
Zia meminum teh hangatnya seraya menonton berita di TV.
Di meja depannya, terlihat satu sandwich yang disajikan oleh Lesti untuk sang Nyonya sarapan.
Zia menonton berita terbakarnya banyak aset Andromeda Putra Corporation, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri, selain itu diberitakan juga bagaimana petinggi Andromeda menghilang secara misterius.
Zia menghela nafas menatap layar TV, hingga kemudian aroma melati tercium pelahan.
"Ziaaa... Ziaaa..."
Terdengar seseorang memanggilnya dengan suara yang lembut.
Suara yang tak asing untuk Zia tentu saja. Suara yang seolah terbawa sayup angin.
Zia lantas meletakkan cangkir tehnya di atas meja, ia berdiri dan beranjak dari sofa ruang TV.
"Zia... kemarilah Nak."
Terdengar suara Nyi Retnoasih kembali, suara nya menuntun Zia menuju lantai atas karena pastinya Nenek moyangnya itu berada di kamar.
Saat Zia sampai di lantai atas, benar saja aroma melati itu semakin kuat tercium, bersamaan dengan pintu kamar Zia yang terbuka sendiri.
Zia tampak melangkahkan kakinya menuju kamar, yang begitu sampai di depan pintu, kini terlihat Nyi Retnoasih berdiri mengambang menghadapnya.
Zia membungkuk memberi salam, baru setelah itu ia memasuki kamar untuk menghampiri Nyi Retnoasih.
"Zia..."
Panggil Nyi Retnoasih.
"Aku sudah saatnya melepaskan Zizi untuk hidup sendirian tanpaku, menjaga Jayapada dengan kekuatannya sendiri."
Zia mengangguk mendengarkan.
"Sudah dua puluh tahun lebih sejak aku bersemayam pada diri Zizi, menjaganya dari dekat dan juga menjaga energi Jayapada, kini aku rasa Zizi sudah sangat kuat untuk mengemban semuanya tanpaku."
Ujar Nyi Retnoasih.
Zia mengangguk.
Nyi Retnoasih melayang pelan ke arah Zia, lantas memeluk Zia.
"Kau Ibu yang sangat hebat, aku bangga padamu Zia. Semoga Zizi juga sebentar lagi bisa menjadi Ibu sehebat kau."
Lirih Nyi Retnoasih.
Teringat semua rasanya ketika Nyi Retnoasih meminta ijinnya untuk masuk ke dalam janin yang dikandung Zia dua puluh dua tahun lalu.
Hingga kemudian sekarang ia tiba-tiba hadir mengatakan bahwa ia sudah waktunya meninggalkan Zizi.
"Aku akan kembali ke alamku, bertapa di sana, Zizi akan melahirkan lima putra yang salah satunya akan mewarisi Jayapada, banyak yang akan memburunya, termasuk berbagai siluman."
"Paman Jaka Lengleng, apa yang terjadi semalam ada hubungannya dengan Paman Jaka Lengleng dan Zizi? Berita menayangkan kebakaran di Andromeda Apartement dan juga bahkan semua aset milik Andromeda terbakar. Ini sudah jelas tidak wajar."
Kata Zia.
Nyi Retnoasih yang telah melepas pelukannya itupun tersenyum menatap Zia.
"Jaka Lengleng telah binasa, aku menusuknya dengan keris yang pernah diberikan padamu. Kini keturunan nya bersembunyi, entah di mana mereka melarikan diri."
"Nadia, bagaimana nasibnya? Aku yang salah, aku yang berdosa tak maksimal menolongnya."
Zia menangis sangat sedih.
"Zia... Ini bukan salahmu, sejatinya segala hal telah ada takdirnya. Gadis itu sejatinya memang sudah terpilih akan menjadi salah satu manusia yang melahirkan keturunan untuk generasi siluman. Kau ingat dia hanya satu-satunya anak yang tetap hidup sementara yang lain tentu saja tidak kuat."
Zia terdiam, rasanya ia masih tetap sedih, terbayang saat ia menyelamatkan Nadia bersama Arya, lalu dia linglung ketika pertama kali dibawa kembali ke dunia manusia.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya?"
Lirih Zia lemah.
Nyi Retnoasih tersenyum menatap Zia.
"Ikhlaskan Zia... Ikhlaskan Nadia menjalani takdirnya sendiri. Kelak pasti akan ada takdir lain yang menuntunnya bertemu lagi denganmu."
Nyi Retnoasih lantas mengulurkan tangannya ke arah kepala Zia, meletakkan telapak tangannya di atas kepala Zia.
"Sudah saatnya aku pergi, aku percayakan Jayapada dalam penjagaanmu dan Zizi, saat anak-anak Zizi lahir, akan ada banyak siluman yang pasti datang untuk merebut Jayapada, termasuk ..."
Nyi Retnoasih terdiam sejenak, Zia menunggu kelanjutan kalimat itu....
Lalu ...
Nyi Retnoasih tiba-tiba tangannya yang di atas kepala Zia mengeluarkan cahaya hijau.
Zia memejamkan mata, dan ia melihat sesuatu...
**-------------**