
Di saat Maria sedang mobat-mabit mencari senjata, Zizi dengan melompat dan menerjang ke sana ke mari seorang diri sambil menebaskan pedangnya.
Pedang itu mengenai tubuh ular dan membuat ular-ular itu bergelimpangan.
Setiap luka yang dibuat Zizi dengan pedangnya pada tubuh sang ular membuat mereka mengerang dan menggelepar kesakitan.
Seluruh tubuh mereka serasa terbakar di dalam, panas luar biasa, seakan api sang Naga membakar darah yang mengalir di dalam tubuh.
Enam ular besar yang kemudian tampak tak berdaya di atas lantai dan menggelepar itu pelahan berubah menjadi seperti manusia, dua orang di antaranya Zizi mengenalnya sebagai pelayan di rumah Kakek buyutnya, sedangkan yang empat Zizi tak pernah melihatnya.
Bisa jadi, ke empat orang itu menyerupai tamu hotel.
Dan kini tinggalah satu ular yang ukurannya paling besar di antara ke enam lainnya.
Zizi dan ular itu saling menatap dengan tajam.
Zizi mengacungkan pedangnya ke arah ular besar itu.
"Kau yang bernama Erna bukan?"
Tanya Zizi.
Ular itu mendesis.
"Aku akan lemparkan kau kepada Tuan mu malam ini juga!"
Kata Zizi.
Ular itu mendesis lagi.
Ular berwarna hitam pekat dengan mata berwarna merah menyala itu menantang Zizi, membuat Zizi makin marah.
"Kurangajar!"
Kata Zizi.
Zizi lantas melayang lagi tubuhnya, ia mengangkat pedangnya, bersiap menghabisi satu ular yang masih tersisa itu.
Sungguh! Zizi bertekad akan menyelesaikan semuanya malam ini, membersihkan Alpha Centauri dari semua mata-mata ular itu.
Zizi melesat menerjang sang ular.
Ular itu juga sama.
Sambil membuka mulutnya, ular itu juga dengan tubuhnya berusaha melawan Zizi.
Zizi yang sempat terkena sabetan ekor ular tersebut limbung, tapi ia bisa dengan cepat kembali lagi.
Zizi dengan ayunan pedangnya yang mengarah kepala sang ular gerakannya terlihat sangat cepat.
Bagaikan cahaya, Zizi melompat dan menerjang sambil menyabetkan pedangnya ke tubuh ular itu.
Ular besar yang masih berusaha menyabetkan ekornya pada Zizi itu kembali terkena pedang Jayapada, yang kemudian terlihat membuat luka pada tubuh sang ular.
Luka yang lumayan parah itu membuat ular besar itu ambruk di lantai.
Ular itu mengerang, pelahan ia juga berubah jadi manusia.
Zizi menyeringai menatap pelayan bernama Erna itu kini menjerit dan menangis karena tubuhnya kini penuh luka.
Para jelmaan ular sebelumnya telah menghilang entah ke mana, mungkin kembali ke alam mereka dan mati di sana.
Namun Erna, tak begitu saja Zizi biarkan lepas.
Zizi yang semula masih mengambang kini turun ke lantai, matanya kembali terpejam sebentar, dan Jayapada berubah menjadi cahaya yang kemudian merasuk ke dalam diri Zizi lagi.
Saat Jayapada telah kembali ke dalam tubuh Zizi, tampak Zizi membuka matanya yang kembali seperti sedia kala.
Zizi mendekati Erna yang menahan sakit di dalam tubuhnya.
Sakit dan panas yang menjalar bersamaan itu sangat menyiksanya.
Zizi membungkuk untuk kemudian menjambak Erna.
"Katakan, siapa lagi mata-mata di Alpha Centauri!!!"
Bentak Zizi.
Erna bungkam, ia tak mau menjawab.
Kesal, Zizi pun menghantamnya.
"Katakan atau kau kubunuh?!"
Ancam Zizi. Tapi Erna tetap bungkam.
Ini membuat Zizi sangat marah.
Zizi akhirnya memaksa Erna berdiri, menariknya ke dalam kamar, dan menuju balkon.
Zizi menghadapkan wajah Erna ke arah Andromeda Apartement.
"Kau pikir aku takut dengan boss mu di sana hah?"
Bentak Zizi.
Erna yang meskipun sedang kesakitan luar biasa tetap bisa mencoba menertawakan Zizi.
"Kau tak akan bisa menjamah Tuanku, lihatlah, tempatnya dijaga ratusan pengawal dari jenis kami."
Kata Erna sinis.
Zizi yang terpancing jelas saja langsung menarik Erna naik ke atas teralis balkon, dan...
Zizi menjambak Erna sambil membawanya melesat menuju Apartment Andromeda di mana Alex berada.
Dia berani masuk ke kawasanku, maka sekarang gantian aku yang akan masuk ke kawasan mereka, meskipun dengan cara yang paling kasar.
Zizi yang masih dengan kekuatan Naga Nenek Retnoasih melesat cepat, dan Zizi melemparkan Erna ke lantai sepuluh, tepat di kamar yang tadi Zizi sempat pandangi bersama Maria.
**---------------**