Zizi

Zizi
144. Misteri Masa Lalu Keluarga


"Ia akan mulai mengajakmu aneh-aneh, melakukan semua hal yang membuatmu mulai memikirkan hal-hal busuk dan kotor."


Terang Zizi.


"Jika kamu membiarkan diri tenggelam dengan angan kosong yang hantu itu ciptakan, maka semuanya jadi terhalang untukmu."


"Termasuk tak akan ada laki-laki yang menyukaiku? Begitu kah Kak?"


Tanya Eva.


Zizi menggeleng.


"Tidak, mereka tak bisa menghalangi yang datang, mereka menghalangimu membuka hati dan menerima yang datang."


"Ah ngeri Kak, sudah cukup."


Eva tak mau Zizi meneruskan informasi yang akan membuatnya sudah tidur dan makan.


"Tenanglah, kan ada Kak Zizi, itu hanya informasi supaya kamu hati-hati."


Ujar Zizi.


Eva mengangguk lalu memaksakan senyumannya meskipun masih ketakutan.


Keduanya mulai mengarahkan laju sepedanya ke arah rumah Paman Ziyan lagi.


"Kak."


Panggil Eva.


Zizi menoleh pada Eva sekilas, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


"Kak Shane, kenapa dia ke London sendirian?"


Tanya Eva tiba-tiba.


Zizi sejenak menghela nafas.


Ia tak menyangka di hari yang masih pagi, di mana tetes embun bahkan belum kering, Zizi sudah harus kembali mengingat soal Shane lagi karena Eva tampaknya ingin membahas soal sosok vampire tampan itu.


"Apa ada yang terjadi pada kalian berdua?"


Tanya Eva pula.


Zizi nyengir sekilas, lalu...


"Entahlah Va, dia pergi tanpa pamit, dia hanya pesan pada Aunty Maria untuk menyuruhku menunggu."


Kata Zizi akhirnya.


"Menunggu?"


Tanya Eva.


Zizi mengangguk kecil.


"Tapi aku tak akan menunggunya, aku tidak suka menunggu."


Kata Zizi.


Eva mengangguk.


"Ya, menunggu, apalagi yang ditunggu tak pasti kapan akan datang tentu akan sangat menyebalkan."


Kata Eva.


Zizi tertawa.


"Kak, kenapa kamu tertawa?"


Eva jadi malu ditertawakan begitu oleh Zizi.


"Apa?"


Zizi nyengir.


"Aku tahu kamu pasti ingin menggodaku kan..."


Zizi akhirnya jadi tertawa lagi.


"Takeru, aku tahu pemuda keturunan Jepang yang tinggal satu komplek dengan rumah Papa di Jepang kan?"


Eva yang sebetulnya malu, akhirnya tetap tak bisa menahan tawa begitu mendengar kata-kata Zizi.


"Sudah ah Kak, kita pasti sudah ditunggu untuk sarapan."


Kata Eva mengalihkan pembicaraan mereka.


Zizi pun tertawa lagi sambil mengayuh sepedanya lebih cepat.


Sesampainya di rumah, tampak Paman Ziyan baru akan masuk mobil.


Begitu melihat Zizi dan Eva datang dengan sepeda mereka, Ziyan tampak menunda masuk mobil lebih dulu.


"Ayah mau ke mana?"


Tanya Eva, begitu sudah turun dari sepeda dan berjalan mendekati sang Ayah.


"Hari ini ada urusan sebentar di Bangkok, sore juga sudah pulang."


Jawab Ziyan.


"Hati-hati di jalan Paman."


Kata Zizi.


Ziyan mengangguk seraya menyunggingkan senyuman.


"Pergilah jalan-jalan hari ini Zi, pergi dengan Eva dan Ali, pilih saja mobil yang kamu mau pakai, semua ada di garasi."


Kata Ziyan.


Zizi mengangguk.


"Gampang Paman."


Sahut Zizi.


"Atau pakai heli juga tak apa, Ali sudah bisa bawa Helikopter sendiri."


Kata Ziyan pula.


Zizi menganggukkan kepalanya.


"Siap Paman."


Ziyan kembali tersenyum.


"Pergi dulu yah."


Ziyan kemudian masuk ke dalam mobil, kali ini ia duduk di kursi belakang dan memilih pengawal yang mengemudikan mobilnya, karena pasti dia di jalan akan sambil memeriksa berkas.


Tiga mobil kemudian bergerak meninggalkan pelataran rumah, Zizi dan Eva masuk ke dalam bangunan utama rumah, dan langsung akan ke lantai atas manakala mereka berpapasan dengan Ali.


Kebetulan bertemu Ali di tangga, Zizi segera menarik tangan Ali menuju kamarnya.


"Eva mandilah, nanti kita ketemu lagi di ruang makan."


Kata Zizi.


Eva yang bingung menatap keduanya hanya bisa menganggukkan kepala.


Batin Eva.


Zizi menarik Ali masuk ke dalam kamar, lalu menyuruh Ali menutup pintunya.


"Ada apa Kak?"


Tanya Ali yang juga bingung.


"Hutan dekat danau itu."


Kata Zizi.


"Hutan?"


Ali mendekati Zizi yang kini berjalan ke arah balkon, saat berdiri di sana, hutan dan danau yang ada di sekitar rumah Paman Ziyan, serta rumah induk milik orangtua Bibik Aisyah terlihat dari sana.


Zizi menunjuk hutan yang ia maksud.


"Hutan itu."


Kata Zizi.


"Ah hutan siluman maksud Kakak?"


Zizi menggeleng.


"Hutan silumannya bukan Hutan itu Ali."


Ujar Zizi.


"Tapi kata Ayah Zanuba hutan itu ada di dekat rumah Kakek. Letak hutan itu bukankah sangat dekat dengan rumah Kakek?"


Zizi menarik tangan Ali lagi agar bisa lebih dekat dengannya.


Agar Ali berdiri di sampingnya dan bisa melihat lebih jelas apa yang Zizi lihat juga.


"Di antara hutan dan danau itu, ada dua batu besar Ali, itu adalah pintu menuju hutan siluman yang di maksud Ayah Zanuba."


Ali mengerutkan kening.


"Kau dulu saat masih Sekolah Dasar pernah masuk ke sana."


Kata Zizi.


Ali menatap Zizi.


"Bukan, kau bukan masuk sendiri, tapi pasti ada yang memang sengaja membawamu masuk, kamu saat main di danau itu bersama teman-teman, lalu kamu melihat temanmu pergi ke sana, kamu mengejarnya, padahal semua temanmu masih berada disekitar danau."


Ali mendengar penuturan Zizi tiba-tiba kepalanya jadi pening.


"Batu biru milik peri, kamu terseret ke hutan siluman, nenek moyang yang berjanji pada mahluk aneh itu, aku rasa dia bukan dari keluarga Ibumu Ali, tapi dari Ayahmu, yang berarti juga dari Papa."


Kata Zizi.


"Kak, kepalaku sakit, ah'..."


Ali terhuyung.


Zizi langsung menangkap tubuh Ali dan memapah Ali masuk lagi ke kamar.


Dibantunya Ali agar duduk di sofa kamarnya.


"Kau perlu minum?"


Tanya Zizi.


Ali mengangguk.


Zizi segera mengambilkan minum yang tersedia di kamar.


Dibawakannya satu gelas air putih untuk Ali, dan tampak adik sepupunya itu meminumnya hingga habis.


"Jika Nenek moyang itu dari Ayah, kenapa tempatnya ada di sekitar sini Kak?"


Ali menatap Zizi.


"Karena itulah kenapa Paman Ziyan bertemu Bibik Aisyah dan mereka berjodoh."


Kata Zizi.


"Sama seperti Papa bertemu dengan Mama, sejak kecil mereka sudah digariskan bersama, kau tahu kan sejarah kedua orangtuaku? Aku terlahir di antara hubungan kedua keluarga yang terus bertemu sejak Nenek Retnoasih dan Kakek Aji Manggala."


Ali mengangguk.


"Apa aku juga memiliki takdir sepertimu?"


Tanya Ali.


"Who know?"


Ali menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Lalu, apa ini Nenek moyang dari Uyut Ardi Subrata Kak?"


Tanya Ali kemudian.


Zizi duduk di sebelah Ali dan juga menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Kak Zizi rasa tidak."


Kata Zizi.


"Lalu?"


Ali menatap Zizi.


"Kak Zizi rasa dia dari pihak Ibu dari Paman Ziyan yang juga berarti Ibu Papaku Ali."


Ali matanya terbelalak.


"Nenek?"


Zizi mengangguk.


"Di Jepang dialah yang didatangi dua peri yang menitipkan cermin sebagai pintu gaib menuju dunia peri, pasti itu bukan kebetulan Ali, itu pasti karena energinya yang menarik bangsa peri mendekat."


Ali menatap Zizi.


"Dan bisa jadi, energimu adalah yang paling mirip dengannya, itu sebabnya batu peri juga diberikan padamu saat kamu ke Jepang saat masih kecil."


Ali terdiam karena apa yang dikatakan Zizi rasanya masuk akal.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan Kak?"


Tanya Ali.


Zizi menatap Ali, lalu...


"Kita masuk hutan siluman hari ini."


Kata Zizi.


Ali ternganga.


"Ha... Hari ini?"


Ali bahkan belum siap, tapi Zizi tampak sudah sangat yakin harus ke sana hari ini juga.


**--------**