Zizi

Zizi
32. Pocong Absurd


"Zi..."


Zion yang baru keluar dari ruang kerjanya di kantor dan baru akan pulang ke rumah melihat Zizi yang seperti berjalan melewati ruangannya dan kemudian menghilang.


Zion mengerutkan kening.


Apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Zizi?


Zion meraih hp dari jas nya, lalu segera menelfon Zia yang masih berada di Rumah Sakit menunggui Ali.


"Ada apa Pa?"


Terdengar suara Zia bertanya saat mengangkat panggilan dari Zion.


"Zizi, aku melihat Zizi di kantor."


Kata Zion panik.


Ia celingak-celinguk tapi sudah sepi.


Jelas saja, ini sudah lewat jam sembilan malam, tak ada yang lebih gila kerja daripada dia.


Bahkan karyawannya saja yang ingin carmuk lebih memilih menyerah jika harus tetap terlihat masih kerja saat bos nya keluar dari ruangannya.


"Zizi? Bagaimana bisa? Kepala pelayan menelfonku siang tadi jika Zizi kembali bersama Shane."


Ujar Zia.


"Zizi sudah kembali?"


Zion terdengar lega, namun juga akhirnya merinding melihat ujung koridor yang gelap.


"Kamu masih di kantor?"


Tanya Zia.


"Ya, aku baru mau pulang, Joni dan yang lain sepertinya turun ke lantai bawah, mungkin mencari makan."


Zia menghela nafas.


"Tentu saja, kamu selalu tak ingat waktu jika kerja, aki besok pulang bersama Zizi dan Shane, aku akan masak untukmu, jadi besok malam jangan lembur."


Kata Zia.


"Baiklah sayang."


Sahut Zion.


"Ah aku lupa."


Zia tiba-tiba ingat kedatangan Nyi Retnoasih.


"Nenek Retnoasih datang memarahiku soal Zizi, besok saja aku akan ceritakan."


"Soal apa? Kenapa kamu dimarahi?"


Zion penasaran.


Zia menghela nafas.


"Jayapada, semua berhubungan dengan pusaka itu."


Terang Zia.


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya, besok saja cerita setelah pulang, kamu juga pasti kurang istirahat."


"Ya, aku mulai lelah, besok Kak Ziyan akan datang, jadi aku bisa meninggalkan Kak Aisyah dan Ali."


"Ali bagaimana? Sudah lebih baik kondisinya?"


Tanya Zion kembali menghawatirkan keadaan sang keponakan, bersamaan dengan itu terlihat pintu lift dekat ruangan Zion terbuka dan muncul Joni dari sana.


"Ali sudah lebih baik, hanya saja dia sepertinya jadi bisa melihat hantu."


Kata Zia.


"Benarkah?"


"Ya, yang semula ia hanya bisa merasakan energi mereka saja, sekarang ia bisa melihat hantu."


Ujar Zia.


"Bagaimana bisa?"


"Entahlah, aku rasa karena dia terseret ke alam lain, tapi kekuatannya yang datang saat kecil juga datang secara tiba-tiba bukan?"


"Ya, tentu saja. Ali tak memiliki darah sebagaimana kamu dan Zizi."


Kata Zion.


"Apa dia syok?"


Tanya Zion kemudian karena Zia diam saja.


"Sedikit, dia melihat dokter masuk ke dalam ruangannya, tapi wajahnya rusak, ada kisah jaman dulunya memang ada dokter yang bertugas di sana meninggal kecelakaan hebat saat akan berangkat ke Rumah Sakit."


"Ah mengerikan."


Zion bergidik.


"Sudah Zia jangan diteruskan, kamu tahu kan, aki tidur sendirian lagi malam ini."


Kesal Zion.


Zia terdengar cekikikan.


"Kamu tahu apa yang dilihat Ali barusan?"


Zia malah kumat jahilnya.


"Haiiish... sudah aku budek aku budek."


Kata Zion tak mau mendengar lagi.


Zia terpingkal di kejauhan.


Zion mengakhiri pembicaraannya dengan sang isteri, lalu menyimpan hp nya kembali ke dalam jas.


Tanya Joni.


Zion mengangguk.


Joni pun mengambil alih beberapa berkas di tangan Zion lalu mengiringi Zion menuju lift.


Zion kembali menatap ujung koridor lantai itu, gelap, sepi, tak ada siapa-siapa, tapi entah kenapa ia merasa ada yang mengawasinya dari sana.


**-----------**


Mbak Pocong, Maria dan Shane menatap benda di depan mereka.


Benda seperti batu kecil yang berkilauan itu mereka letakkan di atas meja di kamar Shane.


"Aku rasa ini milik Lori."


Kata Shane.


Mbak Pocong dan Maria menoleh pada Shane.


Shane mengangguk ke arah keduanya.


"Kapan Mbak pocong melihatnya?"


Tanya Shane.


"Saat aku dan Tuan Muda Ali kembali."


Jawab Mbak pocong.


"Benda ini ikut terpental keluar, aki sempat melihatnya tapi kemudian lupa karena melihat para pengawal berdatangan masuk ke dalam gudang dan Tuan Muda Ali tak sadarkan diri.


"Kenapa batu ini ikut terbawa?"


Gumam Maria heran.


"Aku rasa ada takdir yang akan mengikuti Tuan Muda Ali."


"Maksudnya Tuan muda Ali dan Lori?"


Tanya Maria.


Shane mengangguk.


"Ya sepertinya begitu."


Maria mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, berikan saja batu ini pada Tuan Muda Ali."


Kata Maria.


"Biar Nona Zizi saja yang berikan."


"Ah yah, benar, biar Zizi saja."


Maria mantuk-mantuk.


Shane terdiam dan kembali menatap batu berkilauan milik Lori tersebut.


"Zizi, aku tahu kau mengkhawatirkannya Shane, sama sepertimu, aku juga begitu."


Kata Maria.


Shane mengalihkan pandangannya lagi pada Maria.


"Sebaiknya kita segera berangkat ke Merapi begitu sampai di Indonesia."


Ujar Shane.


"Sebelum Nona Zizi harus berurusan dengan mahluk jahat lain dan ia akhirnya juga menggila."


Tambah Shane lagi.


Maria mengangguk setuju.


"Menurutmu apa Zizi sudah sangat kritis?"


Tanya Maria.


"Ya Aunty, empat saudaranya sudah menjadi jahat, kau tahu jika manusia memiliki empat saudara kembar yang mengikutinya dan akan menjadi apapun yang bisa mempengaruhi si manusia?"


Maria mengangguk.


"Jika dibiarkan, Zizi juga sebentar lagi akan seperti mereka. Di mana energi gelap dan hitam, energi yang sangat jahat, melingkupi mereka semua."


Mendengar itu Mbak pocong bergidik ngeri. Kembali ia teringat bagaimana Zizi membantai seluruh raksasa dengan beringas.


Zizi yang menebaskan pedangnya dengan cepat, melompat dengan gerakan seperti kilat, matanya tajam menyala-nyala seperti menikmati saat ia membunuhi mahluk-mahluk besar di depannya, dan seringainya...


Mbak Pocong melihat seringai yang sangat jahat di wajah Zizi.


"Dia akan menjadi setengah monster jika dibiarkan, bukan hanya hantu dan bangsa lain, namun juga ia bisa membantai manusia."


Lirih Shane.


Maria menepuk bahu Shane.


"Kau pasti bisa melindunginya Shane, dan kami bersamamu.".


Kata Maria.


Mbak pocong menatap kedua teman satu tim nya.


"Apa kami itu termasuk aku? Apa aku boleh mengundurkan diri?"


Tanya Mbak Pocong.


Maria dan Shane menatap mbak pocong dengan kesal.


Dan sebelum kena tendang, mbak pocong langsung melarikan diri.


**-----------**