
Sosok bayangan itu kembali ke arah Shane, berdiri di samping Shane, lalu berjongkok di dekatnya.
Dibaliknya tubuh Shane yang kini sekarat dengan luka di mana-mana.
Sosok itu yang tak lain adalah Batman, eh salah, maksudnya Mr. Marthinus mengangkat tubuh Shane dan meletakkannya di bahunya macam memanggul hasil buruan.
Dengan gagah meskipun aromanya agak-agak apek, Mr. Marthinus berjalan menyusuri lorong hingga sampai di ujung di mana langsung berada di jurang yang menganga di depannya.
Jurang yang sangat curam itu, tentu saja siapapun yang akan tergelincir ke dalamnya tak akan bisa naik ke atas lagi.
Tapi...
Tentu saja mereka yang bukan manusia dan memiliki kecepatan cukup baik akan dengan mudah melewatinya.
Mr. Marthinus menatap ke seberang sana, di mana di sana Katerina terlihat kecil.
Gadis vampire itu berdiri menatap penolongnya yang kini memanggul Shane.
Mr. Marthinus tampak terdiam sejenak, seperti mengumpulkan energi untuk melompat langsung ke seberang jurang, hingga...
Mr. Marthinus pun dalam sekejap melesat cepat melewati jurang yang menganga sangat lebar itu, dan...
Berhasil... Berhasil... Berhasil...
Katerina menatap Shane di bahu Mr. Marthinus yang sekarat.
"Apa dia mati?"
Tanya Katerina.
"Belum, hampir."
Sahut Mr. Marthinus.
"Ah, syukurlah."
Katerina tampak sangat lega.
Mr. Marthinus lalu meminta Katerina mengikutinya, melesat menuju hutan lain, masuk ke dalam dan kembali bertemu para Lycan.
Kali ini Lycan yang ada di hutan itu adalah para Lycan dari kelompok Alarick Rolf, tentu saja itu adalah kelompok Ayah Mr. Marthinus.
Katerina yang sempat takut, akhirnya kembali tenang manakala para Lycan itu hanya meliriknya saja, tanpa peduli lagi.
Satu Lycan terbesar mendatangi Mr. Marthinus.
"Kenapa kau membawa vampire?"
Tanya Lycan terbesar yang kemudian berubah menjadi laki-laki tinggi besar yang macho abis.
"Mereka keponakanku."
Kata Mr. Marthinus.
"Ah, maksudmu, yang dulu bersama gadis labu?"
Tanya Lycan itu.
Mr. Marthinus mengangguk.
Lycan itupun akhirnya tak berniat bertanya apapun lagi.
Ia membuka jalan di depan Marthinus yang akan membawa Shane dan Katerina ke kastil kecil di ujung hutan yang dijaga para Lycan kelompok Alarick Rolf.
Katerina mengikuti Mr. Marthinus tanpa berani bicara apapun, hanya sesekali saja ia menengok ke arah kelompok Lycan yang tampak baru saja berpesta memakan binatang buruan.
Di musin dingin seperti ini, sungguh luar biasa dapat menemukan mangsa dan bisa makan kenyang.
"Mereka adalah kelompok Ayahku, mereka berkumpul di sini setelah Bradley Woods Lincolnshire dikuasai seluruhnya oleh kelompok pembunuh Ayahku dulu."
Ujar Mr. Marthinus.
Katerina mengangguk mengerti.
Kastil kecil di ujung hutan kini terlihat di depan mata, Mr. Marthinus terbang ke atas kastil dengan posisi tetap memanggul Shane.
Katerina mengikuti sembari menatap Shane yang tak sadarkan diri.
Ia sangat tampan, dan Katerina merasa seperti mulai jatuh hati.
Ah tapi...
Dia sudah memiliki kekasih.
"Kau carilah ruangan sendiri, aku akan mengobati Shane."
Ujar Mr. Marthinus.
Katerina mengangguk.
Namun, saat Mr. Marthinus akan masuk ke sebuah ruangan yang pintunya sangat besar itu, Katerina tiba-tiba memanggilnya.
Mendengar panggilan Katerina, tentu saja membuat langkah Marthinus terhenti.
"Ada apa Katerina?"
Tanya Mr. Marthinus.
"Shane, dia ingin pergi ke kastil Rosalina Ruthven dan ingin membangunkannya."
Ujar Katerina.
Hal gila apa ini?
Bagaimana bisa ada Vampire bodoh yang ingin membangunkan generasi Ruthven lagi.
"Dia ingin menjadi manusia."
Tambah Katerina.
"Apa?"
Mr. Marthinus seolah meminta Katerina mengulangi kalimatnya.
"Dia ingin jadi manusia, untuk bersama seorang gadis."
"Gadis?"
Mr. Marthinus bergumam seperti lebah.
Lalu...
"Apa itu nona Zizi?"
Ia juga seperti bergumam lagi, bertanya pada angin yang berhembus, yang tentu saja angin itu menjawab, mana gue tahu, begitulah.
**-------------**
Zizi dan Ali kini bersiap keluar rumah, mereka pura-pura pergi jalan-jalan.
Tentu saja, bicara seadanya dengan Aisyah sang Ibunda tak akan bisa semudah bicara dengan Zia yang akan mengerti duduk masalahnya.
Aisyah hanyalah manusia biasa, yang hanya tahunya soal saham perusahaan, dan bagaimana caranya perusahaannya akan tetap menjadi tiga besar di Malaysia.
Ia tak paham soal hantu, siluman, dedemit, lelembut, jin, jon, jun dan apalagi itu sebutannya.
Itu sebabnya, apapun masalah yang menimpa Ali, jika itu berkaitan dengan kekuatannya, pasti Aisyah akan menelfon Zia yang tahu semua hal semacam itu.
Hal itu juga yang membuat Ali merasa lebih dekat dengan keluarga Paman Zion dari pihak Ayahnya, daripada keluarga besar Ibunya yang semuanya tak akan mengerti kekuatan Ali dan tak bisa nyambung bicara dengan Ali.
"Kita harus menyelesaikannya dengan cepat, jangan sampai nanti membuat orang rumah khawatir."
Ujar Zizi.
Ali mengangguk.
Keduanya tak mau dikawal satupun pengawal, pura-pura memakai mobil lalu akan keluar melalui pintu gerbang rumah kakek Ali, mereka justeru menuju danau dan menghentikkan mobilnya di sana.
Maria yang kini sudah ikut serta dan duduk di atas mobil menatap danau yang juga dirasanya tak asing.
Sama seperti Zizi, ia merasa jika danau itu persis dengan danau di dekat hutan ke lima, dan juga dengan yang ada di hotel wisata.
"Kau juga merasakannya bukan Aunty?"
Tanya Zizi menatap Maria yang kini melayang ke dekat Zizi.
"Ya Zi, ini luar biasa. Sudah jelas kalau mereka terhubung."
Kata Maria.
Zizi mengangguk.
"Dan aku tadi melihat gerakan mencurigakan di bawah permukaan air danau, seperti ular besar Aunty."
Kata Zizi.
"Ular besar?"
Maria menatap Zizi yang mengangguk.
Ali berjalan mendekati danau, ditatapnya danau di hadapannya itu.
Pemuda fotokopi Ayahnya itu terdiam, ia mencoba mengingat peristiwa masa lalu yang diceritakan Zizi.
Peristiwa yang entah kenapa seperti terhapus dari memori.
Mungkinkah karena terlalu menakutkan?
Kadang manusia begitu bukan? Jika ada satu peristiwa yang terlalu menakutkan, atau menyakitkan, itu bisa menjadi trauma yang berkepanjangan, dan biasanya saat jiwa membutuhkan healing, apa yang membuatnya trauma itu dihapus sementara.
Zizi baru akan memanggil Ali agar kembali ke dekat Zizi dan jangan terlalu mendekat ke arah danau, manakala Zizi melihat hantu Om-om gembul yang sedang mengendap-endap hendak pergi dari tempat itu.
Zizi yang merasa harus mengorek informasi dari hantu itu akhirnya tanpa aba-aba langsung melompat dan berlari ke arah si hantu Om-om untuk menyergapnya dari belakang.
"Ampuun Nona, jangan bunuh aku, jangan bunuh aku."
Hantu itu merengek begitu di sergap Zizi.
Plak!!
Zizi menabok kepalanya.
"Diamlah! Apa tidak malu dengan kumis dan bewok!!"
Kesal Zizi.
Hantu itu mengusap kepalanya yang ditabok.
Benar-benar gadis bar-bar, bagaimana bisa dia asal tabok kepala bapak-bapak.
**------------**