Zizi

Zizi
204. Kasus Terbaru


Maria geleng-geleng kepala.


"Baru mati? Kenapa mati? Mati dibunuh? Mati dibegal? Mati disantet? Mati kejedot? Mati keselek?"


Tanya Maria kepo.


Hantu itu menggeleng.


"Rahasia."


Kata si hantu kemudian.


Jiaaaah...


Plak!


Maria menabok si hantu.


"Hantu aja rahasia, rahasia segala, kamu pikir kata sandi Wifi rahasia."


Kesal Maria.


"Lah ngapa situ sewot, suka-suka akulah."


Si hantu tak kalah sewot.


Maria jadi malas ngobrol dengan hantu yang dipikirnya akan jadi teman selama perjalanan menuju Indonesia.


"Lagian, ngapain duduk di situ, hantu kurang kerjaan."


Kata Maria bersiap pergi.


"Aku takut naik pesawat, takut jatuh."


Kata hantu itu lagi.


Maria tepuk jidat dan geleng-geleng kepala.


Maria lantas melayang kembali ke kabin first class di mana Zizi duduk.


Saat melewati kelas bisnis, Maria menyempatkan diri memperhatikan keberadaan Vero dan Daniel yang tampak tidur pulas.


Maria melayang-layang santai tampa ada yang tahu ia berkeliaran di sana.


Sampai di kabin utama, Maria menghampiri Zizi yang sedang asik main game.


"Zi."


Panggil Maria.


"Hmm..."


Sahut Zizi malas.


"Kamu tidak pesan makan?"


Tanya Maria.


Zizi menggeleng.


"Belum lapar."


Sahut Zizi santai.


"Jiiaaah... Pesanlah, Aunty lapar nih."


Kata Maria.


"Lah Aunty habis keliling pesawat memangnya tidak ada orang makan?"


"Ada."


"Lha kenapa tidak ikut makan?"


Tanya Zizi.


"Pada baca doa, mana bisa Aunty ikut makan."


Kata Maria.


Zizi menoleh ke arah Maria, lalu cekikikan.


"Kalau gitu Zizi akan baca doa mulai sekarang."


Kerling Zizi.


"Heh, nanti Aunty kelaparan."


Maria belum apa-apa sudah takut, wkwkwk...


"Bisa kurus kering aku Zi, nanti saja kalau mau tobat."


Ujar Maria tak enak sarannya.


Zizi tambah cekikikan.


"Oh ada hantu tadi di dekat pintu darurat."


Ujar Maria lagi cerita sambil duduk di samping Zizi.


"Hantu apa?"


Zizi bertanya sambil tetap fokus main game.


"Hantu perempuan, ngeselin dia, ditanya matinya kenapa katanya rahasia."


Maria mengomel.


"Ya Aunty ngapain tanya dia mati kenapa."


"Ya kali aja dia korban pembunuhan, soalnya ada darah-darah gitu."


Ujar Maria.


Maria lalu naik ke atas kursi yang ia duduki, untuk melihat ke belakang di mana Marthinus masih asik melihat awan di luar pesawat.


"Lihat itu Timus, dia seperti ingin melompat keluar dan guling-guling di atas awan."


Kata Maria.


Setelah itu Maria kembali duduk di sebelah Zizi yang gamenya tampak kalah.


"Ah Aunty sih berisik."


Kata Zizi.


"Huuu enak saja, emang kamu tidak pernah menang kalau main game."


Mendengarnya Zizi jadi tertawa.


Lalu...


"Kak Seng ditinggal sendiri di London tidak apa-apa kan ya Aunty?"


Zizi bergumam.


"Ya tidak apa-apa lah Zi, Shane kan bukan manusia biasa."


Kata Maria.


Zizi membenahi posisi duduknya.


"Zizi tahu, tapi tetap saja, jika musuh yang datang terlalu banyak, Kak Seng pasti akan kewalahan."


Ujar Zizi.


"Aunty lebih khawatirkan yang akan kamu hadapi nanti di Indonesia sebelum hari pernikahan, sudah jelas jika ini melibatkan Paman Jaka Lengleng, maka targetnya sudah pasti bukanlah Shane, tapi kamu Zi."


Ujar Maria.


Zizi menghela nafas.


"Ya, Zizi tahu."


"Nah berarti yang harusnya bersiap dan harus dikhawatirkan adalah dirimu sendiri."


"Demi apapun, minta Papa memberhentikan Vero menjadi pengawal, mengurangi jumlah orang-orang yang mencurigakan itu akan lebih baik."


Kata Maria.


**---------------**


Dimas tampak sibuk membantu Mbak Ning memasukkan koper-koper pakaian yang akan mereka bawa pindahan.


Beberapa barang lain sudah Dimas bawa jauh hari secara bertahap.


"Ti, jangan lupa semua yang sudah Mbak ajarkan ya, pokoknya kerja yang benar ya Ti, jangan mengecewakan Nyonya Zia dan Tuan Zion."


Pesan Mbak Ning.


Lesti mengangguk.


"Iya Mbak, saya sudah catat semuanya di buku, dari resep, sampai jadwal apa saja pekerjaan saya yang biasanya dikerjakan Mbak Ning."


Kata Lesti.


Mbak Ning tersenyum.


Bersamaan dengan itu, Arya dari dalam tiba-tiba muncul tampak tergesa-gesa.


"Lho Kak Arya, mana kopernya?"


Tanya Mbak Ning heran melihat Arya malah tak membawa barang apapun, juga bahkan koper.


"Mbak, nanti Arya nyusul saja, Arya harus menyusul anggota yang ada di tempat perkara, ada mayat lagi."


Kata Arya.


Mbak Ning tentu saja kaget.


"Mayat apa?"


Tanya Mbak Ning.


Tapi, Arya yang sudah lebih dulu berjalan ke arah mobilnya, tak sempat menjawab pertanyaan Mbak Ning.


Dimas yang berada di dekat mobilnya sendiri dan baru selesai memasukkan semua koper melihat Arya akan masuk mobil dengan tergesa akhirnya menahan sang keponakan sebentar.


"Ar, kamu mau ke mana? Katanya sudah mutusin akan ikut pindah."


Ujar Dimas.


"Iya Paman, nanti Arya nyusul saja, sekarang Arya harus ke TKP baru."


Jawab Arya.


"Ada kasus apa?"


Tanya Dimas.


"Mayat perempuan tergeletak di dekat gang kecil, mayat dengan kondisi yang lagi-lagi aneh."


Tutur Arya.


"Lagi-lagi?"


Dimas mengulang kata lagi-lagi, karena ini berarti sudah terjadi lebih dari dua kali.


"Arya pergi dulu Paman, nanti Arya kabari kalau mau nyusul."


Ujar Arya tak memilih menjelaskan lebih dulu.


Dimas mengangguk.


Mbak Ning tampak berjalan mendekati Dimas yang kini hanya mampu memandang Arya menjauh dengan mobilnya.


"Ada kasus apa belakangan ini?"


Dimas bergumam seolah pertanyaan yang terlontar dari mulutnya adalah pertanyaan yang memang hanya ia ajukan pada angin saja.


Tapi...


"Ada mayat-mayat ditemukan meninggal dengan tulang remuk seperti korban belitan ular besar."


Kata Lesti tiba-tiba, seolah mewakili angin yang mager harus menjawab pertanyaan Dimas.


Dimas dan Mbak Ning tentu saja langsung memandang ke arahnya.


"Belitan ular bagaimana Ti?"


Mbak Ning bergidik ngeri.


Ah rasanya ia sangat trauma dengan ular, jangankan yang besar, yang unyu-unyu meskipun mau dikasih pita kek, dikuncir dua kek, atau bila perlu pakai cindung pikacu tetap saja Mbak Ning takut.


"Di media sosial sedang ramai orang posting soal ular siluman Mbak Ning."


Kata Lesti pula.


"Siluman ular bagaimana Ti?"


Dimas meminta penjelasan lebih panjang dan lebar.


"Ada satu orang pernah posting CCTV belakang toko dia bekerja, rekaman CCTV itu memperlihatkan saat kamera pengintai itu menangkap seperti ular besar bergerak melewati belakang tokonya."


Tutur Lesti.


"Ada videonya?"


Tanya Dimas.


Lesti mengangguk.


"Banyak Bang, sudah ratusan kali dibagikan."


Ujar Lesti pula.


Lesti lalu meraih hp nya dari saku setelan baju tidur batik yang ia pakai.


Gadis itu sibuk membuka hp nya, masuk ke salah satu akun media sosialnya, mencari postingan video yang baru saja ia ceritakan, lalu cepat ditunjukkannya pada Dimas.


Dimas segera menerima hp itu, dan cepat melihat video yang dimaksud.


"Astaga."


Pekik Mbak Ning manakala ikut melihat dan mendapati benar video itu memperlihatkan ular besar bergerak.


"Toko itu letaknya tak jauh dari lokasi ditemukannya mayat terakhir yang ada di berita."


Kata Lesti lagi.


"Kenapa aku baru tahu."


Dimas bergumam sambil menatap nanar layar hp Lesti yang masih ada di tangannya.


"Bukankah hari ini Nyonya Zia pulang?"


Tanya Mbak Ning.


Dimas mengangguk.


"Ya, itu sebabnya aku memintamu nanti ikut jemput."


Kata Dimas.


"Kau harus menceritakan soal ular besar ini bukan Bang? Sepertinya ini bukan hal biasa, mana ada ular sebesar itu ada di kota."


Mbak Ning terlihat sangat ngeri.


Dimas mengangguk.


"Tentu, ini pasti akan aku langsung sampaikan."


"Ah ada-ada saja, kenap harus selalu ada masalah, bahkan saat Nona Zizi sebentar lagi menikah."


Mbak Ning jadi ikut cemas.


**---------------**