
Zia berjalan tergesa menuju lift setelah salah satu staf hotel menyampaikan jika Tuan Zion pergi naik lift.
(eh kirain naik UFO)
Pengawal yang berjaga di depan lift memberitahu pada sang Nyonya jika Zion naik ke lantai dua untuk melihat beberapa kamar di sana yang tamunya diganggu.
Zia pun segera masuk lift begitu pintu lift terbuka.
Nenek hantu masih bergelantungan di sana, menatap Zia dengan matanya yang bolong.
"Berdiri yang normal saja Nek, saya pusing lihatnya."
Kata Zia.
"Mana saya ngga bawa koyo."
Tambah Zia lagi.
Nenek hantu itupun akhirnya menurut turun, sepertinya ia memang manut pada sang Nyonya.
Nenek hantu kemudian senam sebentar untuk melemaskan otot dan sendi nya.
Senam SKJ 88.
"Cari suaminya kan Nya? Dia mah cemen, penakut, sama saya aja takut."
Kata Nenek hantu.
Zia menghela nafas, lalu menoleh pada nenek hantu yang sedang senam.
"Jangan jelekin suami saya, begitu-begitu juga kan Nenek bisa tinggal gratis di sini."
Kata Zia.
"Eh iya ding, bener juga."
Ujar Nenek hantu.
"Nah itu kan sadar. Lebih bagus jadi makhluk itu tahu terimakasih."
Kata Zia.
Nenek hantu ketiwi sambil menutupi mulutnya yang bau sampah karena suka mengajak isteri membicarakan kejelekan suaminya. Hihihi...
Ting!
Lift berhenti di lantai dua, pintu terbuka dan Zia keluar dari lift.
"Hantu karyawan itu tidak tinggal di sini, dia tinggal di tempat ia terbunuh."
Kata si hantu nenek sebelum Zia menjauhi lift.
Zia menoleh ke arah nenek hantu.
"Di mana?"
Tanya Zia.
"Entahlah, tapi dia juga dibunuh hantu, hihihi..."
Nenek hantu cekikikan, dan pintu lift tertutup.
Zia yang masih penasaran jadi pencet-pencet tombol lift lagi agar pintunya terbuka.
Tapi nenek hantu sengaja menahan lift.
Ia tak mau memberikan informasi lebih banyak, ia tak mau jadi saksi bisu di antara kita berdua. Eh maksudnya tidak mau jadi saksi kasus hantu lainnya.
Zia yang kesal jadi menendang pintu lift, tepat saat Zion muncul.
"Ma, kenapa pintu lift hotel ditendang-tendang?"
Zia menoleh ke arah Zion yang menghampiri nya.
"Itu hantu nenek, kasih informasi nanggung, jadi rasanya kayak lagi sembelit."
Kesal Zia.
"Ah hantu nenek yang mata bolong itu?"
Tanya Zion.
Zia terlihat mengangguk.
"Dia bilang Dewi dibunuh, sepertinya kamu harus melibatkan polisi sekarang Pa."
Zion mengangguk.
"Aku sudah minta Arya datang, harusnya sore nanti dia ke sini janjian sama aku, tidak disangka saja ternyata pagi-pagi sudah geger penampakan."
Kata Zion.
Zia kemudian celingak-celinguk mencari Maria.
"Ke mana Maria?"
Tanya Zia.
Zion ikut celingak-celinguk.
Di sana hanya ada Dimas dan Joni serta pengawal junior lain yang mengawalnya.
"Entah, tadi sempat ketemu di sini, dia katanya habis ngejar hantu Dewi sampai lantai lima tapi tak berhasil menangkapnya, dia pasti lagi nyari Dewi lagi."
Ujar Zion.
Zia menggelengkan kepalanya.
"Percuma Pa, Dewi ke hotel hanya mampir karena setiap hari ia bekerja di sini, tapi dia tinggal di tempat ia terbunuh."
"Kata siapa?"
Tanya Zion.
"Nenek hantu yang di lift, tadi dia kasih informasi tapi tak lengkap, makanya aku tendang liftnya."
Jawab Zia.
"Jadi maksudnya benar Dewi dibunuh?"
Zia kemudian ke arah Dimas.
"Bang Dimas, coba cari tahu lagi ke sekitar kos Dewi, cari tahu empat hari lalu Dewi sama siapa."
Kata Zia.
Dimas mengangguk.
"Tapi untuk menyelidiki yang lebih dari itu, kita butuh polisi."
Ujar Dimas.
Zia mengangguk.
"Ya itu nanti kita minta tolong Arya, yang penting kita pastikan dulu Dewi sebetulnya di mana."
Ujar Zia.
Dimas akhirnya pamit undur diri dulu.
Tapi karena lift yang tadi ditendang Zia dan ada nenek hantunya tak mau terbuka, akhirnya Dimas berjalan sedikit jauh lagi untuk turun mengunakannya lift lain.
Zia sendiri mengajak Zion ke kamar yang tadi ada Dewi lagi.
"Aku ingin lihat."
Kata Zia.
Zion akhirnya mengikuti Zia yang melangkah menuju kamar-kamar yang dilaporkan diganggu Dewi.
Saat Zia masuk ke kamar pertama, bersamaan dengan itu Maria juga baru masuk menembus dinding dari arah luar.
"Hah Nyonya sudah sampai."
Maria cengar-cengir.
Zia menatap Maria yang keadaannya mengenaskan.
"Aku baru sadar gaunmu robek-robek Mar."
Kata Zia.
Maria tersenyum bahagia.
Ia sangat terharu mendapatkan Zia yang begitu perhatian padanya.
Ah Zia memang sebaik itu nyatanya.
"Iya nih, tak apalah, nanti saya boleh minta dibelikan lagi kan Nya?"
Maria kedip-kedip.
Zia mengangguk.
"Ya belilah di London, di sana ada butik hantu yang kamu suka kan?"
"Waaaah asoooy."
Maria rasanya langsung ingin melompat ke bintang.
"Dewi, kau melihatnya Mar?"
Tanya Zia.
Maria mengangguk.
"Ya tadi di dapur resto."
Kata Maria.
"Tapi dia langsung ngacir begitu melihatku, sekarang aku cari tak ada di mana-mana, banyak hantu yang aku tanya katanya Dewi memang tidak tinggal di sini."
Kata Maria.
Zia yang sudah tahu mengangguk.
"Ya dia hanya singgah sesekali karena dia sebelumnya bekerja di sini."
Kata Zia.
Maria mantuk-mantuk.
"Dia tinggal di tempat dia terbunuh, entah di mana."
Ujar Zia seraya mendekati jendela kamar hotel yang sebelumnya ada penampakan Dewi.
"Nanti aku akan cari saja Nya dengan Zizi."
Kata Maria.
"Ah, aku jadi ingat Ali akan datang siang ini untuk ketemu Zizi, sekarang Zizi di mana?"
Tanya Zion.
Zia menoleh ke arah Zion.
"Ali akan datang? Dengan Kak Ziyan dan Kak Aisyah?"
Zia malah balik tanya.
Zion menggeleng.
"Ali datang sendirian, dia hanya ada urusan dengan Zizi."
Ujar Zion.
"Ah begitu rupanya."
Zia mantuk-mantuk.
"Tadi Zizi tidur Tuan, capek dia."
Kata Maria.
"Ya pastinya, dia pasti sangat lelah, kasihan juga kalau dia dilibatkan masalah ini."
Ujar Zia.
"Tapi Zizi akan mempermudah selesainya urusan ini."
Kata Maria.
Zia mengangguk.
"Ya memang kau benar Maria."
"Oh ngomong-ngomong soal saya nanti ke London, Nyonya saja yang bicara ke Zizi ya Nya."
Pinta Maria.
Zia mengerutkan kening.
"Kenapa tidak bilang ke Zizi langsung?"
Tanya Zia heran jadinya.
Mereka begitu dekat, tapi cuma ke London saja harus Zia yang harus pamit pada Zizi.
Maria kemudian melayang ke arah Zia, lalu membisikkan sesuatu pada Zia.
Zia tampak terbelalak melihat ke arah Maria.
"Be... Benarkah?"
Zia sampai terhuyung saking kagetnya mendapatkan bisikan gaib.
Zion yang selalu menjadi suami sigap langsung meraih tubuh Zia.
"Ada apa Ma?"
Tanya Zion.
Zia menatap Zion.
"Pa..."
**--------------**