Zizi

Zizi
185. Natalia Sapta Wijaya


Zizi berjalan menuju jalan yang kalau di dunia manusia itu adalah lorong kecil untuk lewat kucing saja.


Maria melayang di belakangnya sudah memakai gaun baru dan juga membawa beberapa gaun lain di tas belanjanya.


Zizi melompat ke dunia manusia, tepat saat ada kucing akan masuk lorong mindahin anaknya.


Kaget kucing melihat Zizi yang tiba-tiba nongol membuat anaknya jatuh ke jalanan, dan si kucing melompat ke arah Zizi.


"Hey!"


Zizi yang juga kaget karena diserang kucing menghindar sampai kejedot dinding butik.


Maria cekikikan.


"Kalah sama kucing."


Kata Maria.


"Lah dia serangan mendadak."


Sahut Zizi tak mau kalah.


Kucing itu mengambil anaknya lagi dan segera berlari masuk ke dalam lorong sempit.


Jalanan terlihat sepi, berbeda dengan saat tadi Zizi dan Maria baru sampai.


Mungkin karena sudah beranjak siang.


"Mama belum selesai apa ya?"


Zizi kemudian masuk ke butik di mana Mamanya tadi masuk bersama Nancy.


Tampak Zizi celingak-celinguk, sampai seorang pelayan menghampiri, menanyakan Zizi hendak mencari gaun apa.


Belum lagi Zizi menjawab, tiba-tiba terdengar suara Nancy memanggil.


"Nona Zizi."


Zizi menoleh ke arah Nancy yang terlihat melambai ke arahnya.


Zizi pun bergegas menuju ke arah Nancy, sementara Maria yang baru ikut masuk tampak lebih memilih berkeliling saja.


Ia ingin melihat-lihat gaun manusia dibutik manusia.


"Mama di ruangan VVIP."


Ujar Nancy.


"Tumben Mama betah di butik."


Kata Zizi, membuat Nancy tersenyum.


"Beliau sedang membicarakan tentang gaun untuk anda."


Kata Nancy.


"Di Indonesia juga banyak perancang bagus, kenapa harus beli di sini semua?"


Zizi geleng-geleng kepala.


"Ini untuk acara kecil di sini Nona, di Indonesia Nyonya Zia akan mengurus di Indonesia juga."


Terang Nancy saat kemudian keduanya beriringan menuju ruangan khusus untuk melayani tamu kelas atas.


"Maksudnya, acara akan diadakan dua kali?


Tanya Zizi kepada Nancy.


Nancy mengangguk.


Di London dulu, setelah Shane selesai study, baru akan ada resepsi besar di Indonesia."


Kata Nancy.


"Oh, begitu rupanya."


Zizi mantuk-mantuk.


Sampai di depan ruangan seorang pelayan membukakan pintu untuk Zizi masuk ke dalam.


Zia tampak sedang berbincang dengan perempuan separuh baya sambil memangku buku berisi gambar rancangan gaun yang indah-indah.


"Zizi, ke mari nak."


Kata Zia meminta Zizi duduk di sampingnya.


Zizi membungkuk pada perempuan separuh baya yang duduk berbincang bersama Mamanya.


Sebelum kemudian Zizi akhirnya duduk di samping sang Mama.


"Jadi ini putrinya yang akan segera menikah Nyonya?"


Tanya si Ibu separuh baya itu.


Zia mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, ini anaknya."


Kata Zia.


"Sangat cantik."


Kata si Ibu separuh baya, yang sepertinya merupakan pemilik butik.


Ibu separuh baya itu tiba-tiba berdiri.


"Saya akan ambilkan yang paling tepat untuk Nona Zizi, tunggulah sebentar."


Kata perempuan saparuh baya itu, yang kemudian berjalan ke sisi kanan ruangan, di mana di sana juga ada ruangan khusus.


Perempuan separuh baya itu masuk ke sana,


Sepeninggal pemilik butik, Zizi kemudian bicara pada Mamanya.


"Mama harus tahu ini Ma."


Kata Zizi.


"Apa?"


Tanya Zia heran melihat ekspresi anaknya tumben begitu serius.


Tanya Zizi.


"Ya, kenapa?"


Tanya Zia.


"Pemiliknya, apakah juga sama dari perusahaan Andromeda Ma?"


Zizi balik tanya.


"Ya, Mama tak tahu banyak, tapi sepertinya perusahaan itu pemiliknya, sama seperti Alpha Centaury milik Kakek."


Zizi mantuk-mantuk.


"Berarti, salah satu petinggi, atau bahkan pendiri perusahaan itulah keturunan Paman Jaka Lengleng."


Kata Zizi.


Zia yang sebetulnya sejak awal juga telah curiga dengan keluarga Hary Sapta, tampak tetap terkejut manakala Zizi mengatakan hal itu dengan gamblang.


"Bagaimana kamu punya kesimpulan itu?"


Tanya Zia.


"Barusan, di butik tempat Aunty Maria beli gaun, seorang pelayan bicara pada kami soal perempuan manusia percampuran ular datang beberapa waktu lalu dan mengamuk di sana."


"Perempuan manusia dan ular?"


Zia menatap Zizi.


"Iya Ma, katanya perempuan itu sempat menyebut nama Andromeda, dan sepertinya memang dia bukan manusia dari kalangan biasa. Bukankah penghianat itu lari ke Eropa juga? Apa dia di Inggris Ma?"


Tanya Zizi.


Zia menghela nafas.


"Tuan Hary Sapta sepertinya memang tinggal di Inggris, tapi sempat ada kabar juga ia pindah ke Italia, jadi entahlah, Mama tak begitu tahu, tapi yang jelas, dulu Veronika Wijaya, salah satu cucunya yang sempat akan menikah dengan Papa itu pulang ke Indonesia dan jadi hantu."


"Hantu?"


Zia mengangguk.


"Tapi tidak jahat Zizi, dia justeru menolong Mama."


Zizi mengerutkan kening.


"Veronika Wijaya, apa dia cantik Ma?"


"Cantik, sangat cantik, saat dia jadi artis, waktu dia bertunangan dengan Papa, dia jadi brand ambassador untuk banyak prodak."


Kata Zia.


"Perempuan itu juga katanya sangat cantik."


Gumam Zizi.


"Jika memang keluarga Hary Sapta ada hubungan dengan Paman Jaka Lengleng, maka kita patut lebih hati-hati. Sudah jelas yang akan mereka incar bukan hanya Jayapada, tapi juga Alpha Centaury."


Kata Zia.


Zizi mengangguk.


"Zizi akan melindungi Jayapada, dan Kak Seng yang akan melindungi Alpha Centaury."


Kata Zizi.


Nancy yang mendengar Zizi berkata demikian dengan optimis tentu saja kembali terharu.


Ah sungguh, nonanya ini, kekasih putranya ini, betapa ia sangat manis. Batin Nancy.


Bersamaan dengan itu perempuan separuh baya pemilik butik muncul lagi dan membawa satu buku besar.


"Saya memiliki desain gaun yang sangat cantik yang tak semua pelanggan saya tunjukan."


Perempuan itu membawanya mendekati Zia dan Zizi, lalu menyerahkannya pada Zia.


"Ini adalah desain gaun pengantin yang mewah, elegan dan sangat cantik. Kami membuatnya dengan sangat hati-hati, beberapa permata akan menghiasi gaun ini di bagian dada."


Pemilik butik tersebut menjelaskan kemudian dengan sangat terperinci apa saja kelebihan gaun-gaun pengantin dengan desain eksklusif yang mereka miliki.


Zia dan Zizi melihat gambar desain itu satu demi satu.


Hingga ada satu gambar gaun yang di tandai dengan satu guntingan kain sutra.


"Ini indah sekali."


Puji Zia.


Nancy yang penasaran ikut duduk di samping Zia dan ikut melihat.


"Ah ya, sangat indah."


Kata Nancy pula.


Pemilik butik tentu saja tersenyum mendengarnya.


"Ya itu salah satu gaun terindah yang dipesan tahun ini."


Kata Pemilik butik.


"Jadi ini sudah ada yang pesan?"


Tanya Zia.


Pemilik butik itu mengangguk membenarkan.


Zia dan Nancy tampak kecewa.


"Pesanan masuk dua bulan lalu, dan baru selesai kami garap awal bulan ini, sangat cantik dan indah Nyonya, ini karena calon mempelai putri juga sangat cantik. Sama seperti Nona Zizi."


Tutur pemilik Butik.


Lalu...


"Andromeda Putra Corporations, Tuan Alexander Sapta Wijaya, beliau dan calon isterinya yang langsung memesannya atas rekomendasi salah satu pelanggan kami yang juga saudara Tuan Alex, Natalia Sapta Wijaya."


**-----------------**