Zizi

Zizi
132. Rahasia Nenek Moyang


Zizi terlihat menatap sekelilingnya yang kini tampak gelap. Aroma lembab menusuk hidungnya.


Suara geraman kembali terdengar, Zizi segera berlari menuju ke arah suara geraman itu.


Makin lama Zizi pun makin jauh, dan ruangan yang semula gelap gulita itu lama-lama terlihat mulai terang.


"Aliiii... Di mana kauuuu..."


Zizi teriak memanggil Ali, berharap Ali segera menyahut.


Ali di tempatnya yang kini tengah dicekik oleh mahluk aneh seperti kakek-kakek itu berusaha melepaskan diri.


Ali bisa mendengar suara Zizi, ia ingin menjawab panggilan Zizi.


"Aliiii... Di mana kaaauuu..."


Suara Zizi kembali terdengar.


Ali menatap mahluk yang kini mencekiknya itu menyeringai.


"Berikan tubuhmu... Nenek moyangmu dulu sudah berjanji akan memberikan tubuh keturunannya untukku!"


Geram si mahluk aneh.


Ali menggeleng.


Tidak! Tidak akan!! Batin Ali.


"Dia hutang padaku... Dia hutang padakuuuuuu!!"


Suara mahluk itu meninggi, dan justeru akhirnya bisa didengar Zizi.


Zizi begitu mendengar suara si mahluk seperti dari arah kirinya langsung berbelok ke arah suara itu terdengar.


Zizi berlari sangat cepat, ruangan demi ruangan yang lembab dilewatinya, hingga...


"Hey jelek! Lepaskan Ali!"


Zizi membentak sambil melompat ke arah mahluk aneh yang kini tengah mencekik Ali.


Mahluk yang kemudian mendapat tendangan dari Zizi itu seketika terpental.


Cekikannya pada leher Ali terlepas.


Zizi yang kadung kesal tentu saja kembali menerjang mahluk itu, membabi buta Zizi mengamuk seolah tak ada ampun.


Ali tampak terduduk di lantai yang lengket, ia memegangi lehernya yang sakit sambil melihat Zizi yang menghajar si mahluk aneh yang tadi mencekik Ali.


Ali terlihat wajahnya pucat.


"Apa tadi dia bilang? Nenek moyangku memiliki hutang padanya, dia bahkan berjanji akan memberikan tubuh dari keturunannya untuk mahluk itu? Apa maksudnya?"


Ali bergumam sendirian.


Tanya yang jelas langsung mengganggu dirinya begitu mendengar mahluk itu mengatakan tentang janji sang nenek moyang.


Ali jadi ingat kata-kata Ayah Zanuba, jika kekuatan Ali berbeda dengan Zizi yang merupakan warisan.


Ali harus mencaritahu kenapa kekuatan itu berubah-ubah pada dirinya.


Sementara itu, Zizi yang kini masih mengamuk mulai mengeluarkan jayapada.


Mahluk aneh yang sudah tersungkur dan tak lagi mampu menghadapi serangan Zizi yang sangat cepat, baik tendangan dan pukulannya kini hanya mampu pasrah menatap jayapada di tangan Zizi yang seolah siap menghancurkan dirinya.


Lalu...


Zizi melompat sambil mengayunkan pedangnya yang berkilat-kilat keemasan, dan...


"Kak Zizii..."


Tiba-tiba Ali memanggil Zizi dan menghambur ke arah Zizi dan mahluk itu.


"Jangan Kak..."


Kata Ali.


Zizi tentu saja menoleh pada Ali, dan memandang sepupunya itu dengan heran.


"Aku ingin menanyakan sesuatu dulu."


Kata Ali.


"Pada si jelek ini?"


Tanya Zizi seraya mengacungkan ujung pedangnya ke wajah si mahluk yang ketakutan melihat jayapada di tangan Zizi.


Ali mengangguk.


Zizi menghela nafas.


"Apa yang ingin kamu tanyakan? Cepatlah, aku akan membunuhnya."


Kata Zizi sambil kembali beralih menatap tajam mahluk aneh yang tadi mencekik Ali.


Ali kemudian berdiri di sisi Zizi yang masih mengacungkan pedangnya ke arah si mahluk aneh.


"Kau... Apa yang Nenek moyangku minta darimu hingga ia menjanjikan tubuh anak keturunannya?"


Tanya Ali akhirnya.


Mahluk aneh itu menyeringai pada Ali.


"Rupanya kau ingin tahu?"


Mahluk aneh itu seolah kembali di atas angin.


Tapi...


"Jawab saja, tidak usah bertele-tele."


Kata Zizi.


Mahluk itu pelahan bergeser mundur ke belakang.


"Turunkan dulu dan jauhkan pedang itu dariku."


Kata mahluk aneh itu.


Ali menatap Zizi yang sepertinya tidak ikhlas, tapi karena Ali seolah sungguh-sungguh butuh jawaban si mahluk aneh itu akhirnya Zizi mengalah.


Pelahan Zizi pun menarik pedangnya.


Mahluk itupun berdiri, ia yang sangat tinggi itu kini berada di depan Zizi dan Ali yang sangat kecil.


"Nenek moyangmu memintaku melakukan tugas yang sangat berat di masa lalu, janjinya sudah kutunggu sekian lama, dan akhirnya kau lahir Ali, kau yang dijanjikannya padaku."


Kata si mahluk aneh.


"Tugas berat apa? Memangnya Nenek moyangku kenapa?"


Tanya Ali.


Mahluk itu tiba-tiba tertawa.


Dan kedua tangannya tiba-tiba menggapai Zizi dan Ali lalu melemparkan mereka dengan cepat.


"Kau cari tahu sendiri anak muda, hahahaaha..."


Mahluk itu tertawa.


Zizi dan Ali terpental keluar dari ruangan beda alam itu.


Keduanya tiba-tiba kembali ke alam manusia dan kini melayang dari lantai lima menuju jatuh ke bawah.


Di dunia manusia, yang ternyata sudah malam terlihat di depan hotel ramai mobil polisi.


Zizi dan Ali yang menuju jatuh teriak macam naik roller coaster, yang untungnya Shane yang masih berusaha mencari cara menemukan Zizi dan Ali mendengar teriakan mereka.


Shane segera melompat keluar dan melihat Zizi dan Ali yang sudah nyaris jatuh di atas parkiran langsung melesat menangkap tubuh keduanya dan segera membawa mereka naik ke atap hotel.


Zizi dan Ali terbatuk-batuk karena terlalu kencang teriak.


"Mahluk itu, tangkap mahluk itu dan hancurkan dia Kak Seng."


Zizi kesal bukan main.


Ali masih terbatuk-batuk, Shane membantu Ali agar batuk tuan mudanya itu reda.


"Nanti kita bereskan lagi Nona, Tuan Zion di dalam bersama Nyonya Zia, hotel kacau karena tadi ada pasangan yang katanya pintu kamarnya dijebol Nyonya ngamuk-ngamuk."


Tutur Shane.


Zizi membulatkan matanya.


"Benarkah Kak Seng? Lalu bagaimana?"


Tanya Zizi.


Shane tersenyum tipis.


"Ya Tuan Zion turun tangan sendiri menenangkan mereka."


Kata Shane.


Zizi kemudian menatap langit.


"Hari sudah malam, padahal sepertinya aku baru sebentar di sana."


Lirih Zizi.


Lalu Zizi menatap Ali...


Ali sudah tidak batuk, namun ia sepertinya masih sedikit syok.


Bukan syok nyaris jatuh di atas parkiran sepertinya, tapi syok karena apa yang baru ia dengar dari mahluk aneh tadi.


Zizi mendekat ke arah Ali.


"Hey, jangan bengong."


Kata Zizi menepuk bahu Ali.


Ali menatap Zizi.


"Kak, kira-kira apa benar yang dikatakan mahluk itu?"


Tanya Ali.


Zizi menatap Ali, menatap Shane lalu menatap Ali lagi.


"Dia berani mengikutiku, menggangguku dan berusaha mengambil tubuhku adalah karena ia merasa berhak."


Ujar Ali.


Zizi menghela nafas, lalu mengajak Ali berdiri.


"Nanti kita akan cari tahu Ali, kita ikuti saran Ayah Zanuba, pergi ke hutan silukman."


Kata Zizi tegas.


Ali mengangguk.


Tapi dipikir-pikir bukannya kata Ayah Zanuba hutan siluman? Kenapa kak Zizi bilang hutan silukman? Apa itu hutan yang sama?


Ali tiba-tiba jadi bego.


Ah ini pasti karena kurang istirahat. Ya kan Ali?


**------------**