
Tanah Dalu seolah mendapat keberkahan yang tiada dua, begitu Raja dan Ratu mereka akhirnya kembali.
Sorak kebahagiaan mewarnai sambutan rakyat seluruh Tanah Dalu atas kedatangan rombongan Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak yang dikawal Zizi beserta tim nya.
Putri Arum Dalu tampak menghambur ke arah sang Ibunda dan memeluknya dengan erat.
Sekian lama terpisah, sekian lama hingga terasa tak ada harapan akan berkumpul lagi.
Zizi turun dari harimau Loreng yang ia tumpangi, begitu juga yang lain.
Semua rakyat Dalu pun mengelukan nama Zizi.
"Hidup Nona Zizi..."
"Hidup Nona Zizi..."
(Ya emang masih hidup, othor dari Neptunus)
Zizi yang dielu-elukan jadi tidak enak.
Raja dan Ratu Tanah Dalu akhirnya meminta Zizi menuju ke kerajaan mereka.
Mereka ingin memberikan sesuatu untuk Zizi sebagai ucapan rasa terimakasih yang begitu besar.
Namun, Zizi dengan halus menolak Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak.
"Zizi hanya ingin segera pulang Baginda, bukannya Zizi tidak menghargai, tapi buat Zizi kita semua sudah kembali dengan selamat sudah lebih dari cukup."
Ujar Zizi.
Lalu ...
"Tapi Nona, kami berhutang begitu besar pada Nona, apa pula yang bisa kami perbuat untuk membalas kebaikan Nona Zizi kepada kami?"
Tanya Raja Dalu.
Zizi membungkuk memberi hormat.
"Jagakan saja alam di sekitar Gunung agar tak dirusak manusia, sudah begitu banyak kerusakan alam, manusia mulai tak takut hantu tapi akhirnya jadi merusak alam."
Kata Zizi.
Raja Dalu mantuk-mantuk.
"Ya, anda benar Nona. Saat manusia tak lagi takut dengan semua yang gaib, maka keserakahan timbul tak terbendung. Belakangan banyak bencana alam sebetulnya adalah ulah manusia sendiri, namun setelah terjadi, mereka akan bicara soal ujian dan musibah, padahal tangan sesama manusia lah penyebabnya."
Zizi menatap langit yang biru cerah.
"Melihat alam lelembut lebih asri, Zizi jadi berpikir manusia memang jauh lebih merusak."
Kata Zizi.
Zizi kemudian tersenyum menatap semua rakyat Dalu yang terlihat begitu bersuka cita menyambut pemimpin mereka kembali.
Ya...
Pemimpin yang dicintai nyatanya tak perlu sibuk memakai topeng, cukup melakukan semuanya tulus untuk rakyatnya, maka cinta rakyat akan terus mengalir untuk mereka sekalipun mereka telah lama pergi.
"Nona Zizi, terimakasih sekali lagi, saya mewakili rakyat Dalu, terimakasih."
Tiba-tiba Putri Arum Dalu berlutut di depan Zizi dan melakukan sembah sungkem, yang kemudian diikuti oleh seluruh rakyat Tanah Dalu, termasuk juga para pasukan harimau.
Begitu Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak juga akan mengikuti sikap sang putri, Zizi cepat meraih tubuh Ratu dan Raja, lalu kemudian putri Arum Dalu.
"Sudah Zizi bilang semuanya sudah jadi ketetapan untuk Zizi."
Ujar Zizi.
Putri Arum Dalu memeluk Zizi dengan erat, lalu keduanya saling berlinang air mata.
"Salam untuk Nyonya Zia, saya akan berkunjung kapan-kapan."
Kata Putri Arum Dalu saat memeluk Zizi.
Zizi mengangguk.
Tak lama Zizi dan Shane serta Maria akhirnya pamit untuk kembali ke alam manusia, semua mengantar sampai gerbang gaib.
Mintul dan Mbapoc juga terlihat sesenggukan mengantar Zizi dan yang lain.
"Sampai jumpa Nona Zizi..."
Mereka semua dadah-dadah saat akhirnya gerbang gaib terbuka dan Zizi akan melangkah keluar.
Zizi menoleh sejenak dan membalas dadah-dadah.
"Zizi pulang ya."
Kata Zizi.
Ratu Bunga Petak dan Raja Dalu membungkuk, begitu juga Putri Arum Dalu dan akhirnya diikuti seluruh penghuni Tanah Dalu.
Zizi keluar melewati gerbang gaib, Shane dan Maria mengiringi Zizi.
Gerbang Gaib kembali menutup, dan kini Zizi tampak menghela nafas lega.
Dihirupnya kemudian udara Gunung Salak yang sejuk pagi itu.
Matahari belum sepenuhnya naik, langit subuh masih bertabur bintang.
Zizi merenggangkan kedua tangannya, menatap Maria dan Shane yang begitu setia menemaninya.
Zizi memeluk Maria dengan erat.
"Heeeey, apa ini?"
Maria kaget karena Zizi tiba-tiba memeluknya.
"Terimakasih Aunty... Terimakasih nemenin Zizi sampai kita bisa pulang lagi."
Kata Zizi.
Maria menepuk-nepuk punggung Zizi.
"Ya Zizi, kan Aunty sudah bilang akan menemanimu menyelesaikan misi Jayapada sebelum pergi."
Kata Maria.
Zizi melepas pelukannya.
"No..."
Zizi menggeleng.
"Jangan pergi Aunty, tetaplah bersama Zizi."
"Aunty kan udah tahu kalau kata Eyang Zizi akan punya anak lima, Zizi nggak mau ngurusin sendirian."
Kata Zizi yang jelas saja ujungnya selalu tidak enak.
Maria tepok jidat lagi.
"Kirain karena kamu terlalu sayang Aunty, ternyata cuma ingin memanfaatkan Aunty saja, dasar."
Maria menabok ubun-ubun Zizi.
Zizi ganti menabok tangan Maria.
"Hey, malah balas."
Zizi cekikikan.
"Reflek."
Kata Zizi.
Zizi kemudian melihat ke arah Shane.
Ah tatapan Shane seperti menunggu Zizi mengatakan sesuatu.
Tapi jelas Shane takut berharap banyak.
Zizi menghampiri Shane dan kemudian memeluk Shane juga.
"Terimakasih Kak Seng, terimakasih karena menemani Zizi dan tidak terluka sama sekali."
Kata Zizi.
Shane yang dipeluk terlihat berdiri saja kaku macam tiang listrik yang tegangannya saja yang tinggi.
Maria yang enggan menjadi obat nyamuk di antara kedua butir anak muda itu akhirnya memilih menyingkir dan melayang turun dari Gunung lebih dulu.
Zizi melepaskan pelukannya dari tubuh Shane, dan kemudian mengajak Shane menyusul Maria.
Tapi...
Shane cepat meraih tangan Zizi.
"Nona."
Shane memanggil Zizi.
Zizi menoleh ke arah Shane lagi.
Ah... Zizi otaknya mengkerut karena harusnya menyiapkan jawaban untuk Shane sesuai janjinya.
Dan...
"Apa boleh saya menanyakan soal jawaban Nona untuk saya? Jawaban atas pertanyaan tempo hari."
Kata Shane dengan suara gemetar.
Tampaknya untuk Shane, kali ini rasanya jauh lebih menakutkan daripada saat menghadapi banyak mahluk di alam lelembut.
Zizi terdiam, ia menatap Shane dengan kedua matanya yang bulat bening.
Pemuda tampan di depannya itu membalas tatapan Zizi dengan segenap hati sanubari.
Zizi mendekati Shane lagi.
Pada dasarnya Zizi bukan sosok yang bisa bicara serius dengan benar. Sulit rasanya untuk Zizi mengucapkan apa yang ia rasakan saat ini kepada Shane.
Tapi yang jelas...
Zizi kemudian berjinjit sedikit. Tubuh Shane yang memang sangat tinggi membuat Zizi harus berjinjit sedikit untuk kemudian mencium pipinya.
Hanya sekilas saja, lalu Zizi berdiri biasa lagi sambil tersenyum.
"Itu jawaban Zizi."
Kata Zizi.
Shane terdiam di tempatnya.
Begitu Zizi menjauh, Shane juga masih terdiam.
Bingung mengartikan ciuman dari Zizi untuknya itu sebetulnya ciuman apa.
Tapi...
Zizi menoleh lagi lalu tersenyum.
"Ayo Kak Seng kita pulang..."
Ajak Zizi.
Shane terkesiap.
Apa ini?
Kenapa setelah mencium pipinya Zizi kelihatan biasa saja?
Apa maksudnya?
Shane yang masih butuh kejelasan akhirnya melompat mengejar Zizi.
Shane meraih tubuh Zizi, menariknya dalam pelukan lalu menciumnya.
Apa ini?
Zizi merasakan dadanya seperti jantungnya merosot turun dan menembus ke dasar bumi. Membuat rotasi bumi ikut berhenti.
Zizi memejamkan matanya, kedua tangannya meremas jaket yang dipakai Shane.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Dan...
Pluk.
Seekor burung terbang di atas mereka lalu tiba-tiba hinggap bertengger di atas kepala Shane.
**-------------**
(Hey burung, sini sini... maaf itu burung Othor lepas)