Zizi

Zizi
66. Sang Penolong


"Jadi semua karena Nenek Bandapati ngegas ngegas duluan?"


Tanya zizi sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya begitu cerita nyai sirih berakhir.


"Nenek Bandapati harus belajar sabar kayak Zizi."


kata Zizi lagi.


Dan...


Maria yang pertama terjengkang ke belakang.


Zizi sabar.


Oh noooooooo...


"Ikh Aunty meremehkan Zizi, ya kan Kak Seng, Zizi sabar?"


Shane nyengir saja, bingung mau mengangguk tentu itu adalah dusta, jika menggeleng ia takut ditabok.


Nyai Sirih terkekeh, nyatanya tak ada yang percaya Zizi itu sabar, karena tentu saja dari semuanya yang paling sabar hanyalah othor seorang. Hihihihi...


Zizi melihat langit senja di alam lelembut kini sudah mulai akan berganti gelap, sepertinya mereka sudah harus meninggalkan gubuk Nyai Sirih dan melanjutkan perjalanan.


Maria melayang dan Shane berdiri dari duduknya, begitu juga Zizi. Mereka bersiap pamit karena tak ingin membuang banyak waktu.


Nyai Sirih mengiringi mereka meninggalkan halaman gubuknya reyotnya.


"Berjalanlah ke arah kanan tanpa masuk ke dalam hutan, kalian akan bertemu sungai bening, berjalanlah mengikutinya, kalian akan bisa langsung menuju hutan ke empat dan ke lima."


Kata Nyai Sirih.


Shane dan Maria mengangguk mengerti.


Sementara Zizi tampak memandangi hutan kemenyan yang terlihat begitu angkuh.


Zizi sebetulnya penasaran, ingin tetap melangkahkan kaki ke sana, agar tahu apa sebetulnya yang akan terjadi jika ia memaksakan diri masuk ke dalam sana.


Benarkah kutukan itu masih ada?


Kakek kera putih itu apakah akan membunuhnya?


Zizi bertanya-tanya.


Maria yang seperti tahu otak Zizi mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, maka ia langsung menarik tangan Zizi.


"Jangan mikir aneh-aneh, kalau sudah dinasehati orangtua itu didengarkan."


Kata Maria.


Zizi cekikikan.


"Apa sih Aunty, orang cuma penasaran aja."


"Lha kamu kalau dibilang bahaya malah makin pengin nyobain kan aneh."


Gerutu Maria.


"Kan ada kak Seng yang jagain Zizi."


Plak!


Maria menabok Zizi.


"Shane itu pacarmu, kalau dia jagain karena dia sayang, tapi bukan berarti kamu jadi korbanin dia Zizi."


Omel Maria.


Plak!!


Zizi balas menabok Maria.


"Hihihi impas."


Kata Zizi.


Jiaaaah...


"Ini lho Shane, yang katanya dia sabar, ditabok dikit balasnya nabok sakit banget."


Maria geleng-geleng kepala.


"Kan membalas pemberian itu harus berkali lipat."


Kata Zizi ngeyel.


Haiiish... Maria mendesis.


"Wis lah semaumu Zi."


Kata Maria menyerah.


Zizi menatap langit yang kini mulai gelap, ia mempercepat langkahnya, Shane setia mengawal di sampingnya.


Mereka menuju ke arah yang diberitahu Nyai sirih, aroma kemenyan masih sangat pekat, terdengar juga suara-suara ramai berisik dari dalam hutan.


Zizi kemudian melihat sungai yang mengalir di depan sana.


Ya benar sekali, sungai itu dinamakan sungai bening karena airnya yang seperti kaca, sama sekali tak ada warna keruh sedikit saja.


Sungai yang hanya memiliki lebar tak lebih dari dua meter itu dipenuhi batu besar dan meliuk di sepanjang batas hutan kemenyan.


"Kita menyusuri dari sini."


Kata Zizi.


"Kalau tiba-tiba banjir bagaimana?"


Tanya Zizi lagi.


Sahut Maria.


"Hmm... enggaklah, gendong Kak Seng saja."


Kata Zizi enteng, tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Shane yang terlihat bersemu merah.


Zizi ini antara lagi manja apa cuma karena dia seenak jidatnya, entahlah, othor juga tidak tahu.


Zizi sejenak menyempatkan diri berjongkok di tepi sungai bening, diraihnya air sungai bening dengan kedua telapak tangannya untuk kemudian dibasuhkan pada wajahnya.


Segaaar luar biasa...


Zizi kembali melakukan hal yang sama, mengulang membasuh wajahnya dengan air sungai bening.


Ah yah, andai manusia juga bisa menjaga kelestarian alam sebagaimana para lelembut menjaga keasrian alam mereka, mungkin manusia tak akan sampai mengeluhkan tanah longsor, banjir bandang, angin beliung, kekeringan, hingga pemanasan global.


Zizi berdiri dari posisinya berjongkok, dan kemudian melanjutkan melangkah menyusuri sungai bening yang di sebelah kirinya adalah batas hutan kemenyan.


Zizi dan Shane berjalan beriringan, Zizi berjalan di dekat sungai, sementara Shane di dekat batasan hutan kemenyan.


Maria sendiri memilih melayang di depan keduanya, sekaligus menerangi jalan.


(Beberapa hantu memang seperti menyala, terutama pocong, jika dalam gelap mereka justeru akan terlihat sangat terang, macam lampu neon wkwkwk)


Hingga hampir satu jam berjalan menyusuri tepi sungai bening, tiba-tiba terdengar seperti anak kecil menangis.


Maria menoleh pada Zizi dan Shane yang berada di belakangnya.


"Kalian bisa dengar?"


Tanya Maria.


Zizi dan Shane mengangguk.


Mereka bergerak cepat ke arah asal suara, karena suara anak kecil itu terdengar begitu menyayat hati.


Hingga akhirnya mereka sampai di dekat belokan sungai di mana di sana banyak tumbuh pohon perdu, semak belukar dan batu-batu besar di tepian sungainya, Zizi melihat seorang anak kecil di sisi sungai dengan kaki yang sudah masuk ke dalam air.


Tubuhnya terlilit akar-akar pohon yang seperti tali, sementara kakinya yang di air seperti ditarik oleh banyak tangan.


Zizi dan Shane segera melompat ke arah anak itu, begitu Shane meraih tubuh anak kecil tersebut, akar-akar pohon yang melilit tubuh si anak berangsur melepaskan diri.


Tampaknya, pohon itu berusaha menahan tubuh si anak kecil agar tidak sampai ditarik masuk ke dalam air.


Zizi yang posisinya lebih dekat dengan sungai menarik kaki si anak kecil dari tangan-tangan aneh yang muncul dari dalam air sungai.


Setelah kaki anak kecil itu terlepas, Shane segera mengangkatnya dan membawanya menjauhi sungai.


Zizi menatap sungai bening di mana tangan-tangan aneh itu kini pelahan muncul ke permukaan.


Ia perempuan yang berjalan merangkak dengan rambut yang sangat panjang hampir memenuhi seluruh air sungai bening, kepalanya menengadah, menatap Zizi dengan marah.


"Dia kera kecil makananku, kenapa kau ikut campur?"


Marahnya.


Zizi yang kesal belum apa-apa kena marah jadi menabok kepala mahluk itu, lalu menjambaknya dengan semangat.


"Kenapa marahin Ziziiiiiiii."


Zizi menjambak rambut mahluk itu dengan kedua tangannya, membuat si mahluk kepalanya seperti dikocok-kocok.


"Zi, sudah... Zizi."


Maria menarik tangan Zizi agar melepaskan mahluk itu.


Zizi mendengus.


Tak mau melepaskan begitu saja, Zizi menendang mahluk yang masih pusing itu, membuat mahluk itu terpental ke belakang dan akhirnya memilih menenggalamkan diri.


"Dia miyangga kan?"


Tanya Zizi.


Maria mengangguk.


"Dia juga sering muncul di alam manusia dan makan korban orang yang sendirian di kali."


Kata Maria.


"Makanya Zizi hajar saja."


Kata Zizi emosi.


"Haiiish katanya sabar."


Maria menyindir.


"Lah ini juga Zizi sabar, kalau enggak rambut dia Zizi gundulin."


Kata Zizi.


Shane sendiri sedang menolong membalut kaki bocah kecil yang sudah luka kena gigit itu, sepertinya saat pertama ditarik ia sudah digigit juga, untungnya akar pohon dekat kali itu menolong memegangi tubuhnya.


Zizi dan Maria mendekati Shane dan bocah itu, saat kemudian beberapa kera putih tiba-tiba muncul di sana.


Kera-kera putih itu seketika berubah menjadi perempuan cantik dan juga beberapa laki-laki gagah perkasa.


"Ibuuuu..."


Panggil bocah itu pada perempuan jelmaan si kera putih.


Zizi, Maria dan Shane tampak terkejut.


**----------------**


SELAMAT TAHUN BARU MBA JUWITAAAA... hihihi