
Zizi dan Shane berjalan mengikuti siluman lintah yang kini telah berubah wujud menjadi perempuan lagi.
Ia berjalan pelan seperti lintah, sampai Zizi tak sabar jadi mendorongnya seperti mendorong gerobak.
"Lama banget jalannya, nggak tahu Zizi lapar apa!!"
Zizi emosi.
Dari kecil dia kan begitu, apa-apa yang penting ngegas dulu.
"Ya habisnya gimana, ini sudah takdir kami lintah jalannya begini."
Kata siluman lintah membela diri.
"Iya, iya... udah nggak usah ceramah lagi, cepetan keluar dari desa, baunya ngga enak."
"Ini kan karena bau campur kamu belum mandi."
Kata siluman lintah lagi, malah memancing emosi Zizi.
Zizi jadi menabok kepalanya.
"Enak aja Zizi udah mandi tadi pagi."
"Kan sore belum."
"Makanya ini mau nyari penginapan biar bisa mandi!"
Kesal Zizi.
Shane yang melihat mereka bertengkar tak jelas jadi geleng-geleng kepala.
Zizi itu mau hantu, mau jin, mau demit, siluman, semuanya diajak berantem. Ini masih muda, bagaimana nanti saat sudah jadi Nenek-nenek yang biasanya cerewetnya kalau sudah nenek-nenek itu bisa tiga kali lipat.
Zizi dan Shane kini akhirnya keluar melewati perbatasan desa dan jalan setapak dari arah hutan.
Di sana tampak Maria melipat tangannya sambil menatap semuanya yang muncul dari kabut penghalang antara desa siluman lintah dan jalan setapak dari hutan.
"Kenapa cuma aku yang nggak bisa masuk?"
Semprot Maria pada ketiganya.
Zizi mendorong siluman lintah ke arah Maria supaya bisa dijitak.
"Dia tuh pengen tidur sama Kak Seng."
Zizi mengadu pada Maria.
Haiiiish... Maria mendesis.
Tampak Maria menatap siluman lintah dengan tatapan benci.
"Dari awal aku sudah tahu kamu ini mesum."
Kata Maria.
Shane menarik tangan Zizi agar berdiri tak terlalu dekat dengan kabut, Shane khawatir akan ada yang tiba-tiba muncul dari sana dan mencelakai Zizi.
"Sebaiknya kita kembali ke alam manusia sebentar, masih ada enam hutan lagi, Nona harus istirahat."
Ujar Shane.
Zizi mengangguk.
"Besok kita harus melewati dua hutan agar tak terlalu memakan banyak waktu di perjalanan."
Kata Zizi.
Shane setuju.
Zizi kemudian menatap siluman lintah.
"Mana pintunya?"
Tanya Zizi.
Siluman lintah yang jalannya lamaaa tak sampai-sampai akhirnya disuruh Zizi menunjuk saja.
"Aah batu besar itu, ya baiklah."
Kata Zizi.
Kemudian Zizi mengajak Shane dan Maria bergegas ke arah dua batu besar yang barusan ditunjuk sang lintah.
Langit di alam siluman masih tampak gelap, Zizi sendiri tak tahu bagaimana cara membedakan waktu di alam para lelembut dan alam manusia.
Zizi dan Shane serta Maria baru akan memasuki antara dua batu itu, manakala mereka mendengar jeritan yang menyayat hati dari arah belakang mereka.
Tapi Zizi yang ingat pesan dari Putri Arum Dalu jika ingin pulang ke alam manusia Zizi tak boleh menoleh ke belakang sebelum hitungan langkah ke tiga belas akhirnya langsung mengatakannya pada Maria dan Shane.
Mereka pun akhirnya mengabaikan suara itu, mereka tak peduli dan juga tak tahu jika ada mahluk liat yang muncul dari kabut dan kini melahap siluman lintah itu.
Zizi terus berjalan ke depan, melangkah hingga tepat pada hitungan ke tiga belas tiba-tiba mereka berada di tengah taman depan hotel.
Zizi dan Shane tentu saja langsung celingak-celinguk seperti Tarzan yang baru keluar hutan lalu masuk kota.
Maria melayang ke sana ke mari, mencoba mengenali mereka ada di mana saat ini.
Maria mendengar deburan ombak, hembusan angin laut, dan...
Zizi menatap hotel yang kini ada di hadapannya.
"Siluman lintah sepertinya tidak hafal daerah manusia, tadi dia salah sebut jalan, atau memang kita keluar itu sesuai dengan yang kita inginkan?"
Gumam Zizi.
"Sudah jangan ngoceh saja, katanya kamu lapar dan ingin istirahat."
kata Maria.
"Tapi Aunty, kita hanya punya waktu hingga tengah malam jika ingin kembali ke alam mereka lagi, jika sampai besok maka kita akan makan waktu lagi."
Ujar Zizi.
"Sudahlah, yang penting kamu istirahat dulu, makan dulu, telfon orangtuamu dulu."
Maria mengingatkan.
Ah Zizi jadi terharu, belakangan ini Aunty Maria sangat baik padanya, seperti mau pergi saja.
Tidak!
Tidak!
Tidak boleh, Aunty Maria harus terus bersama Zizi, meskipun nanti Zizi menikah, punya anak, punya cucu, bahkan punya cicit, Aunty Maria harus tetap bersama Zizi. Batin Zizi.
Zizi akhirnya menuju hotel di mana mereka muncul di taman depan hotel itu.
Untungnya keadaan sedang sepi, meskipun di CCTV pasti akan terlihat Zizi dan Shane yang tiba-tiba muncul di sana.
Tapi, siapa peduli, toh tidak mungkin akan langsung ketahuan sekarang.
Zizi masuk ke dalam hotel untuk chek in, Shane mengikuti di sebelah Zizi.
Zizi memesan satu kamar eksekutif suite, setelah semua proses pemesanan kamar selesai, Zizi dan Shane beserta Maria yang tak bisa dilihat orang lain langsung menuju kamar yang Zizi pesan.
Zizi juga tak lupa memesan makanan dengan layanan antar ke kamar. Zizi memesan beberapa menu, tampaknya ia benar-benar kelaparan.
Maria terlihat melayang mengikuti Zizi dan Shane terus, begitu juga saat Zizi masuk ke dalam lift bersama Shane dan kemudian juga seorang ibu muda bersama anaknya yang masih sekitar lima tahun.
Ibu muda itu terlihat tersenyum ramah pada Zizi dan Shane.
"Pengantin baru?"
Tanya si ibu ramah begitu lift bergerak naik.
Zizi nyengir saja karena dikira pengantin baru.
"Dulu saya juga bulan madunya di sini, tidak usah jauh-jauh, di sini juga bisa puas, mau lihat sunset maupun sunrise kapan saja bisa dari kamar."
Ibu muda itu kelihatan sekali dari bicaranya sudah biasa ngevlog, pasti dia kalau bukan YouTuber berarti Instagramers. Hihihi...
"Hantu Bule, kalian diikuti hantu bule, dia pasti Ibunya Om."
Si anak kecil yang bersama Ibu muda itu ternyata memiliki indra ke enam.
Tampak ia menunjuk Maria yang melayang di dekat Zizi dan Shane.
Maria yang dikatakan Ibunya Shane jelas saja tak terima.
Setelah dipanggil Nyonya oleh patih besar kerajaan Dalu, kini ia dikira emaknya Shane.
Zizi melirik Maria yang terlihat mendelik ke arah anak kecil itu.
Ibu muda yang merupakan ibu dari anak itu membungkukkan badannya untuk meminta maaf berkali-kali.
"Maafkan anak saya, kadang dia memang suka begitu, berhalusinasi, saya sudah bawa ke mana-mana supaya dia berhenti halu tapi tetap saja begitu, jangan takut ya teh."
Ibu muda itu terlihat sangat tak enak hati.
Zizi nyengir pada si anak yang memiliki indra keenam itu, lalu mengulurkan tangannya ke arah kepala anak itu untuk kemudian mengusapnya.
"Saat lihat yang menakutkan, bilang saja kamu teman Nona Zizi, mengerti."
Kata Zizi.
"Zizi?"
Anak itu menggumamkan nama Zizi.
Zizi mengangguk.
"Tadi banyak hantu pergi melarikan diri, mereka teriak, ada Zizi, ada Zizi. Memangnya siapa itu Zizi?"
Tanya si anak itu polos, tepat saat pintu lift terbuka, dan terlihat ada hantu perempuan sedang ngesot di depan lift, begitu melihat Zizi, dia langsung berdiri dan ngacir.
"Jiaaaah, dia akting ngesot."
Kata Zizi.
**------------**