Zizi

Zizi
195. Beda Misi


Jakarta,


Attala di ruangannya mengangkat kursi kerjanya, dan membantingnya ke atas lantai hingga kursi itu hancur sebagaimana hancurnya potongan buah di dalam blender.


Karyawan Andromeda Corporation yang berada satu lantai dengan bos besar mereka itu tampak heboh.


Attala tapi toh tak peduli, ia sedang kesal sampai ubun-ubun karena kelakuan adik kandungnya dan juga adik sepupunya.


Attala, laki-laki yang usianya tak jauh di bawah Zion itu kini berjalan tak tenang di dalam ruangannya.


Ia mengurut keningnya yang terasa cenat-cenut macam ada bisul di dalam otaknya.


Ini jelas di luar rencana Attala semuanya.


Sejak kematian Kakeknya, Hery Sapta, dan sejak saat Andromeda sebuah perusahaan yang nyaris ambruk dibeli seluruh sahamnya oleh keluarga besar Hery Sapta, Attala lah yang memang pegang semua kendali.


Dari kendali Attala itulah, Andromeda berkembang sangat pesat, dibantu orangtua Natalia yang membuat bisnis fashion Andromeda berada di dua puluh lima tertinggi di dunia.


Attala jelas merasa bahwa semua pencapaian ini bukanlah tanpa tujuan, melainkan langkah awal untuk kelak bisa mengambil alih perusahaan Alpha Centauri yang notabene adalah sebuah perusahaan yang dulu dirintis Ardy Subrata bersama kakek Attala, yaitu Heri Sapta.


Bagi Attala, perlakuan Ardy Subrata kepada Kakeknya tentu bukanlah perlakuan yang bisa dimaklumi.


Apapun alasan Ardy Subrata mendepak Kakeknya, buat Attala itu adalah tetap cara busuk Ardy Subrata untuk menguasai perusahan seorang diri.


Attala yang menyimpan banyak sekali dendam dengan keluarga Ardi Subrata memiliki impian menghancurkan Ardy Subrata sebagaimana ia dulu juga menghancurkan kakeknya.


Dan Zion...


Attala juga merasa ia harus membalaskan perlakuannya pada Veronika yang dengan mudah dihempaskan dari hidupnya.


Laki-laki tampan dan gagah itu kini berdiri di dekat meja kerjanya, dan...


Brak!!


Gebrakannya pada meja kerjanya membuat meja itu sampai jebol.


Tentu itu bukan kekuatan biasa manusia.


Mata Attala yang kini menatap jendela kaca ruangannya yang berada di lantai sepuluh gedung Andromeda miliknya itu matanya kini berubah seperti mata seekor ular.


Nafasnya begitu memburu, seperti benar-benar tenggelam dalam emosi jiwa yang sangat membakar.


Ya...


Semua gara-gara semua informasi yang baru saja ia dapatkan dari seorang yang sengaja ia kirim di titik terdekat keluarga Zion.


Siapa lagi, jika bukan Vero.


Seorang mantan pawang ular yang Attala rekrut sebagai salah satu orang terpercayanya itu memang ia beri tugas untuk mengawasi keluarga Zion agar bisa tahu kelemahan mereka.


Attala ingin saat ia melakukan serangan nanti, ia benar-benar dalam posisi waktu dan cara yang paling tepat.


Tapi...


Rencana yang harusnya bisa berjalan lancar itu tiba-tiba rusak karena ulah kedua adiknya.


Alex dan Natalia, yang begitu gegabah ikut campur menyebarkan mata-mata dan bahkan mulai memakan korban jiwa.


Baik Alex di Indonesia, maupun Natalia di London, keduanya sama-sama melakukan hal-hal yang memancing kecurigaan, dan ini jika nanti sampai ketahuan oleh pihak Alpha Centauri pastinya akan sangat berbahaya.


"Dasar anak-anak bodoh!!"


**-------------**


Di kantor Zion,


"Arya juga sedang menangani kasus serupa di sini. Korban dengan tulang remuk seluruhnya, dan tubuh jenazah dipenuhi cairan busuk."


Ujar Zion saat Zia menelfon menceritakan kejanggalan yang terjadi di London.


"Jadi di sana juga sama?"


Zia terdengar cukup terkejut, meskipun seharusnya ia tak perlu seterkejut itu karena pusat wilayah kekuasaan Jaka Lengleng tentu saja di seputaran Indonesia.


Jika di London ada kejadian yang sama, tentu karena keturunan Jaka Lengleng yang berasal dari manusia ada yang tinggal di sana


"Apa menurutmu semua keturunan Heri Sapta seperti Natalia sebagaimana yang diceritakan Zizi padamu hari ini?"


Tanya Zion.


"Entahlah, tapi kita tahu jika dulu Veronika mantan tunanganmu sepertinya normal saja."


Jawab Zia.


Zion lantas sekilas mengingat Veronika meskipun tak seluruhnya ingatan soal Veronika Wijaya mantan tunangan nya itu mampu ia ingat, karena sejak ia terbangun dari koma, ingatan sebelum ia hampir dibunuh Ziyan itu memang tak sepenuhnya kembali.


Tapi...


Ya, Veronika, rasanya Zion tak pernah melihat hal aneh pada gadis itu selain Veronika sangat menyukai pesta.


Lebih dari itu, Zion hanya ingat Veronika hanyalah gadis kaya yang manja dan kolokan.


"Kita bahas semuanya besok saja Ma, yang penting kalian berhati-hatilah, besok aku akan jemput langsung di bandara, sepertinya besok jadwalku tak terlalu padat."


Kata Zion.


"Ya, kamu juga hati-hati, hari ini jangan pulang terlalu malam. Jika ada pekerjaan, kerjakan di rumah saja, paling tidak di rumah ada keluarga Zanuba, aku merasa tenang jika kamu ada di rumah dekat mereka."


Ujar Zia.


"Ya jangan khawatir, aku akan pulang sebelum maghrib."


"Ah ya, aku lega kalau begitu."


Zion tersenyum mendengar Zia mengatakannya.


Pernikahan mereka kini sudah hampir dua puluh dua tahun, tapi mereka rasanya masih sedekat ini, tentu itu adalah satu anugerah yang tak semua pasangan miliki.


"Ma."


Panggil Zion.


"Ya."


Jawab Zia.


"I love U."


Kata Zion.


**-------------**