Zizi

Zizi
109. Gadis Ajaib


Maria merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Kamu sebetulnya pilih Arya atau Shane sih Zi?"


Tanya Maria sambil menatap langit-langit kamar Zizi.


Tapi yang ditanya tak juga menyahut, akhirnya Maria bangun lagi.


Et dah...


Maria tepok jidat, karena Zizi ternyata malah keluar ke balkon kamarnya.


Zizi terlihat melihat awan di atas langit yang seperti kapas berarak pelahan.


Dunia manusia, hari ini ia sudah berada di dunia manusia lagi, sungguh tak disangka.


Zizi kemudian ingat perutnya yang belum diisi hari ini, maka iapun segera beranjak untuk keluar dari kamar.


"Heeey Zi, mau ke mana? Jawab pertanyaan Aunty dulu."


Kata Maria.


Zizi menoleh sambil mengerutkan kening.


Pertanyaan apa? Batin Zizi bingung.


"Nanti sajalah Aunty ngobrol lagi nya, Zizi lapar."


Kata Zizi seraya membuka pintu.


Maria geleng-geleng kepala lalu rebahan lagi.


Dasar anak absurd. Batin Maria.


Zizi berjalan cepat menuju anak tangga, menuruninya dengan berlari kecil, lalu langsung ke ruang makan di mana Mamanya sudah ada di sana sedang menyantap buah potong.


"Makan ah."


Kata Zizi.


Zia melihat ke arah tangga yang kosong.


"Kamu ngga ajak Kak Arya turun buat makan sekalian? Dia juga baru pulang, pasti dia juga lapar."


Kata Zia.


Zizi duduk di kursi seberang Mamanya.


"Ah nanti juga turun sendiri, kan Kak Arya bukan bayi lagi."


Sahut Zizi.


Haiiish... Zia mendesis.


Zizi mengambil piring yang telah disediakan Lesti di atas meja makan.


Ia tampak mengambil nasi dan diletakkan di atas piring.


Ditatapnya menu pesanannya yang semuanya menggiurkan dan menggoda lidah untuk mencicipi.


"Satu-satu makannya, kalau dicampur tidak enak."


Kata Zia pada Zizi.


Zizi nyengir ke arah Mamanya.


"Semuanya minta duluan Ma."


Kata Zizi.


"Bukan mereka minta, tapi kamu yang mau."


Mendengar kata-kata sang Mama, Zizi jadi cekikikan.


Ia akhirnya memutuskan mencicipi oseng mercon buatan Mbak Ning lebih dulu.


Saat Zizi mulai menyendok oseng mercon ke dalam piring, tampak Mbak Ning muncul dari dapur dan mendekat.


"Minum apa Non?"


Tanya Mbak Ning.


Zizi menoleh pada Mbak Ning.


Namun belum lagi Zizi menjawab, Zia yang lebih dulu menjawab pertanyaan Mbak Ning.


"Air putih saja Mbak, ambilkan yang hangat."


Kata Zia.


Zizi memandang Mamanya dengan pandangan tidak setuju.


"Ma, masa air putih hangat sih, kayak nenek-nenek."


Zizi protes.


Zia jadi hampir keselek potongan buah Kiwi.


"Kamu ini, siapa bilang air putih minuman nenek-nenek."


"Ya itu Uyut di Kemang juga sukanya minum air putih hangat."


"Itu kakek-kakek."


Kata Zia.


"Ya sama aja, sebelas dua belas."


Zizi cekikikan.


Tak lama Mbak Ning sudah kembali lagi membawakan segelas air putih hangat sesuai perintah Zia.


Tampaknya, Mbak Ning memang tak tertarik mengikuti acara debat Ibu dan anak tadi, hingga akhirnya langsung saja balik ke dapur sesuai apa yang diminta Zia.


Zizi pun mengalah, sudah lama tidak di rumah, tak ada salahnya manut Mamanya.


Zizi baru akan menyendok nasi dan oseng merconnya, manakala Kak Arya terlihat turun dari lantai dua.


Pemuda itu tampak tersenyum manis.


Semanis coklat silverqueen, yang dicelup susu bendera cair, lalu ditaburi gula pasir.


Zizi sampai nyaris keselek melihat Kak Arya santai berjalan menuju ruang makan.


"Nona Zizi sudah pulang rupanya, pantas rumah jadi semarak lagi."


Kata Arya seraya mengambil tempat duduk di dekat Zizi.


Zizi nyengir seraya mengunyah suapan nasi oseng merconnya.


Kata Zia.


Arya tentu saja mengangguk.


Arya kemudian mengambil piring yang disediakan di atas meja makan, lalu menyendok nasi secukupnya, dan memilih makan iga bakar.


"Semuanya lancar kan Zi?"


Tanya Arya pada Zizi sambil kemudian duduk di dekat Zizi lagi.


"Lancar Kak, lancar..."


Zizi mantuk-mantuk.


"Syukurlah."


Arya ikut senang mendengarnya.


"Nanti cerita ya, gimana perjalanan ke Merapi kemarin, pasti kan berbeda dengan perjalanan para pecinta alam yang hanya mendaki Gunung saja."


Kata Arya.


Zizi mantuk-mantuk lagi.


"Tapi, kapan-kapan Zizi malah ingin mendaki biasa saja, bisa menikmati alam dengan santai, pasti rasanya lebih menyenangkan."


Kata Zizi.


"Hmm ide bagus, kapan penginnya, nanti Kak Arya temani."


Ujar Arya antusias.


"Ehm... Ehm..."


Zia berdehem.


Arya dan Zizi menoleh ke arah Mamanya yang kini sibuk minum air putih dari gelasnya.


Zizi meneruskan makannya, begitupun dengan Arya.


Setelah menghabiskan satu piring nasi dengan lauk oseng mercon, Zizi kini nambah satu piring nasi lagi ganti lauk iga bakar.


Zizi dari kecil sangat suka iga bakar dan sop iga, meskipun ia pindah ke Inggris, tetap saja makanan favoritnya tetap itu lagi itu lagi.


"Kak Arya, ambilin kerupuk."


Kata Zizi pada Arya yang posisinya lebih dekat dengan toples yang berisi kerupuk.


"Zizi, mana boleh nyuruh kak Arya lagi makan."


Kata Zia memarahi Zizi, tapi Arya yang memang tadi sedang makan, tampak baik-baik saja dan bahkan dengan senang hati mengambilkan kerupuk udang dari toples untuk Zizi.


"Kak Arya kan sayang sama Zizi."


Ujar Zizi bolot.


Sayang itu kan dulu waktu kecil, sekarang kan beda. Ah tapi Zizi sepertinya memang benar-benar tidak jelas.


"Sayang banget malah."


Sahut Arya sambil tersenyum dan melanjutkan makannya.


Zizi yang mendengar nyengir saja, sementara Zia yang kepalanya jadi pusing.


Sejak kepulangan Zizi tadi pagi, Zia melihat Shane jauh lebih perhatian dan caranya menatap Zizi jauh lebih penuh perasaan.


Zia tahu bahwa setengah bulan dalam perjalanan yang berat itu pastinya Shane telah melakukan banyak hal untuk melindungi Zizi.


Tapi...


Zia memandang Arya yang tampak hampir menghabiskan makannya.


Arya juga pemuda yang baik, dia cerdas, dia juga sopan. Bukan hanya Zia yang menyukai sosok Arya, namun juga Zion, bahkan keluarga besar Zion, hingga kakek Ardi Subrata.


"Ah..."


Tiba-tiba Zizi seperti mengingat sesuatu.


"Kak."


Zizi menabok lengan Arya hingga Arya yang sedang menggigit daging iga bakarnya jadi tersedak.


Uhuk uhuk uhuk...


"Ziziii..."


Zia jelas saja langsung mengomeli Zizi.


Zizi cepat memberikan air putih miliknya pada Arya, terlihat Arya langsung meneguknya.


Zizi menepuk-nepuk punggung Arya, niatnya agar Arya berhenti terbatuk, tapi bukannya berhenti, Arya malah kejedot meja karena Zizi terlalu keras menepuknya.


Zizi masih terbawa suasana perjalanannya selama setengah bulan belakangan ini. Tangannya masih terbiasa memukul dan menabok demit dan siluman.


"Aduuh, maaf Kak... Maaf..."


"Iya... Iya... Ngga apa Zi."


Arya mengusap-usap jidatnya.


Zia menghela nafas.


"Zizi kamu ini ya ampuun, apa-apaan coba."


Zia sampai tak tahu harus bicara apa melihat kelakuan anak gadisnya.


Uhuk uhuk uhuk...


Arya masih terbatuk.


"Mbaaak Niiing, ambilkan air lagi mbak untuk Kak Arya."


Teriak Zia.


Zizi jadi tak enak, tapi mau bagaimana, kan Zizi tidak sengaja.


Arya menepuk dadanya agar berhenti batuk.


"Zizi bantu aja Kak tepuk dadanya."


Ujar Zizi.


"Ah jangan Zi, nggak apa, uhuk uhuk uhuk... Kak Arya ba... uhuk uhuk uhuk."


Ba uhuk uhuk apa sih. Batin Zizi.


**-------------**