Zizi

Zizi
91. Siapa Menjaga Siapa


Hari terasa begitu terik, matahari bersinar sangat cerah, bahkan bisa dibilang terlalu cerah.


Zia duduk termangu di kursi teras belakang sembari menikmati hijau taman rumahnya.


Sejak peristiwa gudang yang menjadi pintu masuk ke alam siluman Kelabang, dan Zion juga sudah mulai malas olahraga, akhirnya lapangan tenis di belakang rumah di bongkar dan diganti kolam untuk air mancur.


Sementara di sekitarnya dibuat taman bunga dengan aneka jenis bunga di tanam di sana, dan juga sungai buatan serta taman bermain untuk anak-anak, di mana ada perosotan, ayunan, dan lain sebagainya.


Angin berhembus pelahan, saat kemudian Zia mendengar suara gaduh anak-anak dari dalam rumah.


Mereka berlarian menuju ke arah belakang rumah, lalu semakin berisik begitu ada di dekat Zia.


Lima anak laki-laki yang kini tawuran, saling jambak, tonjok, tendang.


Haiiish... Zia mendesis.


"Sudaaah... Sudaaah!!"


Zia teriak-teriak, tapi suaranya serak. Sepertinya ia sudah berungkali teriak hingga pita suaranya rusak.


Zia mengurut keningnya, dan terpaksa berdiri lalu menjewer satu persatu anak-anak itu.


"Kalian ini!! Kalau Nenek biang sudah jangan ribut jangan diteruskan!!"


Zia mengomel.


"Dia nih Nek."


"Kamu."


"Enak aja, kamu!!"


Dan mereka ribut lagi.


"Diaaaaaaam!!"


Zia teriak, mengagetkan Zion di sebelahnya.


"Apa? Ada apa?"


Zion bangun sambil duduk di tempat tidur dan celingak-celinguk.


Tampak Zia tertidur di sampingnya tapi sambil mengomel.


Zion menghela nafas.


"Belakangan selalu mengigau, mimpi apa sih dia."


Gumam Zion penasaran.


Memang sudah tiga hari, Zia selalu tidur mengigau, dan ia mengigau selalu teriak-teriak. Tiap ditanya mimpi apa, dia malah bingung, katanya tidak ingat.


Zion menatap isterinya yang masih mengomel sambil tidur.


Kalau dilihat dari cara mengomelnya, ia seperti sedang mengomel pada anak-anak. Apa mungkin Zia mimpi saat Zizi masih kecil.


Ya...


Pasti karena sebetulnya jauh di lubuk hatinya, sebagai Ibu, Zia pasti sangat merindukan Zizi yang sudah setengah bulan lebih belum pulang.


Zion akhirnya merebahkan dirinya kembali, sambil menjaga Zia kalau-kalau isterinya itu terbangun atau kenapa-kenapa.


Ah Zion jadi ingat saat dulu Zia masih mengandung Zizi, betapa anak itu memang sudah sangat merepotkan sejak ada di kandungan.


Bukan hanya ngidam makan batu bata, tapi malam-malam minta nonton tinju Mike Tyson dan harus semua video Mike Tyson yang menang.


Zia juga sesekali saat tidur suka mengigau, dan sekali waktu pernah Zion pulang larut Zia sudah tertidur, Zion belum mandi karena sudah lelah akhirnya langsung tidur saja di samping Zia.


Tiba-tiba, entah bagaimana ceritanya, yang jelas Zion baru saja terlelap, saat tiba-tiba perutnya ditinju hingga Zion bangun dan teriak.


Zion yang semula berpikir itu maling, langsung melompat dari tempat tidur, dan betapa kagetnya Zion, manakala Zia cengar-cengir di atas tempat tidur menatapnya.


"Sori, aku juga kaget."


Kata Zia dengan wajah tanpa dosa.


Walhasil Zion pingsan malam itu karena perutnya sakit.


Ya... sungguh hari-hari yang berat itu nyatanya masih terus berlangsung hingga sekarang.


Tapi bagaimanapun, Zion tetap menyayangi Zizi karena buatnya Zizi adalah karunia dan hadiah untuk pernikahannya dengan Zia.


Walaupun, harapannya untuk bisa menjadi orangtua seperti keluarga normal lainnya, yang bisa melihat anaknya sekolah dengan baik, lulus dengan baik, lalu bisa pergi ke mana saja bersama, mendengarkan cita-citanya, lalu mengiringinya menikah sulit terlaksana, tapi toh itu tetap tak mengurangi rasa sayang Zion pada putri satu-satunya itu.


Zion tampak menghela nafas, ia baru akan mengusap wajah Zia, ketika tiba-tiba Zia membuka matanya dan menatap Zion yang terbaring di sampingnya.


"Pa, aku mimpi."


Lirih Zia.


"Ya, kau mengigau lagi sejak tadi."


Zia mengangguk.


Ia kemudian terlihat bangun dari posisinya berbaring, lalu berganti duduk sambil menyandarkan tubuhnya.


"Mau aku ambilkan minum?"


Tanya Zion.


Zia mengangguk.


Zion turun dari tempat tidur mereka, lalu berjalan ke arah kulkas di dalam kamar.


"Yang hangat saja Pa."


Kata Zia.


Zion mengangguk, ia kemudian kembali menutup kulkas, dan beralih ke arah meja di mana ada teko listrik.


"Aku mimpi aneh sekali."


Kata Zia meneruskan cerita soal mimpinya, sambil menunggu Zion selesai menyiapkan air hangat.


"Mimpi apa sayang?"


Tanya Zion.


"Zizi."


Kata Zia.


"Ada apa dengan Zizi? Dia tidak apa-apa kan?"


Tanya Zion.


Zia menggeleng.


"Nenek Retnoasih memberitahuku Zizi sudah selesai membersihkan energi jahat di Jayapada, sebentar lagi dia akan pulang."


Ujar Zia.


Zion terlihat begitu lega mendengarnya.


"Jadi, mimpimu soal apa Ma?"


Tanya Zion, lantas mulai menuang air dari teko listrik ke dalam mug yang selalu tersedia di sana.


"Zizi punya anak, semuanya lima anak Pa, laki-laki semua dan nakalnya sudah macam Sinchan yang diaduk dengan Marsha."


Zion demi mendengarnya menoleh ke arah Zia lagi.


"Zizi?"


Tanya Zion.


Zia mengangguk.


"Kenapa tiba-tiba kamu mimpi soal Zizi punya anak? Kamu membicarakan apa dengan Nenek Retnoasih?"


Tanya Zion yang antara senang mendengar mimpi Zia, tapi juga jadi penasaran, kenapa Zia tiba-tiba bermimpi hal demikian.


"Aku ngga bicara apa-apa soal Zizi dengan Nyi Retnoasih. Dia datang juga hanya memberitahu agar aku tak perlu khawatir."


"Lalu kenapa kamu mimpi begitu?"


Zion menghampiri Zia, memberikan mug berisi air hangat padanya.


"Kalau ini petunjuk, berarti kita akan punya cucu lima anak yang seperti Zizi semua Pa."


Ujar Zia.


Zion melongo.


"Lima seperti Zizi semua?"


Zia mengangguk.


"Ah, tapi ada satu yang sepertinya lumayan nurut, tapi entahlah, karena Mimpi jadi tak begitu jelas."


Ujar Zia.


Zion mantuk-mantuk.


Zia kemudian menyeruput air hangat dari dalam mug yang diambilkan Zion untuknya.


"Tapi, aku jadi berpikir, siapa kira-kira suami Zizi nanti?"


Gumam Zia lirih.


"Kak Arya."


Sahut Zion.


Zia menghela nafas.


"Kak Arya sudah seperti anakku sendiri, buatku dia adalah kakak Zizi."


Ujar Zia.


"Tapi kalau mereka saling mencintai kenapa tidak? Aku ingin punya cucu yang punya darah normal sebagai manusia Ma."


Kata Zion yang membuat Zia jadi menabok lengannya.


"Kenapa aku ditabok?"


Protes Zion.


"Tentu saja, secara tidak langsung kamu mengatakan aku tidak normal hingga keluarga kita jadi tidak normal."


Kesal Zia.


"Aduuuh... Bukan begitu maksudnya Ma."


Zion malah jadi bingung sendiri.


"Sudah kubilang, aku lebih ingin Shane yang bersama Zizi, karena Zizi yang mungkin kamu anggap tidak normal itu, jelas butuh suami yang tidak normal juga."


Zia malah jadi kesal.


Zion yang melihat Zia menekuk wajahnya lama-lama jadi tersenyum.


Sudah lama sekali mereka tak pernah ribut dengan hal kecil seperti ini, dan sekarang rasanya malah menyenangkan.


"Kenapa senyum-senyum?"


Zia masih kesal.


"Aku baru sadar kamu awet muda."


Gombal Zion.


Haiiish... Zia mendesis, meski akhirnya tersenyum juga.


Zion berpindah duduk di samping Zia.


"Siapapun yang akan jadi jodoh Zizi, aku akan merestui, asal dia bisa menjaga Zizi sebaik aku menjagamu."


Kata Zion seraya merangkul Zia.


Zia jadi tergelak.


"Yakin kamu yang jaga aku? Ngga kebalikan?"


Zion yang mendengarnya jadi ikut tergelak.


Iya juga sih.


**--------------**