
Zizi melompat turun mengikuti Mbak Pocong yang memantul turun lebih dulu.
Shane menyusul kemudian dan berdiri di samping Zizi.
Sebagai pengawal pribadi, Shane memang sangat sigap dan luar biasa menjaga Nonanya, seolah tak ada satupun bahaya yang boleh mengancam sang Nona, meskipun itu hanya mulut orang yang menguap lalu bau pete.
"Itu, ketok aja pintunya."
Kata Mbak Pocong pada Zizi, ia sedikit trauma barangkali nanti ditendang lagi.
Zizi kemudian membenahi penampilannya.
"Jangan terlalu rapi Non Zizi, nanti dikira sales."
Kata mbak pocong.
Haiiish... Zizi mendesis.
"Udah jadi pocong aja cerewet banget dah, aku pilok nanti."
Ujar Zizi.
"Ikh, Ibu tiri yang kejam."
Mbak Pocong geleng kepala.
Zizi berjalan mendekati pintu rumah Lori yang ditunjukkan mbak pocong.
Tok... Tok... Tok...
Zizi mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tua itu.
Tak lama kemudian Zizi mendengan seperti suara lonceng kecil yang mendekati pintu, setelah itu pintu pun terbuka pelahan.
Seorang bocah laki-laki dengan topi kerucut panjang berdiri menatap Zizi dan Shane, namun begitu mbak pocong ikut melongok di antara Shane dan Zizi tiba-tiba anak laki-laki itu berteriak.
"Ulaaaaat."
Zizi dan Shane jadi kaget lalu melompat, mereka melihat mbak pocong yang berdiri tanpa rasa bersalah.
Anak laki-laki itu mengangkat tangannya dan dari tangan itu muncul seperti bola, ia akan melempar bola itu ke arah muka mbak pocong, saat Shane segera menangkapnya.
"Dia teman kami."
Kata Shane.
Anak laki-laki itu menatap Shane.
"Memangnya siapa kalian?"
Belum juga Shane dan Zizi menjawab, dari dalam Lori terlihat muncul, disusul pula hantu Maria yang melayang serta Ali yang ikut karena penasaran.
"Ah Kak Zizi."
Ali sungguh senang bukan main, begitu ia melihat kakak sepupunya.
Zizi juga sama, ia begitu lega akhirnya bisa menemukan Ali dalam kondisi baik-baik saja.
Ali bergegas menghampiri Zizi yang langsung memeluk Ali dengan berkaca-kaca, sungguh ia merasa bersyukur karena mereka bisa bertemu.
Lori menatap Ali dan Zizi berpelukan, ia sedikit tidak suka.
Apa gadis itu pacar Ali? Batin Lori.
Tuk tuk tuk...
Terdengar suara seperti tongkat kayu yang mengenai lantai kayu, Zizi melepas pelukannya pada Ali dan melihat seorang Nenek mendekat.
Zizi mengerutkan kening, ia merasa tidak asing dengan wajah jelek itu.
Wajah nenek yang tirus dengan mata cekung dan hidung runcing.
Zizi menyuruh Ali minggir, lalu berjalan dua langkah lagi agar makin dekat dengan posisi Nenek yang kini tertatih ke arah mereka.
"Kau... Bukankah kau nenek yang sepuluh tahun lalu muncul di cermin gudang rumah Nenek?"
Tanya Zizi pada si Nenek.
Nenek itu sejenak menghentikkan langkahnya, ditatapnya Zizi si manusia baru yang muncul di rumahnya.
"Kau... Anak nakal itu?"
Meri akhirnya mengingat Zizi yang mendorongnya masuk lagi ke dalam cermin sepuluh tahun lalu setelah dengan susah payah ia melewati perjalanan yang penuh rintangan untuk ke dunia manusia agar bisa meminta pertolongan.
"Anak sialan itu ternyata sudah besar dan kena karma masuk ke sini, hehehehe..."
Meri terkekeh.
"Aku datang untuk menjemput Ali pulang."
Kata Zizi.
"Eh eh, tidak semudah itu ferguzo, enak saja kau datang tak diundang lalu main pulang saja, kau pikir dunia kami ini media sosial."
Ujar Meri.
Lori dan Belle, si anak laki-laki yang memakai kalung lonceng kecil itu saling berpandangan.
"Apa itu media sosial Lori?"
Tanya Belle pada kakaknya.
Lor menghela nafas.
"Mungkin media untuk mengumpulkan kesialan."
"Ooh yah, so sial, sangat sial."
Meri, si nenek hidung runcing itu kemudian menjentikkan jarinya ke arah pintu rumahnya yang seketika menutup sendiri.
Meri lalu dengan satu jentikkan jari lagi membuat seluruh dinding rumahnya berubah seperti dinding beton yang tebal dan kokoh.
Zizi langsung siaga.
Dia masuk ke dunia sihir atau apa ini. Batin Zizi.
Haiish, biasanya lawannya hanya hantu dan siluman, sekarang ada lagi mahluk-mahluk aneh.
Meri terkekeh.
"Seperti yang Oracle katakan, bahwa akan ada manusia yang bisa menolong kami para peri, desa-desa kami yang telah sekian lama dikutuk harus kalianlah manusia yang mengalahkan ratu peri jahat yang telah mengutuk seluruh desa peri."
Kata Meri.
"Weh, kenapa kami?"
Zizi berusaha menolak.
"Karena setelah sepuluh tahun sejak pintu menuju dunia manusia itu terbuka lagi, kalian akhirnya yang masuk ke dunia kami."
Ujar Meri.
Zizi yang masih tak mengerti memilih duduk di lantai sambil sila, ia sedikit lelah karena melompat-lompat tadi.
"Apa di sini tidak ada minum? Kalian mau aku tolong tapi minum saja tidak ada."
Kesal Zizi.
Lori yang menyadari ia tak segera menyuguhkan minum akhirnya segera melesat ke dapur.
Ia akan membuatkan minuman dari buah Berri.
Zizi menatap Meri yang bertahan berdiri dengan tongkatnya, sementara Ali akhirnya ikut duduk sila di samping Zizi, pun juga dengan Shane.
"Kau Nenek hidung runcing, coba ceritakan apa sebetulnya yang terjadi, tapi kau harus berjanji, jika aku bisa menolong, kami semua harus bisa pulang."
Ujar Zizi.
Meri terkekeh.
Ternyata anak nakal yang dulu mengubek-ubek mukanya itu sekarang bukan hanya tumbuh menjadi seorang gadis yang luar biasa, namun juga pandai bernegosiasi.
"Tentu saja Nona, jika seluruh kutukan Dolores bisa dipatahkan, maka dengan sendirinya seluruh pintu menuju alam manusia bisa kembali terbuka."
Kata Meri.
"Kau tahu, kamilah yang membantu bunga tetap bermekaran saat kemarau panjang, kami membantu mereka bertahan dengan memberi mereka air, begitu juga dengan pohon-pohon dan tanaman lain."
Ujar Meri.
"Kalian bangsa apa sebetulnya?"
Tanya Zizi.
"Kami peri, kami adalah peri."
Ujar Meri.
Zizi mengerutkan kening.
"Maksudmu, semacam Tinkerbell?"
Tanya Zizi.
"Ya, kau kenal dia rupanya."
"Tentu saja, dia ada filmnya, dia sangat terkenal, kau sudah tua tapi tidak terkenal."
Kata Zizi seperti biasa kalau bicara selalu menyakitkan hati.
Miss julid abad ini.
Zizi kemudian menepuk lantai kayu di dekatnya.
"Nenek hidung runcing, duduk lah di sini, kau bisa kesemutan berdiri terus."
Kata Zizi pula.
Meri kembali terkekeh.
Nenek itu menjentikkan jarinya dan kemudian sebuah kursi bergeser ke arahnya untuk kemudian ia duduk.
"Enak banget dia, tinggal pake jari aja semua-mua."
Gumam Mbak Pocong.
"Lha kamu, jari aja dibungkus, udah kayak jambu."
Kata Maria.
Mbak pocong manggut-manggut.
"Baiklah, akan aku ceritakan tentang Dolores, dan kenapa desa kami dikutuk, tapi berjanjilah tak akan menceritakannya pada siapapun juga setelah kalian kembali ke dunia manusia."
Meri berpesan, wajahnya yang tirus kini terlihat begitu serius.
Zizi mengangguk.
"Baiklah, selama kau juga menepati janjimu Nek."
Ujar Zizi tegas.
**-----------**