
Zizi dan Maria serta para hantu akhirnya kembali ke hotel zombie melalui pintu darurat alam lelembut.
Meskipun pintu darurat itu benar-benar darurat, karena pilihannya antara tiga, pintu satu keluar langsung di selokan, pintu dua ada di gorong-gorong, pintu tiga ada di awang-awang.
Zizi yang jelas tak mungkin memilih selokan dan gorong-gorong, walhasil memilih pintu yang ke tiga, dimana saat ia keluar langsung munculnya di awang-awang depan zombie hotel, di atas parkiran, di depan lantai lima.
"Waduh, tinggi banget Aunty."
Kata Zizi begitu melongok dari pintu darurat alam lelembut.
Maria yang berdiri di belakang Zizi ikut melongok.
"Aah biasa saja, udah lompat aja, tadi juga kamu langsung lompat ke apartemen."
Kata Maria.
"Jiaaah itu mah kerjaan Nenek Retnoasih, kalau Zizi yang lompat paling jauh cuma dua meter."
Kata Zizi.
"Ah iya juga."
Maria mantuk-mantuk.
"Ya sudah, cepet Aunty pegangi."
Kata Maria.
Zizi bersiap melompat dengan Maria, saat tiba-tiba terdengar suara perempuan menjerit dari balkon kamar zombie hotel di lantai lima.
"Aaaaaaaaaaa..."
Zizi dan Maria menoleh.
Perempuan itu menunjuk Zizi yang mengambang, dan perempuan itu pingsan.
"Waduh, gawat, ayuk Aunty cepat kabur."
Kata Zizi yang malah ngacir lupa kalau dia di awang-awang.
"Waaaa... aaaaaaa..."
Zizi terjun ke bawah, untungnya langsung diraih Maria dan dibawa terbang lagi ke lantai lima dan langsung menuju kamar Zizi menginap.
"Dasar, calon pengantin pe'a."
Kata Maria.
"Lah Aunty gerakannya lamban, suruh ayuk malah diem bae."
"Ya kan ambil nafas dulu."
"Kan Aunty sudah tidak nafas."
Mereka malah jadi ribut sendiri.
Sementara itu perempuan yang pingsan di balkon kamarnya sedang digotong suaminya yang baru selesai mandi.
"Sayang, ada apa? Ada apa?"
Tanya si suami panik sambil berusaha menyadarkan isterinya begitu sang isteri sudah berhasil ia baringkan di tempat tidur.
"Pa... tadi ada perempuan mengambang di awang-awang."
Kata si isteri.
Suaminya langsung melihat keluar kaca jendela.
"Aku... aku akhirnya percaya ada hantu Pa."
Kata si isteri.
Bersamaan dengan itu, di luar sana ramai terdengar suara sirine seperti pemadam kebakaran.
Zizi dan Maria saling pandang.
Tak menunggu lama, merekapun langsung ke arah jendela kamar dan melihat Andromeda Apartement terbakar di beberapa lantai.
Banyak pemadam kebakaran dan juga ambulance berdatangan, begitu juga wartawan dari media elektronik sampai juga para YouTuber yang ingin buat konten untuk memberitakan kebakaran apartemen mewah itu.
"Api Nenek Bandapati bukan?"
Tanya Zizi.
Maria mengangguk.
"Ya pastinya, memangnya siapa lagi yang berani bermain api selain dia."
Ujar Maria.
Zizi nyengir.
Dasar Eyang petakilan. Batin Zizi.
Zizi menatap apartemen yang hangus terbakar di bagian lantai atas, energi gelap yang semula membungkus apartemen mewah itu pelahan memudar diganti asap hitam tebal yang membumbung membuat langit subuh terlihat kelam.
Zizi menghela nafas.
Ia tahu bahwa semuanya belum sepenuhnya berakhir, tapi setidaknya ada sedikit lega dalam hatinya.
Ya, meskipun...
"Kau menghawatirkan Nadia?"
Tanya Maria melirik Zizi yang terlihat diam membisu.
Zizi menoleh ke arah Maria, dan sekilas lalu gadis itu terlihat mengangguk.
"Entah apa yang membuatnya menjadi memiliki takdir semenyedihkan itu."
Kata Zizi.
Maria mengangguk.
"Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Ujar Maria.
Zizi kembali menatap keluar jendela, pemadam kebakaran menambah beberapa mobil, mereka tampak sibuk memadamkan api.
Petugas polisi juga mulai sibuk mengatur arus lalu lintas dan berjaga.
"Andromeda, mungkin mereka akan kembali mati suri."
Lirih Zizi.
Maria mantuk-mantuk.
**-------------**
Pagi hari di rumah dekat bandara, Zion, Kak Ziyan dan Kakek Ardi Subrata tampak sibuk menikmati sarapan di halaman terbuka di belakang rumah.
Mereka duduk melingkari meja makan berbentuk bundar yang di tengahnya ada payung yang jika siang hari bisa dibuka.
Zion tampak sedang menyantap potongan buah alpukatnya, manakala Dimas datang dan melaporkan bahwa ada peristiwa besar yang menimpa Andromeda Putra Corporation.
"Apa yang terjadi dengan mereka?"
Tanya Kak Ziyan.
Dimas lantas memberikan smartphone miliknya untuk menunjukkan berita online yang mulai dipenuhi tentang apartemen Andromeda yang terbakar.
Begitu juga dengan video-video yang didapatkan langsung dari pegawai-pegawai zombie hotel yang merekam langsung kejadian.
"Apa sudah masuk berita televisi?"
Tanya Zion.
Dimas mengangguk.
"Sejak subuh, berita dipenuhi tentang terbakarnya apartemen mewah Andromeda yang aneh menurut keterangan beberapa saksi mata."
"Aneh?"
Zion mulai curiga ini ada kaitannya dengan Zizi.
Dimas kembali mengangguk.
"Salah satu penghuni apartemen memberikan kesaksisan, di jam itu dia baru pulang clubing, lalu dia melihat ada seperti bayangan besar terbang dan tiba-tiba saja ada semburan api entah yang kemudian apartemen itu terbakar."
"Bayangan apa?"
Zion makin penasaran.
Dimas menatap semuanya, lalu...
"Naga."
Deg!
Tentu saja...
Naga.
"Apa ini ada kaitannya dengan Zizi?"
Tanya kak Ziyan.
Zion terdiam, lalu menatap kakeknya.
"Jika ini ulah Zizi, bagaimana?"
Lirih Zion.
Kakek Ardi Subrata tak disangka malah tertawa.
"Kau ini, sudah jelas kesaksian orang itu dia melihat bayangan besar berbentuk Naga, mana ada yang tahu Zizi itu keturunan Naga."
Kata Kakek.
Zion tersenyum kecut.
Ya aku bahkan tak menyangka kalau Kakek juga keturunan ular bersisik emas. Batin Zion.
"Bagaimana saham perusahaan mereka?"
Tanya Kak Ziyan pada Dimas.
"Nah ini yang paling aneh Tuan-tuan semua."
Ujar Dimas.
"Untuk saham hari ini kita belum dapatkan yang terbaru, tapi ini tentang usaha mereka yang lain."
Zion, Kak Ziyan dan Kakek Ardi Subrata menatap Dimas.
"Semua usaha mereka baik yang di Indonesia maupun di luar negeri mengalami masalah. Kabarnya, apartemen dan juga beberapa gedung mewah milik mereka ada yang runtuh dan juga ada yang terbakar."
"Hah kenapa bisa begitu?"
Zion ternganga.
"Entahlah, saya juga bingung."
Kata Dimas.
Kak Ziyan mantuk-mantuk.
Di saat yang sama, hp Ziyan berdering.
Panggilan masuk ke dalam hp nya dengan nama Aisyah..
Ziyan segera mengangkat panggilan isterinya tersebut.
"Bang..."
Aisyah suaranya terdengar lembut namun ada nada panik.
"Ada apa?"
Tanya Ziyan jadi ikut panik.
"Bang, danau di sekitar rumah tiba-tiba seperti mendidih, banyak ikan mati."
Kata Aisyah.
"Sejak kapan?"
Tanya Kak Ziyan.
"Sejak subuh tadi."
Ujar Aisyah.
"Kami sudah menghubungi Police, semua sedang diselidiki, tapi belum pernah ada kejadian macam ini, semua jadi bingung."
Kata Aisyah.
Ziyan menghela nafas.
"Pastikan Ali dan Eva tak ada yang mendekat, terutama Ali."
Kata Ziyan berpesan.
"Iya Bang, tapi pagi tadi Ali sudah ke sana."
"Hah."
Ziyan nyaris menggebrak meja.
"Jangan lagi."
"Tidak Bang, dia katanya hanya ingin memastikan sahabatnya selamat."
Kata Aisyah.
**------------**