Zizi

Zizi
127. Musuh Lama


Zion masuk ke dalam kamar, dan tampak Zia sedang cuci muka di kamar mandi.


"Capek banget Ma."


Kata Zion sambil melewati kamar mandi yang pintunya terbuka.


Zion terus berjalan ke sofa kamarnya, lalu membuka jas dan sepatunya di sana.


Duduk bersandar pada sofa, membuka kancing kemejanya, lalu membukanya pula, menyisakan kaos dalam warna putih saja.


Zia yang sudah menyelesaikan acara cuci mukanya keluar dari kamar mandi.


"Mau dibuatkan teh?"


Tanya Zia.


Zion menganggukkan kepalanya.


Zia berjalan ke meja panjang di kamar mereka yang mirip dapur bersih di sudut ruangan.


Tampak Zia mulai mengambil teh celup lalu menyiapkan air panas.


"Akhirnya bagaimana?"


Tanya Zia sambil membuka kulkas dan mengambil satu lemon untuk ia nanti iris tipis dan campurkan dengan teh.


"Semua sudah diurus polisi, pihak keluarga juga sudah dihubungi Dimas, untuk urusan lainnya juga nanti Dimas yang akan menyelesaikan."


Kata Zion.


Zia menghela nafas lega.


"Ya setidaknya jenazahnya bisa dimakamkan, itu sudah cukup melegakan daripada dia tak ada jelas dimana."


ujar Zia.


Zion mengangguk.


Zia menyeduh teh untuk Zion dan kemudian mencampurkan irisan lemonnya.


Setelah siap, dibawanya ke arah Zion.


"Minumlah, ini akan mengurangi lelah."


Kata Zia sambil merapikan jas dan sepatu milik Zion yang diletakkan sembarangan.


Setelah membawa jas dan sepatu Zion untuk ditaruh di tempat yang semestinya, Zia kembali ke tempat Zion dan duduk di sampingnya.


Zion terlihat sudah mulai meniup wedang teh buatan Zia untuk bisa ia minum.


"Pa."


Panggil Zia.


"Ya, ada apa?"


Tanya Zion.


"Kalau aku ke Inggris dalam waktu dekat, apa boleh?"


Zion yang mendengar pertanyaan Zia yang tak biasa itu terlihat terkejut.


"Inggris?"


Zion menatap Zia.


Ragu.


Sadar tidak isterinya itu tiba-tiba ingin ke Inggris.


"Kamu mau belanja?"


Tanya Zion.


Zia yang ditanya jadi tertawa.


Zion mengerutkan kening.


"Apanya yang lucu?"


Zion jelas bingung, karena menurutnya tak ada yang lucu dari pertanyaannya.


"Kamu ini, belanja apa harus ke Inggris."


Zia menabok lengan Zion jadinya.


"Ya mungkin kamu pengin beli tas, sepatu, atau mantel, atau apa...."


Kata Zion.


"Tidak apa kalau memang ingin, ke Paris juga tidak apa-apa, sekalian saja belanja yang banyak."


Ujar Zion pula.


Zia menghela nafas.


"Aku ngga suka begituan."


Kata Zia.


"Kamu dari sejak menikah nggak pernah mau belanja apa-apa kalau nggak dipaksa."


Zion tersenyum ke arah Zia yang kemudian terlihat menyandarkan kepalanya ke bahu Zion.


"Aku bukan artis, bukan wanita pengusaha juga, tidak perlu penampilan berlebihan."


Zion yang kali ini akhirnya menghela nafas.


"Jadi, ke Inggris mau apa?"


Tanya Zion.


"Aku ingin bertemu Nancy."


Zia mengangkat wajahnya dan menatap Zion.


"Nancy?"


Zion mengerutkan kening.


"Ada apa tiba-tiba ingin bertemu dengannya?"


"Aku ingin membicarakan soal Zizi dan Shane."


Ujar Zia akhirnya.


Zion sejenak terlihat terkesiap.


Meski sebetulnya ia sebagai seorang Ayah juga bisa melihat kedekatan Zizi dan pengawal pribadinya itu ada yang istimewa, tapi mendengar Zia mengatakan ingin bertemu Nancy membuat Zion merasa hubungan itu kini jauh lebih serius daripada yang Zion bayangkan.


"Tadi Ali bicara padaku, dan aku akhirnya jadi memikirkannya."


Lirih Zia.


Zion menyeruput teh lemonnya.


"Apa yang dibicarakan Ali?"


"Tentang Shane, dia bertanya padaku, kenapa Shane justeru hanya menjadi pengawal, tidak ditarik ke perusahaan, padahal dia cukup mumpuni untuk berkarir di perusahaan."


Kata Zia.


Tampak laki-laki yang masih tampan itu bersandar lagi di sofa setelah sebelumnya berganti posisi duduk condong ke meja untuk minum teh.


"Menurutmu Zizi dan Shane bisa benar-benar menikah?"


Tanya Zion akhirnya.


Zia menatap Zion.


"Ya, kita tahu bahwa dua nenek moyangku juga dua mahluk berbeda. Naga dan manusia. Jika sekarang Zizi terpilih mewarisi Jayapada, tentu takdirnya juga tak akan jauh dengan Nenek Bandapati dan Nenek Retnoasih bukan?"


Zia meraih tangan Zion dan menggengamnya dengan erat.


"Apa kamu keberatan karena Shane vampire?"


Tanya Zia lirih.


Zion menatap Zia.


"Kamu sendiri?"


Zion membalikkan pertanyaan.


Zia tersenyum.


"Aku juga khawatir, tapi kupikir Zizi butuh laki-laki yang tak biasa, hanya saja aku juga tahu kamu butuh menantu yang harus membantumu di perusahaan, jadi..."


Zia terdiam sejenak, mencoba mengatur nafasnya.


"Jadi kau ingin Shane masuk ke Alpha Centauri?"


Zion akhirnya yang melanjutkan.


Zia mengangguk pelan.


"Aku tahu bahwa kau memilihku saja pasti dulu sangat berat, karena posisimu sebagai pewaris Alpha Centauri seharunya membutuhkan istri yang sama tahu soal bisnis dan punya power untuk mendukungmu, sementara aku, hanya bisa duduk diam di rumah, menunggumu pulang, bahkan sempat merepotkanmu dengan semua masalah hantu."


Kata Zia.


Zion kemudian menarik tangan Zia hingga perempuan itu jatuh ke pelukannya.


"Aku tak pernah berpikir begitu."


Kata Zion.


Zia menggeleng.


"Tidak Pa, aku tahu jika posisi laki-laki sepertimu jauh lebih tepat jika bersanding dengan perempuan-perempuan seperti Kak Aisyah, bagaimanapun posisi di perusahaan juga dipengaruhi banyak hal, dan aku tak ada pengaruh sama sekali."


Lirih Zia lagi.


Zion mengelus kepala Zia.


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, aku tidak suka kamu bicara begini."


Kata Zion akhirnya.


Zia tersenyum.


"Aku mencoba melihat pada diri Shane mungkin juga sama seperti aku Pa, rendah diri, dan tak tahu harus bagaimana jika memaksakan diri bersama kalian yang jelas berada di atas kita."


"Zia..."


Zion mengeluh.


Zia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zion.


"Beri kesempatan untuk Shane, setidaknya kita coba lihat, apa dia bisa menjadi pasangan Zizi sekaligus juga menantu yang ideal untuk keluarga Ardi Subrata."


Zion menghela nafas.


"Ya, aku akan pikirkan, tenang saja."


Ujar Zion akhirnya.


Zia tersenyum dan mengangguk lega.


"Jadi aku tinggal bicara dengan Nancy, tentang bagaimana nanti mereka berdua ke depan."


Zion mengangguk.


Lalu...


"Akulah sebetulnya memang sedang memikirkan mencari orang yang bisa ditempatkan di mall Alpha yang saat ini mulai goyah lagi."


Kata Zion.


"Setidaknya, aku ingin Alpha Centauri tetap bisa bertahan untuk berapa puluh tahun ke depan."


Lanjut Zion pula.


"Kamu ingat Heri Sapta?"


Tanya Zion.


Zia mengerutkan kening.


"Teman kakek dulu, yang berkhianat, yang memperalat Kak Ziyan untuk membunuhku dan menghancurkan Kakek."


Kata Zion.


"Veronika?"


Tanya Zia yang lebih ingat soal hantu cucu heri Sapta.


Zion mengangguk.


"Aku dengar, cucunya yang lain kembali ke Indonesia dan mulai dekat dengan banyak pengusaha besar. Aku rasa ia akan segera mengembangkan bisnisnya di sini."


Kata Zion.


"Mereka bisa menyerang mu?"


Tanya Zia.


Zion mengangguk.


"Bisa saja, menghancurkan bisnis Alpha dari luar dan dari dalam, itu mungkin saja dilakukan mereka."


Zia terdiam.


Zion menghela nafas.


"Ya baiklah, mungkin aku harus mencoba memberi kesempatan pada Shane, jika nanti benar Shane bisa membantuku di Alpha Centauri, lalu menikah dengan Zizi dan akan memiliki anak lima, maka itu berarti aku tak perlu khawatir lagi dengan masa depan Alpha Centauri."


Putus Zion.


Zia tersenyum.


"Ya... semoga."


Kata Zia pula.


**---------------**


Suatu hari, ini Novel anak-anak Zizi



hehehehe