Zizi

Zizi
221. Lantai Dua


"Zi."


Maria melayang setengah ngepot karena terjungkal jadi kecetit.


Zizi yang sedang mengunyah kentang goreng nya menoleh ke arah Maria yang tampak menghampiri Zizi dari arah pintu masuk resto.


"Aunty kenapa? Encok kambuh?"


Tanya Zizi.


Chef Rasya yang tahu jika Zizi pasti sedang bicara dengan mahluk tak kasat mata temannya memilih menyibukkan diri main hp.


"Ada informasi yang sangat penting."


Kata Maria.


"Albar Harrys kembali ke dunia hiburan?"


Zizi lalu kembali ke piring steak nya dan memakan potongan terakhir daging yang rasanya sempurna.


"Hadeeeh, malah ngomongin idol. Ini lebih penting."


Ujar Maria.


"Apa sih?"


Zizi menoleh lagi ke arah Maria sambil mengunyah daging steaknya.


Maria menunjuk ke arah plafon dengan jari telunjuknya.


"Di atas Zi."


Kata Maria.


Zizi ikutan melihat ke atas.


"Lampu?"


Tanya Zizi, karena memang tepat di atas Zizi adalah lampu ruangan resto zombie hotel.


Haiiish... Maria mendesis.


"Ular Zizi, mata-mata, siluman ular itu ada di atas, di lantai dua."


Kata Maria akhirnya.


Mendengar kata-kata Maria, jelas saja Zizi langsung berdiri.


"Apa?!"


Zizi meletakkan sendok dan pisaunya di atas meja.


Brak!


Chef Rasya sampai nyaris memantul dari duduknya.


"Berani-beraninya si lukman tinggal di hotel Zizi."


Kata Zizi.


Chef Rasya berkedip-kedip melihat Zizi yang tampak begitu marah.


Ah ternyata mantan Nona Zizi bernama Lukman. Dia pasti dulu selingkuh sampai Nona Zizi sangat membencinya. Lihat saja wajahnya sampai merah dan hidungnya sampai keluar asap Naga. Batin Chef Rasya.


"Ayo kita hajar si lukman Aunty!!"


Kata Zizi.


"Hayuklah Zi, kita bersihkan mereka dari Alpha Centauri."


Kata Maria semangat.


Zizi bersiap akan beranjak dari duduknya, manakala Chef Rasya tiba-tiba meraih tangan Zizi dan mencoba menahan tangan sang Nona.


"Nona, sabarlah, jangan gegabah."


Kata Chef Rasya.


"Tidak bisa Chef, si lukman harus diberi pelajaran."


Ujar Zizi.


"Ya Nona, saya tahu anda pasti sangat membencinya, tapi ingatlah Nona, ini ada di hotel Papa anda, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Bang Lukman, lalu wartawan akan meliput, nanti hotel yang akan kena imbasnya."


Kata Chef Rasya.


Zizi mengerutkan kening.


Apa sih?


Kok jadi nyampenya Bang Lukman. Batin Zizi heran.


"Lebih baik Nona menyelesaikan makan malam Nona lalu pergi istirahat. Besok bukankah jadwal Nona sangat padat, akan bertemu pemilik EO yang mengurus acara pernikahan Nona, dan juga katanya ingin menemui Nadia, saya bisa antar jika Nona memang ingin bertemu dengannya."


Tampak Chef Rasya membujuk, tapi Zizi tak juga mempan.


Zizi menarik tangannya dari tangan Chef Rasya.


"Chef, ini bukan soal Bang Lukman, buka juga soal Bu Lukman, apalagi Bapak Lukman, ini silukman ular."


Kata Zizi.


Chef Rasya melongo.


"Sudah, Chef di sini saja, tidak usah melibatkan diri, jangan menghalangi Zizi memberi pelajaran mahluk itu."


Zizi lantas benar-benar beranjak dari tempat ia duduk menikmati makan malam dengan Chef Rasya.


Chef tampan itu terlihat makin melongo melihat Zizi yang berjalan begitu cepat keluar restoran.


"Aunty, ayo."


Ajak Zizi yang mendapati Maria setia menunggunya di luar pintu resto.


Maria terlihat mengangguk, lalu melayang mengikuti Zizi.


"Siluman itu memagari seluruh lantai dua agar hantu tak bisa menembus masuk."


Ujar Maria.


Dipikirnya dia siapa.


Zizi masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai dua.


Hantu Nenek yang matanya bolong tampak duduk di pojokan sambil mengantuk.


Dia memang sudah memutuskan untuk menjadi penunggu lift sampai dunia berakhir.


"Nek, kakinya awaslah."


Zizi kesal dorong kaki Nenek hantu yang duduk di pojokan tapi kakinya selonjornya ke tengah ruangan lift.


Haiish... Nenek hantu mendesis.


Nenek hantu menggeser kakinya dengan tak ikhlas. Andai gadis itu bukan Zizi, pasti sudah dia kepret.


Maria cekikikan melihat Nenek hantu wajahnya masam seperti kedondong.


Lift meluncur ke lantai dua dalam sekejap mata kucing.


Ciiiit...


Lift mengerem dan berhenti di lantai dua.


Pintu lift terbuka, dan Zizi langsung keluar.


Maria ikut menyusul Zizi tapi...


Bluk!


Maria kembali terpental.


"Sudah tahu ada pagarnya malah nekat."


Kata Nenek hantu penunggu lift.


Zizi menoleh ke arah Maria yang terpental tak bisa keluar dari lift.


Zizi pun tampak memejamkan matanya sebentar, mencoba menyatukan diri dengan Jayapada dan energi Nenek Retnoasih.


Tampak kemudian gadis itu membuka matanya, dan mata itu terlihat putih semua.


Zizi meletakkan telapak tangannya di depan pintu lift, di mana di sana ada seperti kabut tipis yang bahkan sekilas tak bisa dilihat.


Kabut untuk memagari lantai dua dari para hantu itu kini menghilang pelahan begitu tangan Zizi menyentuhnya.


Nenek hantu dengan mata bolongnya berusaha menyaksikan apa yang terjadi.


Maria yang tak mau membuang banyak waktu lagi tampak langsung melayang keluar dari lift dan kini bisa menembus pagar kabut yang dibuat siluman ular.


"Erna, namanya Erna, pelayan di rumah Uyut Ardi, dia orangnya Zi."


Kata Maria.


Zizi mengangguk.


Zizi terlihat mengawasi setiap pintu ruangan di lantai dua itu.


Tampak Zizi kemudian berdiri di tengah koridor lantai dua.


Energi yang begitu besar keluar dari dalam tubuhnya, Zizi melayang dan mengambang di udara.


Angin berhembus kencang entah darimana hingga membuat rambut Zizi berkibar-kibar.


Maria yang takut terbang terbawa angin memilih nemplok di dinding.


Zizi merentangkan kedua tangannya.


Matanya terbalik putih semua.


Ia terlihat menyeringai, manakala kemudian semua pintu-pintu di lantai itu kemudian seolah dipaksa terbuka.


Brak!!


Brakk!!


Brak!!


Disusul kemudian suara lengkingan-lengkingan dari beberapa ruangan.


Dan...


Betapa terkejutnya Maria, manakala dilihatnya beberapa ular besar keluar dari beberapa ruangan kamar di lantai itu.


"Sudah kuduga, kalian tak akan berani masuk sendirian!!"


Kata Zizi dengan suaranya yang bukan lagi suara milik Zizi.


Zizi mengangkat tangannya ke atas, di mana kemudian terlihat kilatan cahaya yang sangat terang membentuk sebilah pedang.


"Aku tahu kalian ditugaskan untuk mendapatkan Jayapada bukan? Kalau begitu langkahi dulu mayatku!!"


Kata Zizi dengan seringainya.


Ular-ular itu mendesis, tampak satu yang posisinya paling dekat dengan Zizi tanpa menunggu lama, langsung menerjang Zizi.


Dengan lincah Zizi melompat dan langsung menendang kepala sang ular, tangannya mengangkat pedang ke atas.


Pedang dengan cahaya berkilauan itu seperti cambukan petir manakala Zizi menyabetkannya dengan cepat.


Ular yang sebesar orang dewasa itu, yang semula akan menyabetkan ekornya ke arah Zizi terkena sabetan pedang.


Zizi melompat ke dinding dan langsung menerjang ular lainnya.


Ular-ular yang jumlahnya sekitar tujuh ekor itu tampak berusaha mengeroyok Zizi.


Maria yang melihatnya tentu saja tak bisa tinggal diam, ia melepaskan diri dari gaya menempel tembok.


"Aduh centong dan ulekanku mana?"


Maria galau mencari senjata...


**----------**


Hey emak-emak, pinjamin centong sama ulekan tuh buat Aunty.


Othor mau maghriban dulu dongs.