
Siluman yang berpura-pura menjadi kanjeng ratu kidul itu pelahan berubah menjadi wujud aslinya.
Banyak orang mengaku bertemu dengan ratu kidul, didatangi, atau juga bisa berjumpa dengannya, padahal sebetulnya ia tak semudah itu ditemui.
Sebagaimana di dunia manusia, seorang ratu seperti ratu Elizabeth tentu saja tak akan dengan mudah ditemui orang biasa, bahkan terkadang kelas presiden pun tak semua bisa menemuinya, jika sang ratu belum berkenan.
Kanjeng ratu kidul, mendatangi para penggede keraton jaman dulu itu karena para raja jaman itu sangat rajin lelakon, kuat puasa mutih bahkan pati geni, bertapa atau bahkan macam Raden Sutawijaya dari Mataram yang harus melakukan tapa weling di sungai yang mengalir deras, lalu membiarkan tubuhnya hanyut mengikuti arus sungai hingga kelak akan sampai di segara kidul.
Banyak peri lelembut menyerupai sang kanjeng ratu kidul, seolah membuat orang yang ditemui secara ujug-ujug itu menjadi Jumawa, bercerita ke sana ke mari seolah ia sudah sangat tinggi kelasnya.
Tidak!
Tidak begitu, bagaimanapun ratu adalah ratu, sebagaimana ratu manusia, ia akan memilih yang kelas mereka sepadan.
"Siluman tak tahu diri, meminta tumbal dengan berpura-pura menjadi ratu kidul."
Zizi melompat ke arah Papa dan Mama Jerry yang tampak tengah kasak-kusuk, dan tiba-tiba siluman gurita itu mengulurkan salah satu tentakelnya, membelit Papa Jerry dan menariknya menuju laut.
Mama Jerry menjerit histeris melihat sang suami dibawa siluman yang mereka kira ratu kidul itu selama ini.
Zizi yang melihat siluman itu masuk ke dalam laut tentu saja tak bisa diam saja, ia langsung berlari menuju laut dan melompat mengejar siluman yang membawa salah satu petinggi mall milik keluarga Papanya.
Maria melayang mengejar Zizi,
"Ziziiiiiii..."
Maria berteriak memanggil nama Zizi, namun Zizi sudah tak terlihat, ia masuk ke dalam lautan.
Ombak besar bergulung-gulung menuju pantai, menghempas batu karang yang kini Mama Jerry terlihat ambruk tak sadarkan diri.
Sementara itu Zizi yang kelihatannya masuk ke dalam laut ternyata kini seperti berada di sebuah perkampungan kuno.
Mata Zizi mengawasi perkampungan yang cukup ramai orang.
Orang-orang itu bergerak dengan gerakan yang tak biasa, ada yang seperti pincang, namun ada juga yang sangat cepat seperti binatang yang merayap.
Mereka berjalan ke arah yang sama, entah akan ke mana.
Zizi yang berada di belakang mereka mengawasi pergerakan mereka sambil pelahan mengikuti, sekaligus juga mencari keberadaan siluman gurita yang pasti kini telah menjelma sebagai sosok lain.
Zizi harus mendapatkannya, sekaligus membawa pulang papa Jerry.
Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada anak-anak jalanan di dunia manusia, mendapatkan hukuman yang sepadan untuk menjadi peringatan banyak manusia yang berlaku sewenang-wenang pada anak jalanan.
Zizi berjalan sambil melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata tanpa harus mengeluarkan Jayapada.
Hingga mata Zizi melihat tumpukan kayu di depan sebuah rumah bilik yang kini sepi karena orang-orangnya semua bergerak ke satu tempat yang sama.
Mereka bicara, tapi bahasa mereka juga Zizi tak mengerti, jadi Zizi tidak tahu sebetulnya mereka mau ke mana, pokoknya Zizi akan ikuti saja sambil mencoba mencari siluman gurita yang sekarang pasti menjelma menjadi salah satu penghuni kampung itu.
Zizi mengambil salah satu kayu di atas tumpukan kayu milik warga kampung tersebut. Setelah mengambil kayu, Zizi melanjutkan langkahnya.
Hingga mereka akhirnya sampai di ujung kampung, di sana tampak hutan belantara yang lebat, Zizi mengerutkan keningnya.
Zizi sejenak menoleh ke arah belakangnya, dan sejauh mata memandang Zizi melihat hutan di mana ia bertemu siluman lintah.
Ah ternyata benar, ini pintu menuju hutan kedua, Zizi mengeratkan pegangan tangannya pada kayu yang ia bawa.
Ia kini sendiri, tak ada Maria dan juga tak ada Shane.
Orang-orang kampung tersebut bergerak menuju hutan belantara tersebut, Zizi terus mengikuti, hingga akhirnya di tengah hutan belantara itu terlihat ada seorang laki-laki digantung di atas pohon besar, laki-laki itu matanya terbelalak, lidahnya menjulur, ia sekarat, dan di pohon lain juga terlihat banyak sisa-sisa macam manusia yang digantung.
Zizi menatap laki-laki yang sekarat di pohon itu dengan miris.
Laki-laki yang tak lain adalah Papa Jerry itu sudah jelas tak akan bisa dibawa pulang dalam keadaan hidup.
Tiba-tiba, dari atas pohon yang paling besar di tengah hutan itu turunlah seorang perempuan yang cantik luar biasa namun rambutnya sangat panjang hingga melewati tinggi tubuhnya.
Perempuan itu menyeringai, ia menyadari kehadiran Zizi di sana.
"Manusia keturunan Naga, kau memang luar biasa bisa masuk ke perkampungan ini dan menghancurkan pagar penjagaanku."
Kata perempuan jelmaan gurita itu.
Zizi mencengkram kayu di tangannya, manakala perempuan itu bicara dan akhirnya membuat orang-orang kampung yang berduyun-duyun menuju hutan tersebut kini menoleh ke arah Zizi.
Mereka terdengar bicara dengan suara aneh dan bahasa yang aneh.
Satu-satunya mahluk di sana yang bahasanya bisa Zizi mengerti nyatanya memang hanya si perempuan itu.
Perempuan itu kemudian melayang ke arah Zizi, tampak Zizi bersiaga dengan kayu ditangannya yang ia acungkan pada perempuan itu.
"Aku akan mengenyahkanmu."
Kata Zizi.
Perempuan itu menyeringai.
"Kau tak akan bisa apa-apa di sini anak manis, bagaimanapun jika di dunia manusia kau kini berada di dalam lautan, kau tak akan bisa bertahan lama, hahahaha..."
Perempuan itu tertawa.
Tawanya sangat keras.
Zizi yang kesal tanpa basa-basi lagi langsung memukulkan kayu yang ia pegang ke atas kepala perempuan itu.
Siluman itupun memekik, ia marah sejadi-jadinya, Zizi melompat dan kembali mengayunkan kayu di tangannya, memukulnya lagi.
Orang-orang yang ada di sana mengeroyok Zizi membantu siluman yang merupakan pimpinan mereka itu.
Zizi sejenak mundur ke belakang, mereka semua menyeringai.
"Kau menggali kuburanmu sendiri di sini, hahahaha..."
Siluman itu melayang ke arah Zizi yang dengan sigap melompat menghindar namun sekaligus dengan sedikit berputar sambil mengayunkan kayu di tangannya memukul punggung perempuan siluman itu.
Zizi juga melompat ke arah orang-orang yang ada di sana, memukulkan kayu itu dalam sekali ayunan ke beberapa orang.
Zizi yang sangat mumpuni dalam beladiri tentu saja sangat lincah bergerak ke sana ke mari, memadukan beberapa gerakan bela diri yang ia pelajari, Zizi mencoba melawan mereka tanpa mengandalkan Jayapada karena ia tak ingin pedang itu kelak justeru akan mengendalikannya.
Perempuan itu marah bukan kepalang melihat Zizi yang seolah tanpa henti menyerang orang-orang kampung silumannya.
Zizi yang energi Naga nya tersalur setiap kali memukul siluman yang ia hadapi membuat siluman itu mengejang panas.
Hingga dari semua orang yang mengeroyoknya kini tinggal dua orang saja, Zizi memukulnya dengan keras di bagian kepala dalam sekali lompatan, dan yang satu Zizi pukul bagian perut lalu Zizi tendang bagian belakangnya hingga ia tersungkur dan baru Zizi mencekiknya dengan tangannya yang panas.
Saat Zizi mencekik orang terakhir yang kini menggelepar itu, tampak mata Zizi seperti terbalik, ia kemudian menyeringai, ia menengadah ke arah perempuan gurita yang kini menatap Zizi ngeri.
"Darah Bandapati, tak diragukan lagi ia memang Naga kecil dalam wujud manusia."
Gumam perempuan tersebut.
Zizi baru akan melompat untuk menghajar perempuan siluman itu, manakala tiba-tiba terdengar suara langkah yang sangat besar.
Zizi menoleh ke arah belakangnya, dan...
**-------------**