
Zizi tidur menguasai tempat tidur dengan posisi bintang terkapar.
Maria yang semula berharap bisa berbagi keempukan kasurnya, akhirnya mengalah kembali tidur di atas lemari.
Anak asuhnya itu nyatanya tidur pun masih bisa mengintimidasi mahluk lain.
Dan entah karena lelah atau juga karena efek kekenyangan, Zizi tidur macam kena kutukan apel tidurnya Sleeping Beauty.
Zizi sama sekali belum bangun hingga matahari sudah melompat di atas genteng.
Hingga jarum jam menunjuk angka sepuluh lewat, tampak Maria yang lebih dulu membuka matanya.
Ia kemudian bangun dan duduk di atas lemari.
Di tengoknya Zizi yang masih damai di atas tempat tidur.
Maria menatap Zizi yang kini tidur bergaya gurita masuk angin.
Anak itu, bagaimana bisa dia akan menikah?
Tak terbayang saat dia punya anak, pasti rumahnya setiap hari berisiknya melebihi taman kanak-kanak kedatangan kucing oyen.
Maria lantas turun dari lemari dan melayang mendekati jendela kamar yang tirainya selalu tak pernah ditutup Zizi.
Maria menembus dinding untuk keluar menghirup udara London pagi menjelang siang.
Salju tak tampak turun, matahari juga bersinar cukup cerah.
Tampaknya sebentar lagi musim dingin akan berakhir, sebagaimana gaun lama Maria yang masa aktifnya akan segera berakhir dan akan diganti dengan gaun baru.
Maria melayang ke atas atap rumah Zion lalu duduk di sana.
Bradley Woods Lincolnshire, jauhkah dari sini?
Batin Maria.
Harapnya tentu Shane akan segera pulang dan memberi kabar baik. Sejatinya Maria sangat cemas terjadi sesuatu pada Shane.
Ah tak bisa dibayangkan, akan segila apa Zizi jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Shane.
Mungkin, jika dulu Bandapati membakar habis hutan kemenyan, maka Zizi juga akan melakukannya juga.
Maria duduk seorang diri di atas atap, memandikan tubuhnya dengan cahaya matahari.
Sementara itu di dalam rumah, Nancy di kamarnya tengah menyelesaikan merajut syal untuk Zizi.
Tak ada yang bisa ia berikan untuk kekasih putranya itu, karena membelikan apapun yang ada di dunia ini, pastinya Papanya Zizi jauh lebih mampu dari Nancy.
Maka...
Pemberian sederhana yang dibuat dengan tangan Nancy sendiri inilah yang Nancy pilih untuk diberikan sebagai hadiah.
Nancy terus merajut, berharap syal itu akan selesai hari ini, sambil juga berharap Shane segera kembali.
Nancy pagi tadi bahkan sudah merapihkan kamar Shane, termasuk juga barang-barang Shane yang tidak ia bawa.
Anak itu, di mana dia sekarang?
Bagaimana keadaannya?
Bertemukah ia dengan Marthinus?
Bisakah ia menemukan obat penawar Vampire milik Ruthven?
Bisakah ia menjadi manusia seperti keinginannya?
Begitu banyak tanya memenuhi kepala Nancy, disertai perasaan yang tumpang tindih di dalam hati Nancy.
**---------**
Jakarta,
Hujan turun deras sore ini di Ibukota, sebuah mobil mewah memasuki pelataran apartemen mewah milik Andromeda Putra Corporation.
Begitu sampai di depan pintu utama apartemen, mobil itu berhenti dan kemudian turun seroang perempuan cantik dengan rambut pendek.
Perempuan itu mengenakan rok sepanjang lutut dan atasan blazer hitam yang dipadu padankan dengan kemeja warna krem.
Perempuan yang usianya sekitar tiga puluh dua tahunan itu berjalan dengan anggun memasuki apartemen.
Ia terus berjalan menuju lift.
Berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka, perempuan itu terlihat melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan.
Hingga kemudian pintu lift terbuka, tepat saat ponsel perempuan tersebut bergetar.
"Aku sudah di lift, sebentar lagi sampai."
Kata perempuan itu.
Ia lalu menekan angka sepuluh, di mana tujuannya memang lantai sepuluh tersebut.
Tak ada siapapun lagi di sana, hanya perempuan tersebut dan juga...
Perempuan itu hanya melirik santai ke arah sudut kiri depannya di sebelah pintu lift, di mana di sana kini tampak berdiri sebungkus pocong yang nyengir ke arahnya dengan giginya yang grupis.
Haiiish... perempuan itu hanya mendesis.
Ia lalu memilih menyibukkan diri membaca pesan yang baru masuk ke aplikasi chatnya.
Dan tak usah terlalu lama menunggu, lift pun berhenti di lantai yang diinginkan.
Begitu pintu lift terbuka, perempuan itupun keluar dengan tenang, seolah di dalam lift itu tak ada pocong yang baru ia lihat.
Perempuan cantik itu tersenyum tipis, ia melangkah masuk ke dalam ruangan apartemen yang kini di dekat jendela kaca apartemen yang untuk menuju balkon tampak seorang laki-laki berdiri membelakanginya.
Perempuan itu berjalan mendekat setelah meletakkan tas dan ponselnya di atas sofa.
Perempuan itu memeluk laki-laki itu dari belakang.
"Aku pikir kau tak akan pulang, Alex."
Kata perempuan cantik itu.
"Aku tak akan mengingkari janji Nadia, sudah kubilang aku akan pulang untuk menikahimu, dan akan tinggal di Indonesia selamanya."
Nadia, perempuan cantik itu tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan sang kekasih.
Alex pelahan berbalik, membuat pelukan Nadia terpaksa merenggang.
"Bagaimana konsermu di Seoul?"
Tanya Alex.
Nadia tersenyum.
"Lancar, seperti biasa."
Alex meraih tangan kanan Nadia untuk ia kecup lembut.
"Tangan ini sangat istimewa bukan?"
Alex menatap Nadia yang tersenyum sambil mengangguk.
"Setelah menikah, aku tak akan melarang mu bermain biola lagi, jangan khawatir."
Kata Alex pula.
Nadia memeluk Alex, ia tahu jika laki-laki itu sangat menyayanginya dan mengerti jika Nadia tak akan mampu hidup tanpa biola.
Biola yang membuatnya bisa kembali hidup, biola yang membuatnya merasa menemukan dirinya yang hilang sejak peristiwa yang menimpanya di masa kecil.
Biola yang membantunya sembuh dan akhirnya bisa menjalani hidup normal.
"Sudah makan?"
Tanya Nadia.
Alex tertawa.
"Aku seharian ini bahkan tak ingat makan, aku sibuk mengurus perusahaan dan..."
Alex menoleh ke arah jendela kaca besar di dekat mereka lagi.
Di seberang sana, di mana sebuah hotel nyentrik berdiri tegak.
"Memantau Alpha Centauri? Melihat lebih dekat bisnis mereka?"
Nadia seolah menebak.
Alex tersenyum.
Nadia menghela nafas.
"Ah apa kau lapar? Bertanya apa aku sudah makan?"
Nadia tentu saja mengangguk.
"Ku dengar ada chef muda yang bekerja di restoran hotel zombie itu, mau mencoba?"
Tanya Alex akhirnya.
"Chef Rasya? Hmm... Baiklah."
Sahut Nadia.
Alex menatap zombie hotel lagi, lalu ia tersenyum penuh arti.
"Aku ganti baju dulu, kau tunggulah."
Ujar Alex.
Nadia mengangguk dan pelukan mereka terlepas.
Alex berjalan menuju kamarnya, seraya membuka kancing bajunya dan membukanya sembari masuk ke dalam kamar.
Laki-laki bertubuh atletis itu tampak punggungnya terdapat tatto ular hitam dengan kedua mata merah.
Mata yang seolah milik ular yang benar-benar hidup.
Alex...
Nadia menatap tatto di punggung kekasihnya itu dengan perasaan aneh.
Ia baru kali ini melihatnya, dan itu membuatnya sedikit...
Terganggu.
**-------------**
Info :
Othor buka rumah untuk kita semua nongki bareng di rumah keluarga Cilamici, yuk masuk grup chat keluarga kita biar bersatu kita teguh bercerai lebih baik jangan. wkwkwk