Zizi

Zizi
194. Musuh Sepadan


"Hah?"


Zizi membelalakan matanya, kompak dengan Maria.


Shane dan Paman Marthinus yang sama-sama tak paham, memandang si hantu mondar-mandir dan juga Zizi serta Maria.


"Siapa Natalia?"


Tanya Shane akhirnya pada Zizi begitu akhirnya membalas tatapan Shane.


"Natalia, gadis keturunan ular yang diceritakan hantu pelayan butik di mana tempo hari Aunty Maria belanja gaun baru."


Jawab Zizi.


"Gadis keturunan ular?"


Paman Marthinus bertanya.


Zizi mengangguk.


Mereka kemudian memandang si hantu mondar-mandir.


"Darimana kalian para hantu mengenalnya? Dan, apa dia secepat itu gerakannya?"


Tanya Zizi mencecar.


Hantu mondar-mandir mengangguk.


"Ya, dia sangat cepat, banyak hantu sering membicarakan kehebatannya. Di sini, namanya dengan nama Zizi paling sering disebutkan."


Kata si Hantu mondar-mandir.


"Dia sering memakan korban juga, beberapa hantu di kota ini adalah hantu yang merupakan korban dia."


Mendengarnya Zizi terdiam, ia lalu menoleh ke arah Shane dan Maria juga ke arah Paman Marthinus.


"Ah sebentar... sebentar, maksudnya memakan korban itu, apakah korbannya dibunuh atau bagaimana."


Zizi mencoba memperjelas maksud daripada kalimat si hantu mondar-mandir.


"Ya dibunuh dong Nona, masa cuma diputar, dijilat dan dicelupin, itu mah biskuit."


Kata si hantu.


Plak!!


Maria menabok kepala si hantu.


"Aduh."


Hantu itu mengaduh.


"Seirus ini!!"


Bentak Maria.


"Serius Aunty."


Zizi mengingatkan.


Shane mengurut kening.


Ini mereka tim apa sebetulnya.


Bikin lenong saja apa bagaimana? Batin Shane.


"Natalia, dulu dia lama berada di Moskow, dia baru datang ke London satu tahun lalu, aku dengar, sejak kecil ia tinggal di sebuah menara. Menjelang remaja, baru ia dibiarkan berkeliaran seperti saat ini. Ah... Dia dulu pernah mati, sebelum akhirnya hidup lagi."


Si hantu mondar-mandir memberikan informasi.


Zizi tampak mantuk-mantuk.


Lalu,


"Dia bagian dari Andromeda Corporation bukan?"


Tanya Maria.


Si hantu mengangguk.


"Ya, dia salah satu pewaris yang namanya paling tersohor setelah Attala dan Alexander."


Ujar si hantu pula.


Zizi menatap si hantu,


"Kamu kok tahu banyak soal mereka?"


Zizi malah jadi curiga.


Si hantu mengibaskan rambutnya macam model iklan sampo anti kukur-kukur.


"Aku kan dulu wartawan majalah khusus pengusaha."


Kata si hantu.


"Oooh pantesan."


Semua mantuk-mantuk.


"Hampir semua petinggi Andromeda sudah pernah aku wawancara, pun juga perusahaan lain yang dari Asia tapi juga cukup bagus bisnis mereka di Eropa. Sayangnya tinggal dua nama yang paling ingin aku wawancara belum kesampaian."


Si hantu mengenang.


"Pasti Bill Gates."


Tebak Shane.


"Pasti Asep, pengusaha etalase."


Kata Maria tebakannya yang lokal banget.


Marthinus menebak.


Si hantu geleng-geleng kepala.


"Saudara kembar dari Alpha Centauri, aku ingin sekali wawancara mereka. Mister Ziyan yang cool, dan Mister Zion yang cute. Aaah, aku mau sekali jika harus jadi isteri kedua mereka."


Si hantu malah berandai-andai tak jelas.


Shane, Marthinus dan Maria sontak melihat ke arah Zizi.


Zizi wajahnya tampak merah merekah macam muka Banaspati, menandakan jika kemarahan Zizi kini sampai di ujung ubun-ubun.


Dan...


Ciaaaaaaaaaat!!


Zizi menendang si hantu yang masih sibuk berandai-andai dan tak tahu kesalahannya.


Karena tendangan Zizi, si hantu terpental sampai ke Neptunus, nyangkut di atap rumah tingkat dua ribu milik Othor.


"Rasakan."


Kata Zizi begitu berhasil menendang si hantu yang berani membayangkan jadi isteri kedua Papanya.


"Jadi, Natalia memang lawan sepadan untukmu Zi."


Ujar Maria.


Zizi menghela nafas.


"Tak apa, Zizi tidak takut."


Ujar Zizi.


Marthinus kemudian memberikan drone hasil tangkapannya.


Shane mengambilnya.


"Kita lihat mereka mengambil apa saja."


Kata Shane.


Zizi mengangguk.


"Lebih baik kita pulang saja Zi, tampaknya pihak Andromeda sudah mulai menyebarkan mata-mata di sekitar kita sangat banyak. Kita belum tahu, tujuan yang paling utama mereka dalam waktu dekat ini apa sebetulnya, kamu lebih dulu, atau perusahaan."


Ujar Shane.


Zizi melihat ke arah tadi Natalia melesat sangat cepat membawa dua mata-mata yang sudah Zizi tangkap.


Baru kali ini Zizi akhirnya mendapatkan lawan yang sepadan.


Sama-sama keturunan dari nenek moyang yang tak sepenuhnya manusia, dan memiliki kekuatan yang tak biasa.


Natalia, suatu hari, Zizi harap akan bertemu dengannya secara face to face.


"Ayo Zi, benar kata Shane, lebih baik kita pulang saja, kita harus bicarakan semuanya dengan Mamamu lebih serius. Natalia, kita harus pastikan mengawasinya juga mulai sekarang."


Kata Maria.


Zizi mantuk-mantuk.


Shane mengulurkan tangannya ke arah Zizi.


"Ayo."


Ajak Shane.


Zizi menyambut tangan itu, dan keduanya berjalan kembali menuju mobil.


Maria dan Paman Marthinus menatap Zizi dan Shane yang menjauh.


"Aku rasa, target pertama pasti adalah Zizi, karena Jayapada ada di tangannya. Jika Jayapada berhasil dikuasai, barulah mereka akan meruntuhkan Alpha Centauri, dengan begitu kekuasaan mutlak mereka akan pegang. Selebihnya mereka pasti akan mulai dengan mudah mendekati para petinggi, ikut andil menggelontorkan dana untuk banyak calon, setelah itu mereka pegang kendali mengatur semuanya."


Kata Marthinus.


Maria geleng-geleng kepala memandang Marthinus.


"Apa? Kenapa kau geleng-geleng?"


Tanya Marthinus atas reaksi Maria terkait kata-katanya barusan.


"Tak, tak apa, aku hanya kaget kau bisa bicara sedikit berbobot."


Ujar Maria.


Haiiish... Marthinus mendesis sambil berbalik arah untuk menuju mobil yang ia gunakan untuk mengawal Zizi dan Shane.


Maria melayang menyusul, dan lebih dulu melesat masuk ke dalam mobil tanpa membuka pintunya lebih dulu tentu saja.


Dua mobil milik Shane dan Marthinus pun kini mulai bergerak meninggalkan pantai, dengan posisi yang sama sebagaimana saat berangkat


Mobil yang dikendarai Shane berada di depan, dan mobil yang dikendarai Marthinus ada di belakang.


Sementara itu, di tempat yang sudah jauh dari sana, di dekat hutan kota, dua mata-mata yang dibawa Natalia dari tangan Zizi dan Shane kini tergeletak sudah tak bernyawa.


Dengan kondisi mereka tulangnya remuk dan juga sekujur tubuh lengket penuh cairan beraroma busuk.


Suara desisan ular besar terdengar cukup jelas, seiring dengan sesuatu yang tampak bergerak melata di bawah tanah masuk ke dalam hutan kota lalu menghilang sama sekali.


Dua mayat para mata-mata itu, kelak ditemukan beberapa anak muda yang tak sengaja melintas di sana, dan langsung melaporkannya ke polisi yang kemudian ditindak lanjuti.


"Penemuan mayat dengan kondisi serupa dalam kurun waktu satu tahun terakhir kini semakin meningkat, di curigai ular besar kini tinggal di tengah kota dan tak hanya satu, para warga masyarakat dihimbau untuk lebih waspada dan menghindari tempat yang jauh dari keramaian seorang diri. Kepolisian akan melakukan patroli lebih intens mulai hari ini hingga ular-ular itu ditemukan, jika ada informasi terkait keberadaan ular atau apapun yang berhubungan dengan ular, silahkan langsung menghubungi pihak kepolisian terdekat."


Berita di TV pun dalam sekejap dipenuhi berita mayat dua mata-mata tersebut.


**-------------**