
"Iyaaaa Auntyyyy... Iyaaaaa... tadinya Zizi mungkin sempat bimbang, tapi Zizi tahu jika Zizi cuma bisa tenang kalau ada Kak Seng. Sejak kecil Zizi suka pada Kak Seng, dicueki juga Zizi tetap suka pada Kak Seng, karena Zizi tahu Kak Seng meskipun dingin, tapi diam-diam selalu jagain Zizi, jadi mana bisa Zizi mengabaikan itu."
Zizi akhirnya mengatakan apa yang ia rasakan pada Shane selama ini, dan Maria terlihat tersenyum menatap Zizi.
"Tapi..."
Zizi tiba-tiba seperti ragu.
Gadis itu terdiam, menatap nasi iga bakar yang kini tinggal setengah di atas piring yang ia pangku sambil duduk sila.
"Apa kami bisa menikah dan hidup seperti Mama dan Papa?"
Tanya itu membuat Maria terkesiap, apalagi sosok yang diam-diam mendengarkan dari balkon kamar.
Letak sofa yang memang tepat di dekat jendela kaca menuju balkon dan Zizi membiarkan jendela kaca itu terbuka membuat Shane yang pulang dari jalan-jalan di pantai dan langsung naik ke arah balkon kamar mereka jadi bisa mencuri dengar tanpa sengaja saat Maria memaksa Zizi mengakui perasaannya.
Sempat membuat Shane seolah melambung begitu tinggi, bahagia luar biasa Zizi mengakui perasaannya, membuat Shane bernostalgia saat Zizi dulu terus mengejarnya agar bisa dekat.
Harapan untuk bisa merengkuhnya sebagai kekasih yang hanya akan ia miliki seorang diri, membuat Shane seolah ingin melompat tinggi.
Namun...
"Zizi tahu jika cepat atau lambat, Papa dan Mama akan bertanya kapan Zizi akan menikah, lalu bagaimana dengan anak? Zizi juga memikirkannya."
Kata Zizi lagi.
Matanya meremang.
Hatinya hancur karena apa yang ia rasakan selama ini harus ia ungkapkan, Zizi sengaja menyimpannya sendiri karena tak mau mengatakan semua yang hanya membuat dirinya sedih.
Maria melayang ke dekat Zizi.
"Bukan Zizi mengabaikan Kak Seng, tapi Zizi takut memberi kak Seng harapan, dan Zizi juga takut kalau nantinya kami nggak bisa sama-sama seperti Mama dan papa."
Lirih Zizi.
Ia menahan air matanya agar tak keluar sekuat tenaganya
Zizi tak suka menangis.
Tidak.
Maria merangkul bahu Zizi, lalu menepuk-nepuk bahunya.
Tak ada lagi yang bisa Maria katakan, meski hanya sekedar membuat Zizi merasa lebih tenang.
Ya, penghalang mereka bukan hanya status sosial di mana Zizi anak sang Tuan besar, namun juga Zizi dan Shane nyatanya memang mahluk yang berbeda.
"Zizi kenyang."
Zizi meletakkan piring berisi iga bakarnya di atas meja, lalu turun dari sofa dan pergi menuju kamar mandi.
Andai semua tahu jika Zizi juga ingin merasakan seperti Mama, yang bisa bersama orang yang ia cintai dan mencintai dirinya. Menikah, memiliki anak, dan hidup dengan bahagia.
Shane terduduk di balkon seorang diri, menatap langit seolah bertanya apa yang harus ia lakukan, seolah bertanya kenapa ia yang terlahir manusia lalu kini dijadikannya setengah monster.
Dada Shane begitu sakit, seolah dihantam batu besar yang meremukkan semua bagian dirinya.
**---------------**
"Apa aku bisa pulang sekarang? Kenapa aku tidak dibawa pulang?"
Tanya hantu gadis yang mengikuti Arya ke mana saja.
"Besok pagi kita ke sekolah kamu, tadi mengurus si nona yang memangku boneka lebih dulu."
Kata Arya yang bersiap pulang menuju mobilnya.
Hantu gadis itu mengikuti Arya.
Melihat mobil yang dipakai Arya membuat gadis hantu itu nyengir.
"Kakak tajir juga rupanya."
Si gadis hantu, kuntilania, kini melayang masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau apa?"
Tanya Arya.
Kuntilania nyengir.
Jawabnya tanpa basa-basi.
Ah inilah enaknya hantu, mau ikut numpang naik mobil, mau ikut numpang tinggal, mau ikut makan, ngga usah minta ijin.
Haiiish... Arya mendesis.
"Kamu di sini saja."
Kuntilania menggeleng keras.
"Nggak mau Kak, nanti aku digodain."
"Jiaaaah, mana ada polisi mau godain, lagian kamu menakutkan, yang ada pada lari."
Kesal Arya.
"Bukan polisi, tapi itu dekat pohon besar ada Gendruwo, kakak tahu tidak kalau Gendruwo itu mesum dan suka ganggu perempuan, mau itu hantu, mau itu manusia, mereka akan gangguin."
Tutur kuntilania.
Arya mengerutkan kening. Lalu...
"Hutan di gunung salak, apakah banyak mahluk seperti itu juga?"
tanya Arya.
Kuntilania menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
"Di tempatku dibuang sih nggak ada, nggak tahu kalau di sisi lain."
Arya tiba-tiba ingat Zizi lagi.
Sedang apa sebetulnya Zizi di sana? Mengurus sesuatu yang penting katanya, sesuatu yang seperti apa?
Dan lagi-lagi, kenapa harus selalu bersama Shane?
Arya mencengkram setir mobilnya.
Kuntilania melirik Arya, lalu ia tersenyum.
"Pasti mikirin gadis tadi yang ketemu di hutan, siapa namanya? Nona... Zizi."
Kata Kuntilania.
Mendengar kuntilania bicara seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Arya, membuat Arya jadi menoleh ke arahnya lalu menghela nafas.
"Dia cantik, tapi agak kasar. Menakutkan saat dia marah."
Gumam Kuntilania.
"Aku akan pulang, dan rumah yang aku tuju adalah rumah orangtua Zizi, jadi kamu mending turun saja sana!"
Kata Arya mendorong kuntilania agar keluar dari mobil, tapi hantu gadis itu bertahan.
"Iya... iya... aku bukan lagi jelekin dia kok. Udahlah ayok pulang, aku mau lihat rumahnya, mumpung aku masih belum pulang ke rumah sendiri."
Kuntilania nyengir pada Arya yang jadi mendengus.
Arya akhirnya menyalakan mesin mobilnya untuk kemudian menuju rumah Zia dan Zion.
"Jangan buat masalah di rumah. Kalau sampai buat masalah, kamu nanti bisa berurusan dengan Nyonya besar di rumah."
Ancam Arya.
"Nyonya besar apa?"
Tanya kuntilania.
"Pemilik rumah yang aku tempati, Ibunya Zizi."
Ujar Arya.
Kuntilania terdiam.
"Ibunya nona tajir itu apakah juga bisa melihat hantu? kenapa satu rumah bisa melihat hantu semua ya."
Gumam Kuntilania seolah pada diri sendiri.
**------------**