Zizi

Zizi
182. Heboh


Seperti rencana awal, hari ini Zia mau belanja ini itu anu embuh pokoknya belanja banyak sekali.


Terutama gaun untuk mereka nanti acara Zizi.


Ya mereka, yang di mana itu termasuk untuk Maria yang gaunnya sudah rombeng parah sejak pulang dari Merapi.


"Zizi sajalah yang bawa mobil Ma."


Kata Zizi saat akan keluar dari rumah sambil memakai topi dengan tulisan Manchester united, club' favorit nya.


"Laah nanti kamu ngebut."


Ujar Zia tak percaya pada anaknya sendiri.


"Ikh janji, tidak ngebut."


Kata Zizi.


Nancy tersenyum dikulum.


"Percaya Nya, dia tidak ngebut?"


Bisik Maria pada Zia.


Zia memberi isyarat sebetulnya ia tak percaya.


Zizi yang melihat Mamanya dan Maria kasak kusuk bisik-bisik mengerucutkan bibirnya.


Maria cekikikan melihat Zizi begitu.


"Panggilin Shane nih."


Kata Maria.


"Ikh, Kak Seng lagi belajar."


Kata Zizi.


"Wiiih tahu Kak Seng lagi belajar."


Goda Maria.


Zizi melirik calon mertuanya yang senyum-senyum terus dari tadi.


"Lewat chat Aunty, jangan mikir aneh."


Kata Zizi kemudian pada Maria.


"Siapa juga yang mikir aneh, bilang apa juga tidak."


Maria cekikikan sambil melayang keluar mendahului semuanya.


"Ma, tidak apalah Zizi yang bawa mobil, ya... ya... ya..."


Zizi ke arah Mamanya.


Zia yang melihat Zizi begitu akhirnya mengalah.


"Iyaaa."


Kata Zia akhirnya.


Zizi pun langsung mengambil kunci mobil dari gantungan kunci mobil di atas meja kayu panjang ruangan depan dekat pintu utama.


Ada lima kunci mobil, dan ia ambil salah satunya.


Zia mengajak Nancy keluar dan langsung menuju mobil.


Vero yang berada di luar rumah menghampiri Zia.


"Apa saya perlu mengawal Nyonya?"


Tanya Vero.


Nancy melirik Vero dengan lirikan kurang bersahabat.


Zia cepat menggeleng.


"Jika kamu mau jalan-jalan pergilah dengan Daniel, dia beberapa kali ke London bersama Tuan Zion, pasti dia tahu daerah sini. Saya hari ini ingin pergi tanpa pengawalan."


Kata Zia.


"Apa tidak berbahaya? Saya..."


"Ada aku, kalau ada apapun aku yang tanggungjawab melindungi Nyonya Zia."


Tandas Nancy cepat.


"Mau sehebat apapun dia, aku yang akan hadapi."


Tambah Nancy lagi.


Vero menatap Nancy dengan tatapan aneh.


Zia sendiri tersenyum mendengar kata-kata Nancy.


Ah ya, tentu saja, calon besannya adalah bukan Emak-emak biasa, tapi Emak Lycan. Wkwkwk...


"Ayo Nyonya, kita pergi sekarang."


Nancy menggandeng Zia menuju mobil.


Maria yang duduk di depan bersama Zizi yang telah siap di balik kemudi terlihat menyeringai melihat ke arah Vero yang jelas memandangi Nancy sampai Nancy masuk ke dalam mobil.


Hingga tanpa sengaja Vero jelas melihat ke arah Maria.


Tatapannya mengisyaratkan dengan sangat jelas jika kini ia bisa melihat Maria.


"Dia melihatku, sudah jelas ia melihatku."


Kata Maria yang bisa didengar Zizi yang juga tengah mengawasi Vero.


"Apa mungkin dia komplotan keturunan Paman Jaka Lengleng?"


Lirih Zizi.


Maria mengangguk.


"Pulang belanja, kita bereskan Zi."


Kata Maria.


"Siap Aunty."


Sahut Zizi.


Zia dan Nancy masuk ke dalam mobil.


Zizi segera membawa mobil keluar dari pelataran rumah.


Memasuki jalanan komplek, lalu tak lama melesat pergi.


Vero menghela nafas.


Lengannya tiba-tiba terasa sakit.


Ada yang berusaha menguasainya sepenuhnya.


Zizi mengemudikan mobilnya dengan tidak ngebut untuk ukuran Zizi, namun sangat ngebut untuk ukuran Zia.


Zia sampai bolak balik mengomel pada Zizi untuk mengurangi kecepatannya.


"Ini udah lambat Mamaaaa..."


Zizi ngeyel.


Saking cepatnya mobil melesat, sampai beberapa hantu yang menyebrang ada yang sampai keserempet dan ada pula yang sampai tersangkut di kaca mobil.


Untung Maria duduk di depan bersama Zizi, begitu hantu itu nemplok di kaca menutupi pandangan Zizi, Maria yang sigap menendangnya hingga terpental.


Setiap kali itu, Zizi dan Maria tos.


Zia mengelus dadanya beberapa kali, rasanya ia tak habis pikir anaknya ini bisa-bisanya tidak jaga imej di depan calon mertuanya.


Sampai kemudian kecepatan itu pun berkurang saat memasuki salah satu tempat di mana menjadi pusat perbelanjaan kota London.


"Aunty, butikmu mana?"


Tanya Zizi.


"Sebentar, ini Aunty lagi mengamati dengan seksama."


Kata Maria.


Ia pernah datang ke tempat itu saat dulu Zizi masih sekolah di sana.


Ada beberapa butik hantu yang ia lihat dan bahkan pernah ia kunjungi.


"Aunty ingat ada lorong kecil di antara dua butik manusia, nah di lorong itulah, butik hantu megah berdiri."


Ujar Maria.


"Ah jadi dekat butik manusia juga tempatnya."


Kata Zia.


"Iya Nyonya."


Sahut Maria.


"Kalau yang tidak terlalu megah juga ada, tapi agak ke pinggiran kota."


Kata Maria.


Zia menggeleng.


"Di butik terbaik saja, kau juga harus mendapatkan yang terbaik."


Kata Zia.


Maria sampai terharu mendengarnya.


"Ini apa?"


Tanya Zizi begitu melihat dua butik besar yang di tengahnya ada lorong kecil.


Untuk manusia lorong itu pastinya hanyalah lorong sempit yang hanya bisa dilewati Tom And Jerry.


Tapi bagi Maria dan juga Zia, Nancy serta Zizi, lorong itu tampak seperti jalan raya besar yang sama besarnya dengan jalan raya di dunia manusia.


Di sana juga terlihat banyak pertokoan berjejer.


Maria melayang turun menembus pintu mobil manakala mobil yang dikendarai Zizi pelahan berhenti di sisi jalan tak jauh dari tempat tujuan Maria.


Begitu mobil berhenti, Zia dan Nancy pun turun, baru kemudian Zizi.


"Mama akan ke butik itu dengan Ibunya Shane."


Zia menunjuk butik manusia.


Zizi mengangguk.


"Zizi ikut Aunty dulu."


Kata Zizi yang penasaran ingin jalan-jalan di pertokoan elite para hantu.


"Ada seragam Pocong tidak di sini ya?"


Zizi cekikikan.


Zia menggelengkan kepalanya.


"Ayuk Zi."


Kata Maria tak sabar.


Zizi mengangguk.


Sementara Zia dan Maria pergi ke butik manusia, Zizi menuju arah lain di mana Maria akan pergi.


Zizi berjalan ke arah lorong di antara dua bangunan butik elite yang bersebelahan, beberapa orang yang tampak lewat di sana semula acuh saja melihat Zizi.


Namun begitu kemudian Zizi tiba-tiba masuk bisa masuk lorong yang tidak mungkin untuk masuk manusia tentu saja yang melihat langsung heboh.


"Hantu."


Begitu teriak salah satu orang yang ada di sana.


Orang-orang yang berjalan di sana akhirnya jadi menghampiri orang yang berteriak.


"Hantu? Di mana?"


"Kenapa siang bolong kau melihat hantu?"


"Apa kau sedang berimajinasi Nyonya?"


Orang-orang menggerumut dan bertanya pada rumput yang bergoyang.


Oh oh bukan, maksudnya pada si ibu yang berteriak melihat Zizi.


"Sungguh, aku melihat hantu gadis masuk ke lorong."


Ujar si ibu.


Mereka yang mendengar penuturan si ibu tertawa.


"Mana ada orang masuk lorong itu, kau pasti melihat kucing."


"Tidak itu seorang gadis."


Kata Ibu itu pula.


Saat semua melihat ke arah lorong kecil itu, tiba-tiba Zizi nongol lalu nyengir.


Topinya jatuh.


Zizi meraih topinya, lalu kembali menghilang di lorong.


"Han... Tuuuuuuuu."


Semua kocar-kacir.


**---------------**