
"Anda akan ke mana Nona, ini adalah jalan pintas tercepat."
Raja Dalu yang turun juga dari atas harimau menghampiri Zizi yang terlihat seperti tengah mencari jalan lain.
"Sebetulnya telaga apa ini? Saat berangkat pun Zizi bertemu dengan siluman ikan yang memiliki banyak sekali tahanan manusia, bahkan anak-anak."
Zizi memandang Raja Dalu dan juga para harimau loreng.
"Ini sejatinya adalah telaga sunyi yang masih satu jalur dengan telaga di Gunung Slamet. Telaga ini memang dihuni banyak sekali siluman, penguasa yang sebetulnya adalah ular besar yang merupakan ksatria keturunan Patih Balasanggeni yang memilih menjadi siluman."
Tutur Raja Dalu.
"Jaka Lengleng, dia Pamanku."
Kata Zizi.
Raja Dalu mengangguk.
"Dia berpindah ke hutan ke tujuh sejak tahu akan ada keturunan Bandapati yang suatu hari bakal menginjakan kaki di tanah Merapi."
Lanjut Raja Dalu pula.
Zizi kemudian beralih menatap telaga yang kembali diselimuti kabut putih tipis yang menghalangi pandangan.
"Banyak manusia menghamba pada para siluman Nona, nyatanya mereka memang ingin mendapatkan kesuksesan tanpa terlalu bersusah payah. Meskipun risikonya adalah mereka akhirnya merasakan susah itu setelah mati."
Kata Raja Dalu.
Zizi mengangguk.
"Kita lewat yang dulu Zizi berangkat saja, tak apalah tak usah lewat jalan pintas."
Kata Zizi lagi.
Raja Dalu kemudian tersenyum.
Ya, jika dilihat sepintas, Zizi memang sangat mirip dengan Moyangnya si Bandapati.
Tapi bagaimanapun, ia masih manusia biasa, hatinya masih bekerja dengan baik, mudah tersentuh dan merasa iba, wajar jika ia tak mau berjalan di atas jembatan manusia.
Semua akhirnya mengikuti kemauan Zizi.
Mereka berjalan memutar lebih jauh, hingga hari akhirnya tengah malam.
Hutan ke lima di kejauhan telah tampak, di seberang telaga yang kini ada di hadapan mereka lagi.
Sampan yang digunakan saat berangkat masih terlihat teronggok di sana.
Pasukan harimau berubah menjadi laki-laki perkasa. Mereka adalah para prajurit Tanah Dalu yang memang selama ini juga berusaha mencari Raja mereka karena saat berangkat terpisah tempat.
Keberadaan Raja Dalu di tempat Grandong yang terlindung bahkan dari pandangan lelembut lain, membuat para prajurit Tanah Dalu pun kesulitan menemukan sang Raja.
Kini mereka tinggal satu langkah lagi, yaitu menemukan sang Ratu, dan itu bisa terjadi karena mereka kini bersama Zizi.
Zizi naik ke sampan bersama Raja Dalu dan Shane.
"Kak Seng, jangan seperti saat berangkat, nanti Raja oleng."
Kata Zizi pada Shane yang lantas mengangguk mengerti.
Mereka pun menyebrangi telaga yang cukup besar itu.
Para pasukan harimau yang telah menjelma laki-laki gagah, terlihat berlari di atas air dengan gerakan yang sangat cepat.
Zizi mendengus.
"Mereka bisa menyebrang begitu ngapain mau lewat jembatan manusia."
Kesal Zizi.
"Kalau jadi harimau dan membawa kita mereka tak bisa lari di atas air Nona."
Kata Raja Dalu.
"Aaah begitu, kirain males."
Ujar Zizi.
Zizi menatap langit malam yang hitam pekat. Tak ada bintang juga tak ada rembulan.
Lolongan serigala terdengar sayup-sayup dari kejauhan, bersahut-sahutan, mengingatkan Zizi akan Paman Timus di Inggris.
Zizi menghela nafas.
Sebentar lagi, hanya tinggal sebentar lagi semua selesai, ia akan pulang dan istirahat. Batin Zizi.
Tak lama, sampan yang mereka tumpangi akhirnya mendekati tepian telaga.
Zizi melompat turun, lalu disusul Raja Dalu dan baru kemudian Shane.
Zizi sekali lagi menatap telaga yang baru ia sebrangi.
Entah kenapa Zizi merasa ada yang mengawasinya dari dasar telaga. Sesuatu yang sangat besar, seperti seekor ular.
Ya...
Zizi terdiam sejenak.
Mungkinkah Paman Jaka Lengleng?
Haruskah Zizi temui dia lagi dan menyelesaikan semuanya sekarang?
Tapi...
Ah Zizi lagi-lagi ingat perutnya belum di isi, ia benar-benar lapar.
"Raja, boleh Zizi keluar dulu, Zizi lapar."
Kata Zizi jujur.
Zizi memang tak pernah bisa jaim dan selalu apa adanya, sikap dan bicaranya, mau orang suka atau tidak, Zizi ya Zizi.
"Baiklah Nona, hati-hati, kami menunggu Nona di sini."
Kata Raja Dalu.
Zizi mengangguk.
"Kita keluar berarti kota apa ya kira-kira?"
Tanya Zizi.
"Sepertinya Cirebon."
Ujar Mintul yang dari tadi diam saja.
"Oh baguslah, banyak makanan enak, ayuk kita kemon."
Kata Zizi semangat.
Zizi akhirnya menuju dua batu besar yang seperti biasa adalah pintu menuju alam manusia.
Zizi yang diikuti tim raberesnya, langsung capcus pergi kulineran.
Jedug!!
Begitu masuk dunia manusia, Zizi ternyata nabrak gerobak nasi ayam yang mangkal di pinggir jalan.
Zizi mengusap kepalanya.
Dasar lelembut, bikin pintu keluar masuk asal saja. Batin Zizi.
Dan...
"Aaaaaaaaa..."
Orang-orang yang sedang makan lesehan nasi ayam begitu melihat Zizi yang tiba-tiba muncul langsung lari tunggang langgang.
Zizi melongo, begitu juga penjual nasi ayam yang tampak dolap-dolop bingung.
Mau lari tidak bisa ninggalin gerobak nasi ayam jualannya, tidak lari takut setengah mati mengira Zizi kuntilanak atau sebangsanya karena tiba-tiba saja muncul.
Belum lagi penjual itu jantungnya normal lagi, tiba-tiba kini Shane juga keluar dari dunia lelembut.
Debug!!
Shane kali ini jatuh duduk di dekat penjual nasi ayam.
"Ka... Kalian in...iniii apaaaa..."
Penjual nasi ayam itu akhirnya lari, tapi Maria dan Mintul langsung melayang dan memegangi penjual itu hingga tak bisa lari lagi.
Zizi geleng-geleng kepala.
"Pak, sini cepet, Zizi lapaaaaar!!!"
Kata Zizi sambil duduk lesehan tanpa rasa bersalah.
Jidatnya masih terasa sakit karena kejedot gerobak.
Penjual nasi ayam ditarik Maria dan Mintul mendekati Zizi.
Zizi menggebrak meja, seperti iklan MICIN tahun 1990an.
"Buatkan aku nasi ayam yang enak!!"
Kata Zizi.
Penjual nasi ayam jadi ingat jaman bocil dulu pernah melihat iklan semacam itu.
"Ada menu apa aja Mang?"
Tanya Zizi.
Penjual nasi ayam itu menatap Zizi dengan kening berkerut-kerut macam rok rempel.
"Tenanglah Mang, kami manusia."
Ujar Shane yang mengerti penjual nasi itu terlalu syok dengan kedatangan mereka yang ujug-ujug.
"Bagaimana bisa manusia tiba-tiba saja muncul di dekat gerobak?"
Penjual nasi ayam itu masih merasa apa yang ia lihat terlalu tidak masuk akal.
"Anggap saja kami seperti Harry Potter, Mamang tahu kan, film Harry Potter?"
Tanya Shane.
"Ya ya... dulu pernah nonton waktu pacaran sama istri."
"Nah ntu dia, kita itu persis."
Zizi mengacungkan jarinya.
Penjual nasi ayam jadi melompat.
"Jadi kalian penyihir."
"Iya baelah, makanya cepetan nasi ayamnya, Zizi lapaaaaaaaaar!!"
"Ah... Ah... iya nona penyihir, saya buatkan nasi ayamnya."
Penjual nasi ayam itupun tergopoh-gopoh bersiap melayani.
"Berapa porsi Non?"
Tanya penjual nasi ayam.
"Buatkan sepuluh porsi, nasi ayam goreng, nasi ayam bakar, kasih tahu goreng juga, sambelnya jangan lupa yang banyak. Zizi bayar dua juta, cepet!!"
Kata Zizi.
Ha?
Ini penyihir tajir. Batin Penjual ayam.
**------------**