara sebelum petugas bandara akan berdatangan lagi hingga jumlahnya bertambah banyak.


"Lepas Aunty!!"


Kata Zizi sambil berusaha mengibaskan tangannya, tapi Maria kali ini tak mau menyerah.


Ia mencengkram tangan Zizi dengan sangat kuat


"Kita harus bicara supaya kamu tidak perlu menggila Zizi!!


Hantu Maria balas membentak Zizi.


"Kau akan mengerti jika mendengarkan cerita Aunty!!"


Lanjut Maria pula.


Tapi Zizi rasanya tak mau dengar, ia ingin kembali ke dalam Bandara dan segera menyusul Shane, hanya itu satu-satunya yang ingin Zizi lakukan.


Tapi Maria menarik tangan Zizi kuat sekali.


"Berhentilah kolokan dan keras kepala Zizi!! Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau tapi cobalah pikirkan Mama dan Papamu!!"


Marah Maria akhirnya.


"Keributan di bandara akan ditangani Arya dan pasti nanti paman Joni atau Dave, mau sampai kapan kamu begini terus setelah semua kekacauan di hotel zombie?"


Maria menatap Zizi tajam.


"Tapi..."


Zizi terlihat masih galau.


"Pulang, ikut Aunty, akan Aunty ceritakan semuanya!!"


Kata Maria mulai marah beneran.


Zizi yang tak pernah melihat Maria seperti itu padanya akhirnya menurut.


"Lepaskan dulu tangan Zizi."


Kata Zizi.


Maria mendengus.


"Janji tak akan kabur masuk ke Bandara lagi lalu bikin onar?"


Tanya Maria.


Zizi mengangguk.


Maria akhirnya pelahan melepaskan tangan Zizi.


Meski Zizi bandelnya minta ampun, bar-barnya sampai lintas alam, tapi Zizi adalah sosok yang tak pernah ingkar janji.


Zizi berjalan menuju ke mobilnya.


Gadis itu masuk ke dalam mobil yang kemudian disusul Maria.


Namun Zizi tiba-tiba ingat Ali.


"Aunty, bisa panggilkan Ali?"


Tanya Zizi.


Maria pun akhirnya keluar dari mobil lagi, lalu segera melayang masuk ke dalam Bandara untuk memanggil Ali.


"Tuan Muda Ali, kita pulang sekarang saja."


Maria melayang ke arah Ali yang terlihat berdiri bersama Arya dan para pengawal lain yang bicara serius dengan beberapa orang dari Bandara.


"Kak Zizi ke mana?"


Tanya Ali.


"Di mobil, dia minta Aunty panggil kamu."


Kata Maria.


Ali pun akhirnya mengangguk, lalu berbisik sebentar pada Arya dan kemudian bergegas mengikuti Maria keluar menuju mobil Zizi.


Zizi tampak duduk di belakang kemudi sambil menyandarkan tubuhnya seraya memejamkan mata.


Begitu Ali masuk dan duduk di sebelahnya barulah Zizi membuka matanya pelahan dan menoleh ke arah Ali.


Maria juga telah masuk mobil lagi dan duduk di belakang.


"Ayolah kita pulang."


Kata Maria.


Zizi menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan bandara.


**--------------**