
Selayaknya hari bahagia untuk kebanyakan keluarga, semua berkumpul untuk memberikan selamat dan memberikan dukungan.
Meskipun keluarga Zia hanya tinggal keluarga Dimas yang itupun termasuk saudara jauh, sedangkan Zion hanya memiliki Ziyan kakak kembarnya, tapi itu sudah lebih dari cukup karena keberadaan mereka membuat Zia dan Zion yang akan menggelar hajatan merasa sangat disupport.
Zion yang pulang jam satu pagi di hari terakhir kerjanya sebelum cuti tiga hari tak akan ke kantor kini terlihat masih tertidur pulas ketika semua orang sudah akan menuju hotel Alpha Hotel yang bersebelahan dengan gedung di mana acara Zizi akan digelar esok hari.
Zia yang tak tega membangunkan Zion akhirnya memutuskan untuk menunda berangkatnya, ia akan menunggu Zion bangun saja dan mempersilahkan semuanya ke hotel lebih dulu.
"Zizi juga duluan ya Ma."
Kata Zizi.
"Jangan makan lagi, kemarin kamu di suruh makan putih telor saja malah makan nasi ayam woku."
Marah Zia.
"Kan ada pilihan yang lebih enak, kenapa harus milih yang tidak enak, ya kan Paman?"
Zizi malah minta dukungan Paman Ziyan yang sedang menghirup aroma cerutu sambil duduk di sofa.
"Ya benar."
Sahut Paman Ziyan.
"Ah Pamanmu ya jelas membelamu Zizi."
Kata Bibi Aisyah tertawa.
"Memangnya harus begitu ya Zia?"
Tanya Bibi Aisyah.
"Ya lebih baik begitu, untuk mengurangi keringat nantinya saat pakai make up, dan juga ya adalah kepercayaan dari leluhur turun temurun kalau mau menikah baiknya menghindari makanan yang mengandung rasa, meskipun itu garam."
Kata Zia.
Bibi Aisyah mantuk-mantuk.
"Eva dengar itu."
Bibi Aisyah pada Eva yang berdiri di sampingnya.
"Hihihi Eva mah masih lama lah, masih mau sekolah dulu, setidaknya masuk Canada University."
Kata Eva.
"Ah coba kalau Zizi macam Eva."
Kata Zia.
"Coba kalau Zizi tidak punya Eyang Bandapati."
Kata Zizi yang jelas saja langsung kena jitak kepalanya oleh Zia.
"Mana boleh bicara begitu, kamu ini, mau di tendang Eyangmu sampai ke bulan?"
Omel Zia.
Ali terpingkal membayangkan Zizi terpental sampai bulan.
Zizi menatap Ali, bukannya marah ditertawakan malah nyeletuk lagi.
"Kak Zizi pinjam helm kamu Al kalau nanti mental ke bulan."
"Hahaha... Siaaap, pakai saja Kak, tinggal pilih warna apa."
Ali tertawa makin kencang.
Zizi merangkul Ali dan berjalan mendahului yang lain.
Zia menghela nafas.
"Tak bisa dibayangkan besok dia akan menikah besok, apa keputusanku menikahkannya salah?"
Keluh Zia.
Bibi Aisyah tersenyum.
"Sudah tepat kamu memutuskan Zizi menikah. Dia kan selama ini main terus, sekolah juga tidak fokus, kalau menikah nanti mungkin ada kegiatan yang lebih jelas. Lagipula, Zion butuh pendamping untuk mengurus Alpha Centauri, kau tahu kan Ayahnya Eva terlalu sibuk dan tak mungkin sering pulang ke Indonesia, perusahaan kami juga tak bisa diabaikan."
Kata Bibi Aisyah.
"Keberadaan Shane jika menjadi menantu lalu langsung di bawa naik ke jajaran direksi tentu tak akan jadi soal, hanya hitungan satu atau dua tahun, asal kerjanya benar-benar bagus, Zion akan bisa memberikannya jabatan lebih banyak."
Zia mengangguk.
"Aku tak tahu soal bisnis, apalagi Zizi yang hanya tahunya ribut dengan hantu."
"Serta buang uang."
Kata Eva menyela sambil nyengir.
Zia mantuk-mantuk,
"Ya dia sepertinya tak menganggap uang penting."
Ujar Zia.
"Dia kadang kelewat baik Bi."
Kata Eva pada Zia.
"Pernah jalan dengan Eva di Malaysia, lalu dia lihat ada sesama orang Indonesia kan sedang makan di warung nasi Lemang, ah dia bayari semuanya. Habis entah berapa dia hari itu."
Tutur Eva.
Zia mengurut kening.
"Ya Mbak Ning juga pernah cerita Zizi sedang main basket di halaman depan rumah dengan para pengawal, ada tukang sampah komplek dipanggilnya dan dikasih uang dua juta katanya untuk sarapan."
Ujar Zia mengurut keningnya yang rasanya bundet.
Aisyah tertawa mendengar kisah Zizi.
"Dia nyatanya tak pernah tahu jumlah uang, sudah sewajarnya karena Zion sangat memanjakannya."
"Uang jajan Zizi senilai dua honda jazz satu bulan, aku tahu Zion begitu."
Kata Paman Ziyan yang tampak berdiri dan ikut nimbrung, lalu merangkul bahu Eva.
"Wah Eva dong Ayah, masa uang jajan Eva hanya lima belas ribu ringgit."
Ujar Eva.
'Kalau kamu dikasih uang sebanyak itu pasti habis untuk shopping, kalau Zizi dikasih uang seharga dua honda jazz satu bulan itu dia tidak pakai untuk shopping, coba tanya Bibi Zia."
Paman Ziyan ke arah Zia.
Zia mantuk-mantuk.
"Iya sih, uang yang tersimpan pastinya lebih banyak, Zizi memang jarang pakai, hanya kalau sekali pakai ya begitu itu, tapi jarang sekali kalau untuk diri sendiri."
Kata Zia akhirnya.
"Itu kelebihannya."
Senyum Bibi Aisyah.
Eva jadi nyengir.
"Kalau Eva mampu begitu, Ibu juga bisa kasih tambahan uang jajan."
Eva tertawa.
"Ah sudah cukup, lima belas ribu ringgitpun tak mengapa, yang penting Eva bisa beli apapun."
Ujar Eva di sela tawanya.
Zizi sendiri bersama Ali sudah berada di halaman depan rumah.
Empat mobil telah di siapkan di depan.
Shane, Marthinus dan Nancy juga telah ada di sana, mereka terlihat bicara serius bersama Maria juga.
Dan...
Tunggu, siapa itu yang berkuncir dua, menyelip di antara Nancy dan Shane.
Ah yah... Zanuba,
Balita jin itu tampaknya ingin ikut eksis.
**-------------**