Zizi

Zizi
198. Setengah Manusia


Shane tampak tak bergeming untuk beberapa saat, ia merasa bingung harus melakukan apa, ketika tubuh pengawal Alpha Centauri yang biasa berjaga di depan rumah Zion selama ini kini pelahan melebur dengan tanah.


Shane tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.


Selama ini jelas mereka mencurigai Vero, tapi kenapa justeru ternyata pengawal lain yang merupakan jelmaan ular?


Dan...


Shane seketika terkesiap, begitu mendengar rintihan suara perempuan yang menahan sakit.


Shane menoleh ke arah asal suara, teringat ia akan sosok perempuan yang tadi nyaris jadi korban.


Shane pun segera menghampiri perempuan itu, mengangkatnya, dan segera membawanya melesat cepat menuju sebuah Rumah sakit yang cukup ternama.


Sampai di Rumah Sakit, tenaga medis pun cekatan mengambil alih sang korban, meskipun mereka tak tahu apa sebetulnya yang terjadi, melihat kondisi korban tampak memprihatinkan, membuat mereka dituntut bergerak cepat melakukan penanganan.


"Apa anda walinya? Atau..."


"Bukan."


Shane cepat menjawab pertanyaan dari salah seorang petugas Rumah Sakit.


"Saya menemukan dia terluka dekat hutan kota."


Ujar Shane.


"Apa anda tahu apa yang terjadi?"


Tanya sang petugas lagi.


Ah sial!


Bagaimana harus menjelaskannya? Batin Shane.


Jika ia mengatakan jika perempuan itu nyaris jadi santapan seekor ular besar, maka pasti akan ada pertanyaan lain timbul, lalu ke mana ular besar itu?


Jika Shane mengatakan bahwa ia mengalahkan seekor ular raksasa sendirian, maka timbul pertanyaan yang lebih sulit dijawab, di mana bangkai ularnya, dan bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengalahkan seekor ular dengan tangan kosong sendirian.


Shane yang merasa tak ingin terlibat lebih jauh maka memutuskan untuk melakukan penghapusan ingatan pada si petugas yang terus saja mengikutinya.


Begitu mata petugas Rumah Sakit itu matanya terlihat muter-muter seperti obat nyamuk cap topeng monyet, Shane segera pergi dari hadapannya, dan cepat melesat meninggalkan Rumah Sakit.


Shane menuju hutan kota lagi, mencari tas atau semacamnya milik perempuan yang nyaris jadi korban tersebut.


Setidaknya ada nomor yang bisa dihubungi bukan? Atau kartu identitas, atau semacamnya. Dan lagi...


Shane tentu saja ingin kembali ke tempat di mana jelmaan sang ular tadi menghilang, ia ingin merasakan energi yang tertinggal di sana.


Energi yang selama ini tak ada yang bisa merasakannya di rumah, bahkan seorang Zizi dan Marthinus.


Shane jadi ingat manakala ia meminum darah Ruthven, ia ingat dulu Raja vampire itu berkata padanya dan juga pada Ayahnya ketika mereka akan dikembalikan ke rumah Tuan Zion.


"Kalian tak akan bisa diketahui bukan manusia biasa, bahkan Lycan maupun mahluk campuran itu tak akan bisa merasakannya."


Ya...


Darah Ruthven, yang membuatnya menjadi vampire jenis baru.


Ah tidak... Tidak...


Ini bukan soal Shane, ini adalah tentang beberapa mata-mata yang dikirimkan sepertinya bukanlah jelmaan ular sembarangan.


Atau, jika yang tak biasa ini bukanlah pada diri para mata-mata itu, maka bisa jadi yang bertanggungjawab atas merekalah yang jelas bukan orang sembarangan


Ada energi yang bisa menyamarkan keberadaan mereka, yang bahkan tak bisa dideteksi siapapun.


Shane kemudian berjalan semakin masuk ke dalam hutan, kembali ke tempat dimana tadi perempuan yang nyaris jadi korban itu sepertinya di seret dari luar dan dibawa masuk ke dalam hutan.


Shane menajamkan penglihatan lagi, dan ia akhirnya mendengar sayur suara hp yang sepertinya ada di dalam tas.


Mengikuti suara yang seperti dibawa hembusan angin malam itu, Shane terus memburu suara tersebut, hingga akhirnya ia berhasil menemukan sebuah tas yang tergeletak cukup jauh dari lokasi Shane melihat korban pertama kali.


Shane menduga, perempuan itu berlari menghindari kejaran sang ular, pertanyaannya, kenapa ia masuk ke dalam hutan pada malam hari.


Tapi...


Ah mana Shane tahu akan hal itu, dan biar saja pihak kepolisian yang akan mencari tahu.


Kini tugas Shane hanyalah menyerahkan semua barang milik sang korban, dan...


Shane menatap kemilau kehijauan di atas tanah bekas jelmaan ular yang tadi menghilang.


Sejenak Shane pun mendekatinya.


Tampak Shane berjongkok, tangannya meraih tanah yang terlihat ada energi kehijauan masih tertinggal di sana.


Shane menggenggam tanah yang diraihnya, berusaha menelisik, apa sebetulnya yang ada di sana.


**---------------**


"Kak Seeeeeeng.."


Zizi memanggil Shane dari atas atap rumah, sedangkan bulan purnama masih menggantung begitu sempurna di langit.


"Kak Seeeeeeeeeeweng."


Zizi terus memanggil calon suaminya, karena sang calon suami tiba-tiba tidak ada di rumah.


Ujar Marthinus yang asik rebahan di atas atap juga.


Maria terlihat melayang menghampiri Zizi.


"Bagaimana Aunty?"


Tanya Zizi menyambut kedatangan hantu none Belanda itu.


Maria menggelengkan kepalanya.


"Aunty rasa Shane pergi ke hutan kota, hari ini purnama bukan?"


Maria menunjuk bulan yang bundar mlenong dengan cahayanya terang benderang seperti tanggal gajian.


Zizi menghela nafas seraya duduk lemas di sebelah Paman Marthinus.


"Bagaimana bisa Zizi kembali melupakan jadwal makan Kak Seng."


Lirih Zizi menyesal.


Maria melayang untuk kemudian ikut duduk di samping Zizi pula.


"Sebetulnya Shane bisa makan seperti manusia, tapi dia tak membiasakan diri."


Tiba-tiba Marthinus bersuara.


Zizi dan Maria menoleh ke arah Marthinus yang kemudian mengganti posisi rebahannya menjadi duduk.


"Apa maksud Paman Timus?"


Tanya Zizi.


Marthinus menatap Nonanya.


"Shane, dia bukan seutuhnya Vampire, dia monster, darah Ruthven merubahnya menjadi percampuran mahluk baru."


Kata Marthinus.


"Jadi?"


Zizi menuntut penjelasan dari Paman Marthinus dengan bahasa yang lebih mudah dicerna otak Zizi.


Marthinus tersenyum.


"Shane dia bisa makan dan minum layaknya manusia, ia hanya butuh membiasakan diri saja, ia juga akan menua dan mati, hanya saja..."


Marthinus terdiam sejenak,


"Hanya saja apa?"


Zizi penasaran.


"Hanya saja ia sejatinya juga adalah monster, yang kapan saja ia bisa menjadi mesin pembunuh yang sangat mengerikan jika ia sampai menyerap energi jahat."


Zizi terdiam, dadanya tiba-tiba bergemuruh.


"Darah anda dan Ruthven bercampur dalam diri Shane, itulah yang merubahnya demikian."


Kata Marthinus.


"Darahku?"


Zizi mengerutkan kening, ia lupa tentang Shane yang sempat meminum darah miliknya.


Lalu...


"Shane ingin menjadi manusia dengan mencari obat penawar milik Ruthven, tapi sebetulnya jika toh ia menemukannya, obat itu tak akan berguna untuk Shane. Dia bukan Vampire seperti yang lain."


"Apa Kak Seng tidak tahu jika ia sebetulnya bisa hidup seperti manusia juga?"


Tanya Zizi.


"Ya, aku sudah mengatakannya pada Shane, itu juga kenapa aku memaksanya cepat pulang."


Ujar Marthinus.


Zizi kembali menghela nafas.


Lalu...


"Makin ke sana lihat saja energinya mana yang lebih dominan. Untuk saat ini, energi Shane masih seimbang, bahkan jiwa monsternya masih jauh lebih kuat, inilah kenapa ia belum sepenuhnya menyadari bahwa ia sebetulnya juga bisa hidup normal."


Zizi menoleh ke arah Maria.


"Zizi rasa, Kak Seng harus diberitahu kan, aunty? Kasihan jika setiap purnama Kak Seng pergi seperti saat ini."


Ujar Zizi.


"Ya, cobalah bicara padanya, sebelum kita pulang besok."


Sahut Maria.


Dan bersamaan dengan itu, di kejauhan, sesosok bayangan mendekat. Melesat cepat menembus malam yang hening.


**----------------**