
Hari ini cuaca sangat cerah, secerah masa depan aku dan dia. Ihihihihi...
Shane dan Zizi duduk di atas mobil sambil memandangi banyak orang yang berjemur seperti ikan asin.
Beberapa juga ada yang asik berselancar.
Ramai nian suasana pantai setelah musim dingin berlalu.
"Kak Seng butuh berapa lama menyelesaikan study?"
Tanya Zizi.
"Jangan khawatir, tak akan terlalu lama."
Jawab Shane.
Zizi mantuk-mantuk.
Ia tahu jika Shane sangat cerdas, jika diibaratkan Shane cerdasnya ada di tingkat lantai dua puluh lima, maka berbeda dengan Zizi yang tingkat kecerdasannya masih di sekitar lobby.
Yah, Zizi memang secara keseluruhan lebih ikut keluarga Zia. Mereka unggul di Indra keenam, tapi otaknya mengecil.
Dan inilah normalnya manusia, yang tidak akan pernah ada yang diciptakan sempurna.
Zizi menatap langit dan lautan yang birunya kini seperti nyaris menyatu.
"Besok Zizi akan ke Indonesia dengan Mama, Kak Seng di sini sendirian, bulan depan Kak Seng kembali ke Indonesia karena kita menikah dan Kak Seng akan balik ke sini lagi karena harus melanjutkan study."
Zizi bicara dengan tetap memandang langit.
Bersamaan dengan itu, sehelai hantu perempuan berkelebat melewati mereka.
Ssrrrrt...
Membuat Zizi jadi harus mengalihkan pandangan ke arah si hantu yang melintas itu.
Setelah hantu itu tak terlihat, Zizi melanjutkan lagi.
"Kak Seng, apa Kak Seng merasa dibebani dengan pernikahan ini?"
Tanya Zizi tiba-tiba.
Shane yang ditanya demikian tampak bingung.
"Dibebani kenapa Zizi?"
Tanya Shane.
Shane kini tak lagi memanggil Zizi dengan sebutan Nona, karena Zizi sudah tak mau lagi dipanggil Nona.
"Menikah tiba-tiba, lalu Kak Seng diminta melanjutkan study, dan masuk ke perusahaan."
Ujar Zizi.
Shane meraih tangan Zizi dan menggenggamnya lembut.
"Kenapa aku harus merasa terbebani? Aku justeru merasa itu adalah bentuk karunia. Di saat aku yang bukan lagi manusia, aku tetap bisa hidup seperti manusia kebanyakan."
Kata Shane.
Zizi menatap Shane.
"Apalagi, yang memberikan kesempatan ini adalah Tuan Zion, aku sangat bahagia, bahkan aku tidak bisa mengungkapkannya karena ini jelas terlalu sulit jika digambarkan dalam bentuk bahasa manusia yang terbatas."
Kata Shane.
Zizi tampak tersenyum, lalu...
"Tapi yang akan kita hadapi adalah keluarga keturunan Paman Jaka Lengleng yang tidak biasa Kak, baik di dunia bisnis maupun di dunia astral mereka berdiri menjadi musuh kita."
Shane mengeratkan genggaman tangannya.
"Jangan terlalu dipikirkan, bukankah Zizi bilang bahwa kita akan melindungi semuanya sama-sama? Jayapada dan Alpha Centauri, kita akan lindungi keduanya."
Ujar Shane.
Zizi menatap Shane lekat-lekat.
Terlihat kesungguhan pada diri Shane di sana.
Ya, sebetulnya Zizi sendiri sudah berjanji pada Mamanya, dan Zizi selalu berusaha optimis dalam semua hal.
Hanya saja, melihat Shane belajar dengan sangat keras demi nantinya mendampingi Papa Zizi mengurus perusahaan membuat Zizi sedikit sedih.
Ia kadang merasa keluarga nya sedang memanfaatkan Shane.
Tapi...
Zizi baru akan mengucapkan sesuatu lagi, manakala hantu yang tadi lewat kembali melintas di depan mereka.
Sssrrrttt...
Haiiiish... Zizi mendesis.
Shane mengulum senyum.
Zizi melirik Shane.
"Kenapa Kak Seng senyum-senyum begitu? Ngetawain Zizi nih."
Zizi menabok Shane.
Shane jadi tertawa.
"Tidak ada yang ngetawain Zizi."
Kilah Shane.
"Aaah Kak Seng senyum-senyum."
Zizi kesal.
Dan hantu yang lewat dan memancing emosi warga dunia kembali lewat.
Zizi yang tak sabar tentu saja langsung melompat dari atas mobil ke arah si hantu.
Zizi menarik bajunya dan membantingnya ke pasir.
"Aduuuuh."
Hantu itu mengaduh.
Maria dan Martinus yang mengawasi dari jauh melihat Zizi yang semula dikira sedang romantis tiba-tiba brutal tentu saja langsung heboh menghambur ke arah Zizi.
Shane juga melompat dan menarik Zizi agar tak lebih parah menyiksa hantu yang hanya lewat itu.
"Sudah Zizi, dia cuma lewat, lepaskan."
Shane menarik Zizi agar tak sampai menghajar si hantu.
"Habis dia mondar-mandir terus, ngeselin, jangan-janga dia mata-mata."
Kesal Zizi.
Zizi melepas si hantu dengan dongkol dan tak ikhlas.
Hantu itu mengusap tubuhnya yang jadi pegel-pegel.
Duh, harus urut lagi ini. Batin si hantu.
"Siapa kamu hah?!"
Tanya Maria pada si hantu bule bergaun kuning.
"Aku? Aku cuma hantu remahan keripik kentang."
Kata Si hantu.
Tanya Maria lagi.
Si Hantu mendengar nama Zizi di sebut langsung terlonjak kaget.
"Waladalah, jadi dia Zizi?"
Tanya si hantu menunjuk Shane.
Haiiish... Zizi mendesis.
"Nih Zizi."
Maria menunjuk Zizi yang berdiri di sebelah Shane masih sambil menekan emosinya.
Si hantu nyengir.
"Maaf, sering dengar nama, tapi belum sempat lihat fotonya di koran hantu."
Kata si hantu.
"Aku terlalu sibuk nyari antingku yang jatuh di sini."
Lanjut si hantu pula.
"Kau bukan sedang membuat alibaba kan?"
Tanya Marthinus tegas.
Suaranya keras dan tegas.
Maria, Shane dan Zizi serta si hantu menatap Marthinus.
"Apa Alibaba?"
Tanya Maria keder.
"Itu, alasan yang dibuat-buat agar tidak dicurigai."
Kata Marthinus menjelaskan.
"Oooh..."
Maria dan Zizi mantuk-mantuk.
Sedangkan Shane terlihat mengurut kening.
"Itu mah Alibi dodol."
Kata si hantu yang geleng-geleng kepala.
"Hmm...dia tahu, sangat mencurigakan."
Kata Marthinus.
"Aku bukan mata-mata, kalian diikuti dari tadi tapi tak merasa."
Ujar si hantu.
Keempat mahluk campur aduk itu langsung celingak-celinguk.
Mana...
Mana...
Mana...
Dan, Marthinus yang melihat drone terbang melintas di atas mereka langsung melompat tinggi ke arah drone dan menyambarnya.
Pemandangan itu jelas saja langsung membuat si mata-mata satu dan mata-mata dua kaget luar biasa.
"Lah, manusia apa itu? Kenapa dia bisa melompat setinggi itu?"
Kedua mata-mata itu panik.
Zizi dan Shane yang sudah lebih dulu melihat pergerakan mereka otomatis langsung mengejar.
"Hey!!"
Zizi berteriak mengejar keduanya.
Kedua mata-mata itu lari tunggang langgang.
Sial!
"Bisa-bisanya mereka tahu kita."
Kata mata-mata dua.
Mata-mata satu tak peduli, ia terus lari yang penting selamat dulu tak sampai tertangkap.
Namun, Shane dan Zizi dengan gerakan yang tak biasa melompat sangat cepat ke arah mereka.
Tangan mereka menjangkau kerah baju keduanya lalu membantingnya ke pasir.
"Siapa kalian?!"
Bentak Zizi.
"A... Ampun."
Mata-mata satu yang di tangkap oleh Zizi menghiba.
Tapi mana bisa Zizi iba.
Zizi menariknya dengan kasar agar berdiri, Zizi akan mengintrogasi nya lagi, namun tiba-tiba, dari arah yang tak disangka, sekelebat bayangan menuju ke arah mereka.
Bayangan seperti perempuan itu dengan gerakan yang sangat cepat meraih dua mata-mata itu dan...
Lenyap.
Zizi dan Shane celingak-celinguk.
"Apa itu?"
Zizi yang tak pernah mendapati hal itu sebelumnya terlihat gugup dan heran.
Shane juga sama...
Maria melayang bersama si hantu mondar-mandir kearah Zizi dan Shane.
"Aunty... apa kau melihat barusan?"
Tanya Zizi.
Maria mengangguk.
"Ya..."
Sahut Maria.
"Bagaimana bisa ada mahluk bergerak demikian cepat? Dia bukan manusia tapi juga bukan hantu, ya kan?"
Tanya Zizi.
Si hantu mondar-mandir terkekeh.
"Hey! Apa yang kau tertawakan? Mau aku tabok?"
Kesal Zizi.
"Kalian tidak tahu? Dia itu..."
**-------------**