Zizi

Zizi
36. Kesambet


Malam ini bulan terlihat nyaris menjadi purnama yang sempurna. Mbak pocong duduk di atas atap termangu menatap bulan di atas sana.


"Sebentar lagi bulan purnama, apakah hari itu Nona Zizi akan berangkat ke Merapi?"


Gumam Mbak Pocong.


"Siapa yang ke Merapi?"


Tiba-tiba terdengar suara seperti anak kecil bertanya.


Mbak pocong menoleh ke arah datangnya suara, tepatnya dari atas pohon mangga besar yang tumbuh di halaman rumah Nyonya Zia.


Tampak jin kecil yang ada di pohong mangga itu kemudian melayang mendekati Mbak Pocong.


"Siapa yang mau ke Merapi? Mbak pocong?"


Jin kecil itu mengulangi pertanyaannya.


"Nona Zizi, Ba."


Jawab Mbak Pocong sembari mengalihkan pandangan matanya ke arah bulan lagi.


"Sepertinya saat bulan bulat sempurna."


Kata mbak Pocong.


"Ada apa ke Merapi?"


Tanya jin kecil itu.


"Haiiish, kamu lupa? Kan Nona Zizi memang disuruh ke sana, untuk membersihkan Jayapada dan sekaligus juga mencari keberadaan Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak."


"Ooh iya iya, Zanuba lupa, habis udah satu minggu nggak boleh keluar sama Abah, gara-gara bantu temannya Zizi jorogin orang dari motor."


"Hah?"


Mbak pocong melirik jin kecil dengan rambut di kuncir dua.


Jin kecil bernama Zanuba cekikan.


"Kenapa jahat amat sih, sakit tahu hati kita bangsa lemah yang jadi sasaran bulli."


Kata Mbak Pocong sekalian curhat.


"Kata temen Zizi, orang itu jahatin kucing yang dia jaga, jadi jorogin aja dari motor."


Ujar Zanuba.


"Trus orang itu luka-luka?"


Tanya mbak pocong.


Zanuba menggeleng.


"Syukur kalau nggak luka mah."


Mbak pocong yang hatinya selembut agar-agar cap walet tampak lega.


Zanuba nyengir.


"Dia mati, pas di jorogin mental ke aspal trus kelindas."


"Hah, sadis amat sih kalian?"


"Dia juga sadis, kucing minta makan dia banting trus digebukin sampe mati."


Mbak pocong berdecak.


"Tahulah, para penjaga itu gimana kalau ada kucing mereka diganggu, makanya tiap yang jahat sama kucing pasti sial."


Ujar Zanuba.


"Ya kamu ngga usah ikutan."


Mbak pocong geleng kepala.


"Iya, kemarin dimarahi Abah, katanya kan Zanuba mah bukan penjaga kucing, jadi nggak boleh ikutan balas manusia yang jahat, kalau mereka nggak apa-apa."


Mbak pocong setuju dengan nasehat Om Jin penunggu pohon Mangga, si Bapaknya Zanuba.


"Aku aja lagi mikir mau ikut ke Merapi atau enggak, soalnya kan perjalanan kali ini akan sangat berat."


Ujar Mbak pocong.


"Nona Zizi tugasnya berat, dan lagi dia sudah mulai dikuasai energi jahat, aku takut."


Tambah Mbak pocong pula.


"Zizi dikuasai energi jahat?"


Mbak pocong beralih memandangi Zanuba lagi.


"Dia seperti monster yang bisa membantai siapapun, saat kami berada di dunia peri, Zizi membantai puluhan raksasa seorang diri."


"Waaah keren."


Zanuba malah kagum.


"Haiiish, ini bukan masalah keren, tapi sorot mata Zizi dan setiap kali ia membunuh ia akan menyeringai, itu bukan Zizi, tapi ada mahluk lain yang menguasai Zizi."


"Bukankah itu Neneknya?"


Mbak pocong menggeleng lagi, meskipun agak susah dia menggeleng.


"Bukan, tapi empat saudaranya, kau tahu kan manusia memiliki empat saudara."


Zanuba mengangguk.


"Mereka semua sudah terkena energi jahat, Zizi mulai kesulitan mengendalikan dirinya."


Ujar mbak pocong.


Zanuba terdiam sejenak, lalu...


"Jayapada, karena itukah Zizi jadi begitu?"


"Nah kamu tahu itu."


Mbak pocong ingin sekali menjentikkan jari, tapi tidak bisa, jadi ganti pakai kedipan mata satu.


"Sejak Zizi bersama pedang itu, aku merasakan hawa panas di rumah Zizi, itu sebabnya aku juga jarang main."


"Ooh kalian bisa merasakannya?"


Zanuba mengangguk.


"Memangnya kalian tidak? Aneh."


"Mungkin bukan tidak merasa, tapi mengabaikannya selama ini."


Lirih mbak pocong.


**-----------**


Zizi sendiri yang sedang digosipkan tampak baru selesai makan, ia tersenyum sangat puas melihat hampir semua lauk di atas meja habis.


Mamanya bahkan belum makan dan hanya bisa melihat Zizi yang sekarang makannya sudah macam raksasa saja.


Apa mungkin karena jayapada digunakan untuk membantai para raksasa, maka energi rakusnya juga terbawa?


Zia mengurut kening.


"Mama nggak makan?"


Tanya Zizi tanpa dosa menatap Mamanya.


Tampak sang Mama hanya tersenyum tipis. Bagaimana mau makan, lihat Zizi makan saja rasanya sudah kenyang.


"Nanti saja, Mama belum lapar."


Kata Zia.


Zizi mengangguk.


"Iya Mama harus makan."


Ujar Zizi.


Zia menatap meja makannya yang lauknya semua habis.


Makan apa dia? Makan piring kotor? Haiiish...


Maria dari atas lantai dua melihat Zizi jadi cekikikan.


Dasar anak tidak ada akhlak, orangtua belum makan semua lauk diembat.


Bersamaan dengan itu seorang pemuda berseragam polisi memasuki rumah dan muncul di ruang makan di mana Zia dan Zizi masih duduk.


"Sudah pulang rupanya?"


Sapa pemuda super ganteng lintas galaksi.


Mendengar suara yang tak asing itu tentu saja Zia langsung tersenyum lebar manakala menoleh ke arah belakangnya dan tampak si pemuda mendekat lalu menyalami Zia seperti pada Ibunya sendiri.


Zizi di tempatnya yang tampak kekenyangan hanya senyum saja sambil mengusap perutnya yang penuh.


"Baru pulang kak Arya?"


Tanya Zia pada sang pemuda.


Arya yang ikut dengan keluarga Zia sejak kecil memang sudah macam anak bagi Zia, buat Zia Arya adalah anak laki-lakinya, kakak dari Zizi, meskipun yang dirasakan Arya pasti berbeda.


Dia tak menganggap Zizi sekedar adik, meskipun baginya Zia dan Zion sudah seperti orangtuanya sendiri juga.


"Kemarin malam pulang Tante, hari ini lumayan lelah jadi pulang juga."


Kata Arya seraya duduk di salah satu kursi di meja makan tersebut, tepat di sebelah Zia dan berhadapan dengan Zizi.


Zia terlihat jadi tak enak karena semua lauk di meja habis.


"Kak Arya pasti belum makan, nanti Tante masak ya, Om Zion juga belum soalnya. Mau makan apa?"


Tanya Zia.


Arya menatap meja makan yang banyak piring lauk kosong.


Kenapa semuanya kosong tapi pada belum makan? Batin Arya heran.


"Ah bikin udang goreng tepung saja ya, sama capcay, dan telur dadar yang pedas."


Kata Zia.


Arya mengangguk saja, buat dia masakan Tante Zia selalu enak dilidahnya, sama sebagaimana anak dengan Ibunya, masak apapun rasanya akan selalu lezat.


"Kalau begitu Kak Arya mandi dulu saja biar segar."


"Zizi juga mau mandi trus makan lagi."


Zia menoleh pada Zizi.


"Zizi makan lagi?"


Tanya Zia heran.


Zizi terlihat berdiri.


"Kan Zizi suka udang tepung."


Jawab Zizi.


Zia menghela nafas, namun langsung mengurut belakang kepalanya yang sakit.


"Zizi, kamu sudah makan satu meja masa mau makan lagi? Kamu mau perutnya sakit?"


Zia akhirnya jadi kesal.


Zizi cemberut, wajahnya langsung masam.


Zia tahu itu bukan Zizi.


"Kalau begini terus, aku panggil Nenek Bandapati sekalian."


Zia jadi setengah mengancam.


Mendengar nama Bandapati, tampak Zizi berubah lagi.


"Zizi mau mandi Ma, ngantuk."


Kata Zizi lalu beranjak dari sana.


Ia seolah tak begitu peduli dengan kehadiran Arya, membuat Arya sedikit kecewa.


"Sabar Kak Arya, itu Zizi sedang dalam pengaruh mahluk lain."


Ujar Zia menepuk bahu Arya.


"Mbak Niiing, bantu saya rapikan meja Mbaak."


Kata Zia sambil berdiri lalu akan ke dapur untuk masak.


**-----------**