
Jabodetabek diguyur hujan deras malam ini, Zia duduk di kamarnya setelah selesai packing untuk perjalanannya besok ke London.
Hanya satu koper kecil saja yang Zia bawa, karena memang sejak dulu nyatanya Zia memang tak suka membawa banyak barang manakala melakukan perjalanan jauh.
Zion baru selesai mandi.
Ia memang baru pulang satu jam lalu, pulang yang selalu cukup telat hingga nyaris beberapa waktu belakangan ini, Zia dan Zion tak pernah makan malam bersama di meja makan rumah mereka.
Zion menghampiri sang isteri yang duduk di tepi tempat tidur, sementara koper kecil berwarna hitam itu berdiri di dekat kakinya.
"Sudah selesai packingnya?"
Tanya Zion.
Zia mengangguk.
Zion kemudian duduk di samping Zia.
Dari tubuhnya tercium aroma sabun mandi yang sangat segar di indra penciuman Zia.
"Satu Minggu ke depan, aku akan menyusul."
Kata Zion.
Zia tersenyum.
"Baiklah."
Ujar Zia.
"Sudah ada kabar dari Zizi?"
Tanya Zion kemudian.
Zia menghela nafas.
"Kabar soal apa? Kapan anak itu rajin memberi kabar Pa."
Keluh Zia membuat Zion tergelak.
"Tapi..."
Zia memandang ke arah Zion.
"Tapi, apa Ma?"
Tanya Zion.
"Aku memikirkan mimpi Kak Ziyan terus, dan cerita perjanjian nenek moyangmu."
Kata Zia lirih.
"Mimpi yang katamu soal anak muda dikerumuni ular di sebuah danau?"
Tanya Zion.
Zia mengangguk.
"Sepertinya, ambisi Paman Jaka Lengleng tak sesederhana yang kita bayangkan. Keserakahannya ingin menjadi yang paling berkuasa di atas bumi ini nampaknya tak lagi bisa kita abaikan Pa."
Ujar Zia.
Zion tampak terdiam,
Sejatinya sejak awal ia mengetahui bahwasannya Paman Jaka Lengleng sampai mencuri Sukmaning Ulo dan juga menginginkan dua merah delima milik Bandapati, Zion sudah menyadari hal itu.
Apalagi ditambah kemudian mengingat sejarah paman Jaka Lengleng yang juga sempat menguasai Jayapada begitu Balasanggeni sang Ayah meninggal.
Keputusannya untuk berpindah alam dan menjadi lelembut agar bisa hidup lebih lama juga sudah cukup menjelaskan bahwa ambisinya memang tidaklah sederhana.
Tapi...
Zion tentu saja juga tak menyangka, bahwa Paman Jaka Lengleng ternyata juga sampai memiliki anak dari perempuan manusia.
Zia menghela nafas, ada sesak di dadanya memikirkan ke depannya kehidupan keluarga mereka bisa jadi masih akan berada dalam bahaya.
Kepemilikan Jayapada yang jatuh pada Zizi dan keturunannya itulah, yang pasti akan menjadi alasan mereka semua harus kembali bertemu dan berhadapan dengan Paman Jaka Lengleng berserta anak cucu cicitnya.
"Aku sudah berusaha mencari tahu banyak soal Heri Sapta, tapi aku tak bisa menemukan hal yang mencurigakan padanya, padahal aku merasa dialah orangnya Pa, dialah orangnya yang merupakan anak cucu keturunan Jaka Lengleng."
Ujar Zia.
Zion merangkul bahu Zia.
"Kau mencarinya di internet, tentu saja tak semuanya kamu akan tahu yang sebenarnya."
Ujar Zion.
"Aku juga mencurigainya, dan aku sedang meminta Joni mulai mengintai pergerakan mereka, dan Dave untuk mulai menelusuri masa lalu Heri Sapta. Aku tahu bahwa akan mudah bertanya pada Kakek, tapi untuk saat ini, melihat kesehatan Kakek yang naik turun, rasanya aku tidak tega jika harus membuatnya ikut memikirkan semuanya."
Zion lantas menghela nafas, begitupun dengan Zia.
"Ya, jangan libatkan Kakek dulu."
Kata Zia.
"Aku juga sudah bicara banyak dengan kak Ziyan pagi tadi, termasuk soal rencana pernikahan Zizi dan Shane, serta masalah apartemen mewah kami yang kini mulai kalah di bawah Andromeda Apartemen."
Ujar Zion.
"Andromeda Apartemen bukankah yang ada di seberang Zombie hotel milikmu Pa?"
Tanya Zia.
Zion tersenyum mendengar Zia selalu menyebut semua aset kekayaan adalah milik Zion.
"Milik kita sayang, Zombie hotel, Alpha Apartement, Alpha Mall, Alpha Hospital, Alpha Resto..."
"Ah tidak, itu milikmu, milik keluarga mu, milik Zizi ya, tapi aku tentu saja bukan, aku hanya perempuan yang hidup di sisimu Pa."
Zion tersenyum lagi sambil mantuk-mantuk saja akhirnya.
"Ya... Ya... Ya... Baiklah sayang, apapun yang kamu mau, tapi yang jelas, apa yang aku capai adalah untuk kamu saja, dan juga untuk Zizi."
Ujar Zion lembut.
Zia meraih tangan Zion dan menggenggamnya dengan erat.
"Tetaplah sehat dan berusahalah yang terbaik untuk Alpha Centauri, aku akan membantumu dari sisi serangan Paman Jaka Lengleng."
Kata Zia.
Zion mengangguk.
"Aku pasti akan berusaha yang terbaik Zia, karena ada puluhan ribu orang bekerja pada perusahaan kita, dan tentu saja kita harus melindungi mereka sekuat tenaga dan semaksimal yang kita bisa agar tak sampai ada satupun yang harus kehilangan pekerjaan jika Alpha Centauri sampai bisa digoyahkan."
Zia yang mendengarnya mengangguk.
"Tentu, apalagi yayasan Alpha Centauri juga kini sudah mulai menambah lebih banyak panti, ada banyak anak yatim, orang jompo, tuna wisma, yang juga pastinya kita harus memperjuangkan nasib mereka agar tidak sampai mereka merasakan imbas apabila Alpha sampai kenapa-kenapa."
Ujar Zia.
Zion mengangguk.
"Ya, kita harus mengusahakan yang terbaik."
Kata Zion.
"Tentu."
Sahut Zia.
**-----------------**
Andromeda Apartement,
Alex duduk di tengah ruangan apartemennya yang ia biarkan lampunya mati.
Suasana ruangan itu tampak remang-remang karena hanya mendapat penerangan dari cahaya dari balkon.
Alex yang terduduk sendirian di atas sofa yang semula matanya terpejam kini pelahan terbuka, manakala ia mendengar sayup-sayup seperti ada suara gamelan.
Alex lantas menyapukan tatapannya ke sepenjuru ruangan apartemennya itu.
Hingga...
Lamat-lamat suara gamelan itu semakin lama semakin jelas.
Bersamaan dengan itu tubuh Alex terasa panas tinggi dan mulai dijalari rasa gatal yang tak tertahankan.
Alex segera lari ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air, lalu begitu air di bathtub penuh, Alex langsung melompat masuk ke sana.
Laki-laki itu masuk menenggelamkan diri ke dalam air dan tiba-tiba tubuhnya perlahan berubah menjadi ular dengan sorot mata merah menyala.
Ular hitam yang sangat besar, kini berada di dalam bathtub.
Alex yang telah menjadi ular kini menjulurkan kepalanya keluar dari air, tepat saat terlihat sesosok bayangan laki-laki dengan pakaian macam kerajaan jaman dulu.
"Alex keturunanku..."
Bayangan Laki-laki berpakaian kerajaan jaman dulu yang tak lain adalah Paman Jaka Lengleng itu bersuara.
Alex yang menjadi ular itu mendekatkan kepalanya ke arah bayangan Jaka Lengleng.
"Jangan lupakan misimu terlahir ke dunia ini Alex, kau adalah penerus kakekmu, tuntutlah balas atas kehancuran Kakekmu di perusahaan yang dulu ia ikut memperjuangkannya, hancurkan Keluarga Aji Manggala, rebut pusaka saktinya dari keturunannya."
Bayangan Jaka Lengleng bicara seraya mengelus kepala sang ular jelmaan Alex.
"Ini sudah sempurna untukmu Alex, kau sudah menyadari siapa sesungguhnya dirimu, jangan lepaskan perempuan bernama Nadia itu, cepatlah kau menikah dengannya, penyatuan darah kalianlah yang akan mampu membantuku merebut Jayapada."
Hahaahaha...
,Bayangan Jaka Lengleng tertawa.
Hahahaha....
Othor tertawa karena orderan sarapan sudah sampai.
👻👻👻👻👻👻👻👻