Zizi

Zizi
173. Mata-Mata Andromeda


Jakarta,


Nadia keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk kimono berwarna pink.


Ia berjalan ke arah meja riasnya, dan kemudian duduk di sana.


Tampak tangannya yang putih bersih dengan jari-jemarinya yang lentik meraih botol-botol kosmetik yang othor tidak tahu namanya karena tak pernah pakai.


(Di Neptunus nggak ada)


Nadia menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di depannya.


Tampak ia tersenyum, sebuah senyuman penuh misteri.


Di luar sana hujan gerimis turun rintik-rintik membasahi kota. Nadia mulai sibuk mengenakan ini itu untuk tubuhnya yang memang untuk digunakan di malam hari.


Setelah selesai dengan semua ritualnya, Nadia beranjak dari kursi meja rias dan kemudian mendekati lemari untuk mengambil baju tidur untuk kemudian ia kenakan.


Lampu kamar dimatikan, digantinya dengan lampu tidur yang cahayanya redup dan tentu saja lebih ramah untuk mata.


Nadia duduk di tepi tempat tidur, melihat hp nya sebentar, di mana Alex mengiriminya ucapan selamat tidur.


Mereka akan menikah sebentar lagi, keluarga Alex kabarnya telah menghubungi keluarga angkat Nadia di Paris.


Yah, keluarga angkat, yang harusnya dulu keluarga angkat Nadia adalah...


Nadia terdiam, tatapannya nanar menatap layar hp.


Ia mengirimkan stiker saja untuk membalas pesan Alex sebagai ucapan selamat malamnya juga.


Alex, laki-laki itu nyatanya memang sangat mencintai Nadia.


Sejak bertemu pertama kali di konser amal yang diadakan Nadia dan perusahaan Alex menjadi sponsornya, mereka mulai dekat dan menjalin hubungan serius lebih dari delapan tahun.


Delapan tahun, tentunya waktu yang lama untuk hubungan pacaran.


Dan jika kini akhirnya Alex dan keluarganya memutuskan untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Nadia, tentu ini adalah salah satu harapan serta doa Nadia yang terjawab dari semesta.


Nadia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, matanya kini berganti menerawang langit-langit kamar apartemennya.


Hari nyatanya seperti berlari begitu cepat, sama sebagaimana dulu saat ia tiba-tiba berada di rumah reyot kakek dan nenek kelabang, lalu akhirnya dibawa pulang lagi namun betapa bingungnya dirinya mendapatkan kenyataan bahwa ia telah hilang begitu lama.


Nadia bahkan butuh waktu terapi begitu lama untuk benar-benar bisa keluar dari trauma dan juga membiasakan diri yang mendadak menjadi anak berusia tujuh belas tahun.


Sekian lama, saat kemudian ia merasa ingin kembali ke dunia luar dan bisa hidup normal, berharap keluarga Zia dan Zion akan menjemputnya, ternyata harapannya itu harus kandas karena mereka seolah melupakan Nadia begitu saja.


Ya...


Nadia yang merasa kecewa karena dicampakkan untungnya bertemu dengan salah satu saudara dokter yang merawatnya.


Sebuah keluarga yang kurang beruntung karena tak memiliki keturunan meski telah menjalani usia pernikahan lebih dari dua puluh tahun.


Bertemu mereka adalah hadiah untuk Nadia, dari bertemu merekalah, Nadia bertemu dengan biola, dan akhirnya menjadi sangat jatuh cinta dengan alat musik tersebut.


Bermain biola juga membuat Nadia tak lagi takut dengan hantu, meski ia sering melihat mahluk dari dunia yang berbeda tersebut, tapi Nadia sekarang tak lagi merasa takut.


Nadia menghela nafas, ada kepala melongok di sudut plafon.


Kepala perempuan dengan rambut menjuntai ke bawah.


Matanya merah, namun tatapannya kosong.


Nadia memilih menghadap ke arah lain, menarik selimutnya lalu memejamkan matanya.


"Mereka tak akan menggangumu asal kau pura-pura tak melihat mereka."


Kata Alex suatu hari, yang juga seperti Nadia, bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut.


**-------------**


"Sekarang kau sudah lega bukan Shane? Ternyata semuanya baik-baik saja meskipun kau tak menjadi manusia."


Ujar Marthinus.


Shane tersenyum kalem.


Setelah seharian ia memilih model jas, diukur, dan juga mengikuti pemilik butik memilihkan bahan yang akan dipakai untuk membuatkan Shane beberapa setelan jas, kini Shane diminta Nick memilih jam tangan mewah.


Ujar Shane pada Marthinus yang mendampinginya berkeliling.


Marthinus tadi juga meminta dibuatkan setelan jas baru dibutik, dan tentu saja Nicx yang dihubungi pihak butik dan langsug menyambungkannya pada Zion langsung disetujui.


"Kau ini seperti tidak tahu manusia saja, mereka itu akan melihatmu saat nanti bersanding dengan Zizi, tadi saja apa kata Nicx? Kau mungkin setelah nanti diadakan acara pertunangan, ada banyak undangan wawancara di beberapa majalah yang menyoroti dunia dan kehidupan para pengusaha. Kau mau tampil buluk macam aku? Nanti bukan kau yang malu Shane, tapi Tuan Zion."


Kata Marthinus.


Shane mengangguk.


"Banyak orang ingin menjadi menantu orang kaya, padahal menjadi orang terlalu kaya dan kita berasal dari kelas yang jauh di bawahnya cukup membuat beban sendiri Paman."


"Kalau begitu, kamu bilang saja pada Tuan Zion kalau ingin menyerah."


Ujar Paman Marthinus membuat Shane cepat menggeleng.


"Bukan begitu juga maksudnya."


Lirih Shane.


"Arah sudahlah, kamu ini jadi vampire ribet banget, semuanya dipikir. Benar-benar kebalikan Nona Zizi yang sepertinya tidak pernah mikir."


Kata Marthinus membuat Shane meliriknya.


Marthinus yang kemudian menyadari Shane tak terima calon istrinya dikata tak pernah mikir akhirnya jadi nyengir ke arah Shane lalu pura-pura berjalan mendahului Shane mendekati beberapa etalase yang memajang model jam-jam tangan mewah.


Bersamaan dengan itu Nicx muncul lalu mengajak Shane bertemu manager toko jam tangan mewah tersebut.


Nicx meminta diperlihatkan beberapa macam pilihan jam untuk Shane agar nantinya bisa mereka bawa pulang.


Manager toko jam tangan mewah itupun meminta pelayan membawakan beberapa model dan merk jam mewah yang ada di toko mereka.


Nicx dan Shane yang diiringi Marthinus diajak manager toko jam tangan mewah ke ruangan VVIP untuk nantinya mendapatkan pelayanan khusus.


Shane duduk di set sofa yang empuk macam roti bantal isi coklat keju.


Bersama Nicx mereka duduk berhadapan dengan sang manajer.


Paman Marthinus sendiri tampak kembali sibuk melihat-lihat gambar jam tangan dengan harga ratusan ribu US Dolar yang terpampang nyata di dinding-dinding ruangan VVIP tersebut.


"Dulu saat Tuan Zion masih kuliah di London, beliau termasuk yang sangat rajin mengikuti tren jam tangan di tempat kami. Tak peduli harga, beliau nyatanya memang sangat tahu menghargai sebuah karya."


Puji sang manajer toko jam tangan mewah tersebut.


Nicx mengangguk mengiyakan.


Tentu saja Nicx sangat tahu hal itu, ia yang dulu juga merupakan teman Zion saat kuliah, tahu persis jika Zion sangat memperhatikan kualitas barang yang ia pakai.


Seorang pelayan datang memasuki ruangan VVIP Tersebut, membawakan contoh model jam yang mereka miliki.


Tentu saja, model andalan toko mereka yang harganya selangit.


Beberapa jam yang diletakkan di tempat khusus dibawa dengan sangat hati-hati, lalu diletakkan di atas meja di depan Shane dan Nicx.


Marthinus yang tadinya tertarik ingin ikut melihat jam yang dibawa pelayan, tanpa sengaja melihat tatto ular dengan mata merah seperti hidup.


Tatto itu hanya bisa terlihat bagian kepalanya di tengkuk pelayan toko tersebut yang rambutnya sedikit plontos.


Marthinus mengerutkan kening, selama ini ia sudah biasa melihat manusia menggunakan tatto di tubuh mereka.


Tapi entah kenapa, melihat tatto pada pelayan itu, membuat Marthinus merasa ada sesuatu yang tak biasa.


Entahlah...


Entah apa yang membuatnya tak biasa.


Marthinus baru akan mengalihkan pandangan matanya, manakala pelayan itu tiba-tiba menoleh ke arah Marthinus yang berdiri pada posisi di belakang pelayan itu.


Kedua mata mereka tak sengaja bertemu, dan Marthinus langsung tampak menyeringai, sementara pelayan itu buru-buru permisi keluar dari ruangan.


Marthinus mengikuti gerakan pelayan itu dengan kedua matanya, bahkan hingga pelayan itu keluar ruangan dan menutup pintu ruangan itu kembali.


**-------------**