
"Tuan Muda Ali..."
Paman Josh tampak memandang Ali yang duduk di samping Zizi.
"Saya mohon, beritahu kami apa sebetulnya yang terjadi Paman, barusan di danau, saya juga melihat kejadian masa lalu."
Ujar Zizi.
"Anda bertemu Paman anda?"
Tanya Paman Josh.
"Ya, saya melihatnya, dia bersama seorang perempuan. Aku rasa perempuan itu seorang manusia."
Tutur Zizi.
Paman Josh mengangguk.
"Ya anda benar, beliau manusia, dan beliaulah yang melakukan perjanjian dengan mahluk dalam kungkungan lembah Narawitri, sebuah lembah di kedalaman hutan ini yang dalam lingkup kekuasaan Paman anda Nona Zizi, yang sebetulnya juga tentu adalah Paman Tuan Muda Ali pula."
Zizi mengangguk membenarkan.
Hubungan darah antara Zizi dan Ali serta Jaka Lengleng adalah dari Kakek moyang mereka, Balasanggeni.
"Kenapa Nenek moyang kami membuat perjanjian konyol dengan mahluk di lembah itu? Dan saya mendengar Paman Jaka Lengleng bicara soal keturunan dari jenis manusia, apa itu..."
"Keturunan Jaka Lengleng sudah ada di sekitar kakek anda sejak dulu Nona."
Kata Paman Josh.
"Siapa?"
Tampak Zizi tubuhnya bergetar, rasa penasaran yang begitu besar seolah membuncah.
Paman Josh tersenyum.
"Kelak, anda dan anak-anak anda yang akan berhadapan lagi dengan mereka. Saya memilih tidak akan membukanya sekarang."
Kata Paman Josh.
Tampak Zizi jelas kecewa.
Ia rasanya emosi tinggi karena Paman Josh tak mau memberitahu siapa keturunan ular itu, tapi Ali menggapai tangan kakak sepupunya, membuat Zizi akhirnya tersadar jika yang ia hadapi saat ini adalah penjaga dan penolong Ali.
Zizi pun mengalah.
Ia mencoba menenangkan diri, meskipun pastinya itu sulit untuknya.
Bagaimanapun, darah naga sangat panas bergolak dalam diri Zizi.
Paman Josh yang mengerti Zizi sebetulnya marah, maka ia tampak tersenyum maklum.
Tapi, Paman Josh memilih tak mengatakan apa-apa, agar Zizi tak terobsesi memburu mereka sementara mereka belum melakukan apapun.
"Saya akan bicara soal Tuan Muda Ali saja, karena pasti tujuan pertama kalian datang ke hutan ini adalah karena ingin menemukan kebenaran tentang Tuan Muda Ali bukan?"
Paman Josh menatap kedua anak muda di depannya.
Ali mengangguk.
"Ya Paman. Saya mengeluh pada Kak Zizi, karena saya sungguh merasa semakin berat membawa beban kekuatan ini."
Ujar Ali.
"Dulu, saat kecil, saat masih hanya bisa merasakan energi mereka, saya tak merasa takut apapun, karena saya tak bisa melihat bentuk mereka. Gangguan pun tak banyak. Tapi sekarang..."
Ali seperti kelelahan.
Paman Josh mantuk-mantuk.
"Dia tidak siap, melihat hantu juga dia sering takut."
Kata Zizi.
Paman Josh tersenyum.
"Sangat wajar jika manusia takut pada hantu karena alam kalian berbeda. Merasa asing, tak biasa, belum lagi jika mereka bentuknya tak lazim ditemui, tentu saja takut itu lumrah saja."
Kata Paman Josh.
"Tapi Kak Zizi santai sekali, Ali tak bisa seperti dia."
Ujar Ali.
Zizi cekikikan.
"Bahkan hantu yang takut padanya."
Lanjut Ali lagi.
Paman Josh mengangguk.
"Banyak hantu yang membicarakan Nona Zizi, wajar jika kondisinya terbalik Tuan Muda Ali."
Ali menghela nafas.
"Jika kekuatan itu seperti sebuah berkah untuk Kak Zizi, untuk Ali belakangan terasa menjadi masalah yang sangat mengganggu Paman, terutama sejak mahluk aneh yang kata Paman dari lembah Narawitri itu."
Ujar Ali.
"Dia mulai mengikuti anda lagi?"
Tanya Paman Josh.
Ali mengangguk.
"Ah apakah anda tahun ini tujuh belas tahun Tuan Muda?"
Ali kembali mengangguk.
"Ya tentu saja, karena anda tujuh belas tahun, ia merasa sudah saatnya menagih apa yang diberikan padanya oleh Nenek moyang anda."
Kata Paman Josh akhirnya.
"Kenapa Nenek moyang kami begitu jahat?"
Tanya Zizi.
Paman Josh mengalihkan pandangannya pada Zizi.
"Bukan jahat Nona, ia hanya seorang manusia yang berusaha selamat dengan segala macam cara, tentu saja itu tak bisa disalahkan."
Zizi dan Ali terdiam.
"Dia adalah perempuan yang lahir tepat di tengah malam saat bulan purnama berpendar sempurna di tengah langit. Wajahnya sangat cantik, energi yang terpancar darinya begitu hangat semacam bulan purnama. Suatu hari ia datang ke tepi hutan untuk mencari akar-akaran, dia adalah putri bungsu seorang tabib di kerajaan Galuh Purba."
Paman Josh memulai kisahnya.
Zizi mengerutkan keningnya.
"Galuh Purba? Sebentar Paman, bukankah itu berarti tempat di mana sangat jauh dari tempat ini? Itu bukankah adanya di sekitar hotel Papa dan Bibik Aisyah dulu?"
Tanya Zizi.
Paman Josh mengangguk membenarkan.
"Ya, saya akan jelaskan Nona, agar Nona Zizi dan Tuan Muda Ali mengerti."
Kata Paman Josh.
Zizi pun akhirnya memilih diam lagi, agar Paman Josh melanjutkan kisahnya.
"Putri tabib kerajaan Galuh Purba itu mencari akar-akaran dan juga daun-daun dari tanaman yang bisa digunakan untuk membuat ramuan obat sesuai apa yang diminta Ayahnya. Hingga kemudian ia bertemu dengan Jaka Lengleng, paman anda."
"Jaka Lengleng, memang kerap mencari perempuan untuk kesenangannya, meski ia telah bersama Gendhis Arum, namun itu tak menghalanginya untuk bercinta dengan banyak mahluk perempuan lain."
Zizi mendengarnya jadi terbayang lagi saat ia diajak mengintip ke dalam masa lalu oleh Nenek Retnoasih.
Zizi bergidik.
"Kebetulan, energi yang terpancar dari Sekar Ayu, sangat disukai Jaka Lengleng, membuatnya berambisi memiliki anak dari bangsa manusia dan terlahir menjadi manusia."
"Apa Sekar Ayu nama nenek moyang kami?"
Tanya Zizi.
Paman Josh mengangguk.
"Sekar Ayu, dia memang sangat cantik, saat saya menyelamatkannya, dia sedang dalam keadaan mengandung. Dia lari dari kerajaan Jaka Lengleng karena akan dibunuh Nyi Gendis Arum yang mulai cemburu dengan keberadaannya yang lebih mendapat perhatian dari sang suami."
Zizi dan Ali berpandangan.
"Untuk melarikan diri itulah, Sekar Ayu membuat perjanjian dengan mahluk di lembah Narawitri itu. Karena ia tak bisa keluar dari danau, dan ia hanya bisa keluar begitu melewati penjagaan mahluk tersebut."
"Dan dia bisa keluar?"
"Ya, dia keluar dari sana, dalam keadaan payah, lalu bertemu saya yang kebetulan tengah minum di tepi sungai di tengah hutan."
"Jadi dulu paman Josh ada di sekitar hutan dekat Galuh Purba juga?"
Tanya Zizi.
Paman Josh mengangguk.
"Ah, pantas saja."
Zizi bergumam.
"Lalu, apa yang terjadi Paman?"
Tanya Zizi.
"Sekar Ayu, Paman antar pulang, ia meminta Paman melindungi keturunannya yang kelak akan diminta seorang mahluk dari lembah Narawitri. Ia tahu jika perjanjian itu salah, tapi ia melakukannya karena takut tak bisa pulang."
"Itu sebabnya Paman akhirnya tinggal di sini?"
Paman Josh mengangguk.
"Jadi sebetulnya, ada berapa banyak hutan dan danau yang terhubung seperti ini?"
Tanya Zizi.
"Sangat banyak Nona."
"Lalu bagaimana Paman Josh tahu jika dari keluarga Bibik Aisyahlah yang akan lahir keturunan itu?"
Tanya Zizi.
Paman Josh tersenyum.
"Saya mengikuti pergerakan Paman anda yang juga memburu mahluk dari Narawitri itu. Ia tahu mahluk itulah yang membantu Sekar Ayu lepas dari kerajaannya."
"Dan mahluk itu tahu jika Ali akan lahir di sini?"
Paman Josh mengangguk.
"Dia datang sebelum kakek Ali lahir. Kami bangsa siluman memang begitu Nona, menguasai wilayah lebih dulu, sebelum target kami datang."
Zizi menatap Ali yang terdiam membisu di tempatnya.
"Ali..."
**---------------**