Zizi

Zizi
27. Naga Jayapada


Lori, Ali dan Shane sedang menuju ke arah lantai satu istana Oracle di mana suara Zizi berasal, ketika tiba-tiba tangan Lori mengeluarkan cahaya berkilauan.


Lori menghentikan langkahnya, cepat ia membuka telapak tangannya dan terlihat batu kecil yang berkilauan di tangannya itu melayang di udara.


Lori menatap batu kecil berkilauan itu, begitu juga dengan Ali dan Shane.


"Kau pasti merasakan batu sakti di tongkat Oracle, tunjukkan pada kami sekarang."


Kata Lori.


Batu kecil berkilauan itu kemudian bergerak menjauh menuju satu tempat di lantai itu, Lori segera mengejarnya, Ali mengikuti Lori, demikian juga dengan Shane.


Hingga tiba-tiba, dari sebuah ruangan, terlihat pintu ruangan itu terbuka, dan kemudian muncul seonggok peri berkulit hitam, memakai gaun merah dengan pita hijau dan rambut mengembang.


Ia memegang tongkat di tangannya.


"Shilba Dolores."


Gumam Lori dengan langkah tertahan begitu melihat sosok peri itu.


Peri yang sekian puluh tahun ini cukup ditakuti oleh peri lain karena kutukannya, dan yang dulu dijauhi karena ia berbeda.


Shilba Dolores yang kemudian merasakan ada energi lain di lantai itu langsung menoleh ke arah Lori dan Ali serta Shane.


"Kalian penyusup!!"


Kata Shilba Dolores.


Peri itu mengacungkan tongkat saktinya ke arah Lori yang kemudian seperti mengeluarkan gelombang yang sangat kuat hingga Lori terpental ke belakang.


Ali yang melihat Lori terpental segera meraih tubuh Lori. Tampak Lori memuntahkan cairan seperti darah.


Shilba Dolores mencoba mengacungkan tongkatnya lagi ke arah Lori, tampaknya ia tahu jika Lori adalah cucu dari Meri, dan dialah satu, satunya peri di antara mereka.


"Berani-beraninya cucu peri busuk Meri datang ke sini!!"


Shilba Dolores meraung, ia menatap Lori yang kini kepalanya dipangku Ali.


"Enyahlah kalian bangsa periiiiii .."


Teriak Shilba Dolores mengutuk.


Gelombang itu kembali menuju Lori, namun Ali segera melindungi Lori hingga gelombang kutukan itu mengenai Ali.


Ali memuntahkan darah.


Shane yang tadi pada serangan Shilba Dolores yang pertama sempat terkena dan juga terpental, berusaha kembali berdiri dan segera melompat melesat ke arah Shilba Dolores.


Shane berusaha merebut tongkat itu, namun Shilba Dolores dengan cepat menghentakkan telapak tangannya mengeluarkan kekuatan tak terlihat yang menghempaskan Shane hingga ke lantai satu.


Shane tergeletak di atas lantai, ia memegangi dadanya yang panas.


Zizi yang semula sudah menaiki anak tangga untuk naik ke lantai berikutnya karena melihat Shane terjatuh di lantai satu akhirnya segera turun lagi.


"Kak Seng."


Panggil Zizi.


Shane menatap Zizi yang kini menghampirinya.


Shane melihat Shilba Dolores muncul di belakang Zizi dan akan mencelakai Zizi.


"Nona, awas!"


Teriak Shane.


Zizi yang merasakan ada energi lain mendekat dari arah belakangnya langsung sigap melompat menjauh, Zizi kemudian berbalik ke arah belakangnya di mana Shilba Dolores kini terlihat melayang di udara sembari memegang tongkat Oracle.


"Kalian dikirim Oracle untuk menyerangku, ahahahhaha..."


Shilba Dolores tertawa.


"Diam kau!! sudah saatnya kau hengkang dari istana ini, bukan di sini tempatmu!!! Kau tak berhak berada di sini!!"


Bentak Zizi.


Shilba Dolores menyeringai.


"Kau bocah ingusan tahu apa hah?"


Kata Shilba Dolores.


"Ini adalah hukuman untuk mereka yang telah berbuat jahat dan tak bisa menjaga mulut mereka. Oracle pun sama, tak bisa menjadi pemimpin yang adil dan memperlakukan rakyatnya sama rata."


Ujar Shilba Dolores.


"Alasan, kau memang pada dasarnya juga memiliki keinginan buruk pada Oracle, kau menjadikan itu hanya sebagai alasan untuk pembenaran sikapmu."


Kata Zizi.


"Jika kau memang ingin menghukum, maka hukumlah mereka yang memang benar-benar salah padamu!!"


Tambah Zizi lagi.


Zizi kemudian melayangkan pedang jayapada nya lagi, pedang itu membentuk api yang menggulung dan membumbung ke atas menyerupai Naga.


Zizi mengayunkan pedangnya ke arah Shilba Dolores yang tak mau kalah mengarahkan tongkat nya untuk menghadang serangan Zizi.


Dua gelombang kekuatan yang sama besarnya itu membuat tanah di dunia peri kini bergetar hebat, begitu juga istana Oracle yang terlihat bangunannya seolah akan runtuh.


Lori di lantai tiga melihat Ali tak sadarkan diri jadi bingung.


Ali mengorbankan dirinya untuk melindungi Lori, sungguh Lori begitu terenyuh.


"Ali, bangunlah, aku mohon, bangunlah..."


Lori mengusap wajah tampan Ali.


Panik Lori pun akhirnya memutuskan memberikan separuh energinya untuk Ali.


Lori tahu kedepannya ia akan jadi peri yang lemah dan tak bisa melakukan banyak hal jika kehilangan setengah energinya, tapi tentu saja yang dilakukan Ali untuknya adalah lebih dari itu.


Lori pun meraih wajah Ali.


Lori memindahkan energi dari dalam dirinya melalui ciuman pertamanya dengan manusia, dan manusia itu bernama Ali.


Tepat saat Lori selesai memindahkan setengah energinya, Shane datang ke lantai tiga karena mengingat Lori dan Ali masih ada di sana.


"Tuan Muda Ali... Tuan Muda Ali..."


Teriak Shane.


Suara gemuruh dan gelegar alam dunia peri begitu mengerikan. Suasana kini tiba-tiba menjadi sangat gelap.


Ali terbatuk, siuman dari tak sadarkan diri.


Lori terlihat menangis karena terharu akhirnya Ali bisa ia selamatkan.


Duaaaar!!!


Duaaarr!!


Pertarungan sengit Zizi dan Shilba Dolores masih begitu dahsyat.


Semua dinding retak, Shane mengangkat tubuh Ali yang masih lemah.


"Kita keluar sekarang."


Kata Shane pada Lori.


Lori mengangguk.


"Ah, tapi bagaimana Nona Zizi?"


Tanya Lori pada Shane.


"Nona Zizi pasti akan bisa mengalahkan Shilba Dolores, ayo lekas kita keluar lebih dulu."


Puing-puing istana Oracle semakin berjatuhan dari atas.


Shane yang menggotong Ali melesat cepat keluar dari istana melalui jendela istana, diikuti Lori yang melayang di belakangnya.


Sampai di luar, tiba-tiba mbak Pocong memanggil Shane.


"Tuan Shane... Tuan Shane..."


Shane melesat ke arah mbak pocong yang kini berdiri di depan sebuah pusaran yang seperti pusaran angin.


"Ini jalan untuk pulang, angin itu muncul dari pecahan cermin yang terlempar dari istana."


Kata mbak Pocong.


Shane menatap Lori yang terlihat menatap Ali dalam gendongan Shane.


"Ali harus segera dibawa kembali ke dunia manusia."


Lirih Lori.


Shane menatap mbak pocong.


"Mbak, bisakah kau pulang lebih dulu dengan Tuan Muda Ali?"


Tanya Shane.


Mbak Pocong melihat Ali yang tak berdaya.


"Bagaimana caranya? Aku tak bisa menggotong nya."


Kata mbak pocong.


"Pastikan saja saat keluar dari cermin, Tuan Muda tak sampai jatuh mengenai apapun, kau yang harus ada dibawahnya untuk jadi bantalan."


Haiish sial! Batin mbak Pocong.


Lori terus menatap Ali dengan mata berkaca-kaca.


Ia tak ingin melepaskan Ali secepat ini, tapi bagaimana mungkin Lori menahannya.


"Ya baiklah."


Kata Mbak pocong akhirnya.


Shane mengangguk pada mbak pocong seolah memberikan isyarat untuk masuk ke pusaran yang keluar dari pecahan cermin itu, begitu mbak pocong masuk, Shane juga mendorong pelan Ali untuk masuk ke dalam pusaran itu.


Sekilas terlihat Ali menatap Lori yang menangis melihat Ali pergi.


Duaaar!!!


Duaaarrrr!!!.


Suara itu kembali bergema, disusul api yang yang sangat besar keluar dari atap istana dan membumbung ke langit dunia peri membentuk naga besar dengan dengan cakar tajam.


Zizi menghantam Shilba Dolores dengan kekuatan penuh, membuat peri itu terpental menabrak dinding istana.


Tongkat sakti terlepas, Zizi segera melompat dan menyambarnya.


"Sudah kubilang, main-mainmu sudah selesai!!"


Kata Zizi menyeringai.


**-----------**