
"Pak Timuuuuus... di mana di mana di manaa..."
Maria malah jadi dangdutan.
"Aku di sini, kau ada di sana, membentang luas Samudera biru, memisahkan kita..."
Tiba-tiba Marthinus bin timus muncul melompat dari arah kamarnya menyanyikan lagu Jamrud.
Maria sampai kaget melihat kemunculan Marthinus yang sudah macam hujan di tengah panas terik bulan Juni.
"Dipanggil Nyonya Zia, Pak."
Kata Maria.
Marthinus mengangkat kedua alisnya ke angkasa.
"Kenapa kau memanggilku Pak sekarang?"
Marthinus protes.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Bu?"
Haiiish... Marthinus mendesis.
Marthinus pun akhirnya melesat cepat menuju ruangan utama rumah Zion, dan akan menuju keluar manakala Maria memanggilnya lagi sambil melayang menyusulnya.
"Mau ke manaaaa? Nyonya Zia di lantai atas."
Kata Maria yang jadi heran itu Marthinus melesat macam anak panah tapi tak tahu mana sasarannya.
Untungnya begitu dipanggil Mathinus rem nya tidak blong, walhasil Marthinus berhenti di waktu dan tempat yang tepat.
Marthinus kini menaiki anak tangga rumah dengan mengganti berjalan seperti laki-laki manusia yang berwibawa.
Naik, naik ke lantai atas, yang kemudian di sana tampak Zia menunggu sambil duduk di set sofa bersama Zizi.
Marthinus yang datang dengan Maria yang melayang di belakangnya tampak membungkuk memberi salam.
"Duduklah Tuan Marthinus."
Kata Zia pada Marthinus.
Marthinus, laki-laki anak hubungan salah jodoh antara Lican dan vampire itu kemudian duduk di atas sofa yang sangat empuk menul-menul.
Tapi, karena Marthinus saat duduk tidak hati-hati dan terlalu cepat gerakannya, maka ia pun memantul ke atas karena sofanya memang terlalu empuk.
"Eh... Eh... Eh..."
Marthinus kaget, Zia dan Zizi lebih kaget lagi.
Maria geleng-geleng kepala.
"Lah udah kebiasaan duduk di pohon, jadinya begitu."
Kata Maria.
"Maaf Nyonya, ini nanti di cut saja, biar othor suruh revisi dan ganti adegan."
Ujar Marthinus.
Zia mengangguk.
"Ya, nanti Tuan Zion saja yang nego, kalau sama Tuan Zion, harganya bisa dikurangi."
Sahut Zia.
Marthinus mantuk-mantuk.
"Baiklah Nyonya, kura-kura ada apa saya dipanggil?"
Tanya Marthinus dengan wajah serius.
Zia tampak menatap Marthinus yang duduk di seberang meja di mana ia duduk.
"Tuan Marthinus, terus terang philip terang terus."
Hah?
Malah iklan lampu.
"Begini Tuan Marthinus, ijinkan saya bertanya."
Kata Zia.
"Ya Nyonya, saya ijinkan, silahkan."
"Tuan Marthinus selama di Bradley Woods Lincolnshire, dan kemudian berpindah ke hutan bukit, apakah Tuan Marthinus ada kesibukan di sana? Misalnya bisnis, atau menduduki satu jabatan?"
Tanya Zia.
Marthinus mantuk-mantuk, seolah tahu apa yang dimaksud sang Nyonya.
"Kebetulan saya di sana hanyalah seorang pegawai bang saja Nyonya, tidak lebih tidak kurang."
"Wah keren, ada bang juga ternyata."
Zizi ikut berkomentar.
Marthinus terkekeh.
Kata Marthinus pula.
Zia nyengir, sementara Zizi terpingkal-pingkal.
"Pantesan, baru saja Zizi mau tanya Paman Timus jadi pegawai bang bagian apa? Tidak mungkin teller, hahaha..."
Zizi malah jadi memancing Maria menambah volume tawanya jadi stereo.
"Ssst... Kalian ini, masuk kamar sana, Mama mau bicara serius dengan Tuan Marthinus."
Kata Zia akhirnya, mengusir duo cecunguk itu.
Zizi dan Maria yang jika melihat Zia sudah mulai menampakkan sungutnya, langsung tak mau berdebat lagi.
Mereka langsung ngacir melipir menurut masuk kamar.
Sepeninggal Zizi dan Maria, Zia pun memulai pembicaraannya dengan Paman Marthinus.
"Maaf Tuan Marthinus, kadang Zizi memang suka tidak kontrol saat bicara."
Ujar Zia tak enak.
Marthinus tersenyum, tentu saja Marthinus sudah cukup hafal dengan apa yang dilakukan Zizi.
"Begini Tuan Marthinus."
Zia akhirnya memulai pembicaraan mereka lebih serius.
"Tuan Marthinus, bolehkah saya meminta tolong Tuan Marthinus mulai lusa tinggal bersama kami di Indonesia?"
Tanya Zia.
Marthinus memandang sang Nyonya di hadapannya.
"Menjelang pernikahan Zizi ini, sepertinya ancaman dari pihak musuh bisa jadi akan semakin intens. Saya merasakan ancaman kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya."
Ujar Zia.
Marthinus mantuk-mantuk.
Tentu saja Marthinus tahu itu, bahkan ia sudah melihat seorang pelayan di tempat jam tangan mewah yang bertatto ular itu juga gerak-geriknya sangat mencurigakan.
Seperti mata-mata yang mencoba mengawasi Shane dan Nicx. Dan juga serangan banyak ular di rumah ini kemarin malam.
"Bagaimana Tuan Marthinus, apakah anda keberatan jika saya meminta bantuan kepada anda sampai sejauh itu?"
Tanya Zia akhirnya.
Marthinus menangkap kegelisahan yang teramat pada wajah cantik Zia.
Marthinus tahu bahwa yang akan dihadapi keluarga baik hati ini bukanlah hal yang sembarangan.
Marthinus akhirnya, tanpa menunggu lama dan berpikir muter-muter macam obat nyamuk cap kingkong, akhirnya mengangguk.
"Ya Nyonya, baiklah, jika memang saya dibutuhkan untuk membantu Nyonya Zia dan Tuan Zion serta Nona Zizi, saya akan berusaha sebaik mungkin."
Kata Marthinus akhirnya memutuskan.
Zia yang mendengar jawaban Marthinus tentu saja lega luar biasa.
"Terimakasih Tuan Marthinus, saya sangat berterimakasih padamu."
Ujar Zia.
Marthinus mengangguk.
"Kebetulan saya juga bosan hidup di hutan, saya ingin hidup di tempat baru, mungkin inilah jawabannya, saya mendapat tawaran pekerjaan lagi setelah sekian tahun menganggur."
Kata Marthinus.
Zia nyengir.
"Baiklah Tuan Marthinus, selebihnya saya akan bicarakan dengan Tuan Nicx, yang akan membantumu menguruskan identitas, pasport, visa dan lain sebagainya. Setelah Zizi dan Shane menikah, lalu Shane menyelesaikan studynya, ia akan kembali juga ke Indonesia, saya akan menitipkan keduanya padamu dan pada Maria, apa kau bersedia Tuan Marthinus?"
Tanya Zia lagi.
Marthinus mengangguk.
Zia menghela nafas.
"Kelak, ada kabar dari Eyang dan Nenek Bandapati, bahwa Zizi akan memiliki keturunan anak laki-laki yang semuanya berjumlah lima orang, saya ingin mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang bukan hanya pandai beladiri namun juga kuat, Tuan Marthinus pasti tahu bahwa apa yang akan mereka emban bukan hanya perusahaan kakek buyutnya, namun juga pusaka warisan leluhur kami, Jayapada."
Kata Zia.
"Ya Nyonya tentu saya tak akan lupa hal itu. Ngg... Tapi, ngomong-ngomong banyak amat ya anak Nona Zizi dan Shane."
Marthinus geleng-geleng kepala.
Membayangkan semua anak itu seperti Zizi mungkin dunia Marthinus seketika akan ramai seperti kandang ayam.
Tapi jika membayangkan semua anak itu seperti Shane, maka dunia Marthinus akan sesepi kuburan.
"Ya bisa jadi karena perang kita akan berlanjut sampai anak keturunan Zizi, Tuan Marthinus, itu sebabnya, saya memikirkan dengan serius sekali, siapa yang tepat mendampingi Zizi, yang akhirnya pilihan jatuh pada Shane, dan juga memikirkan siapa yang tepat untuk mengawal Zizi dan Shane."
Marthinus mengangguk tanda ia benar-benar mengerti apa yang menjadi harapan Zia.
**------------**