Zizi

Zizi
161. Ingin Cepat Bertemu


Zizi sampai di London malam hari dan langsung dijemput Paman Nicx.


Paman Nicx menyambut kedatangan Nonanya dengan hangat, menyiapkan dua mobil pengawal dan satu yang ia kendarai sendiri sebagai jemputan sang Nona.


Zizi masuk ke dalam mobil dengan sedikit terburu-buru.


"Paman Nicx sudah ke rumah?"


Tanya Zizi.


"Ya Nona, seperti biasa, memastikan semuanya di rumah sudah siap dan tak ada masalah."


Jawab Paman Nicx sambil duduk di belakang kemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Kak Seng tidak di rumah? Dia belum kembali?"


Tanya Zizi lagi.


"Shane? Ah ya, dia tidak ada di rumah, padahal saya sudah menunggunya datang ke kantor."


Ujar Nicx.


"Kantor?"


Zizi heran.


Sejak kapan Kak Seng jadi karyawan.


Nicx mulai melajukan mobilnya untuk meninggalkan bandara, mengantar sang Nona pulang ke kediamannya.


"Tuan Zion menghubungi saya beberapa hari lalu, saya diminta mengajari Shane untuk mulai aktif di perusahaan, sepertinya Shane akan mulai ikut aktif di Alpha Centauri."


Ujar Nicx.


"Papa? Papa langsung menghubungi Paman?"


Tanya Zizi terkejut.


Haiiish... Maria mendesis sambil geleng-geleng kepala.


"Aunty kan sudah bilang kalau mereka sudah merestui kalian dan bahkan akan menikahkan kalian."


Kata Maria yang duduk di samping Zizi kali ini dan tidak duduk di atas mobil karena udara sedang sangat dingin.


Zizi menoleh pada Maria.


"Shane juga akan meneruskan kuliahnya, saya bahkan sudah mengurus semuanya, semoga dia segera kembali agar bisa langsung masuk kuliah lagi dan mulai belajar di perusahaan."


Ujar Nicx.


Sebetulnya apa yang diinginkan Papa?


Kak Seng kuliah dan masuk ke perusahaan, jadi dia berhenti menjadi bodyguard untuk Zizi?


Batin Zizi.


"Katanya Papa merestui Zizi dan Kak Seng, kenapa malah memisahkan kami? Kalau Kak Seng kembali kuliah di sini, berarti dia tidak akan kembali ke Indonesia bukan? Apalagi dia juga akan aktif di perusahaan."


Zizi bergumam tak jelas.


Maria geleng-geleng kepala.


"Dasar bolot, Papa mu ingin Shane kelak bisa mendampinginya mengelola perusahaan, Aunty kan sudah bilang sebelumnya."


Kesal Maria.


Zizi menatap Maria lagi.


"Memangnya Aunty pernah membahas itu?"


Tanya Zizi pikun.


Maria mendengus.


"Tau akh, kamu tuh kalau diajak ngomong orangtua makanya didengarkan baik-baik, diingat baik-baik, jadi apa-apa tidak langsung salah paham, tidak ngegas-ngegas."


Ujar Maria.


"Ya kan Zizi ini terlalu banyak beban."


Kata Zizi.


"Beban gundulmu."


Kesal Maria.


"Iiish... Aunty kasar!"


Zizi menabok paha Maria.


"Aduh."


Maria mengusap pahanya yang kena tabokan Naga.


"Kamu tugasnya itu mendukung Shane agar bisa menjadi Vampire yang sukses, yang bermasa depan cerah, yang bisa jadi tambahan kekuatan Papa kamu di perusahaan karena keturunan musuh Kakekmu sudah kembali."


Kata Maria.


"Ah begitu ya, apa ini pertanda kita akan perang dua hal sekaligus? Perebutan kekuasaan di alam manusia dan juga alam lelembut?"


Tanya Zizi.


Maria mantuk-mantuk.


"Jika melihat kabar yang didapatkan Paman Ziyan, tampaknya memang demikian Zizi, ini sebabnya takdir menjadikan Shane bukan sebagai manusia biasa lagi, dan kau juga begitu, karena kalian yang ditakdirkan akan berjodoh dan menjadi penyelamat semuanya."


Zizi menghela nafas.


Nicx di belakang kemudi yang tentu sudah tahu Zizi sedang bicara dengan hantu memilih fokus mengemudikan mobilnya.


Hingga akhirnya mobil sudah mulai memasuki komplek perumahan elite di mana rumah Tuannya berada, barulah Nicx angkat suara lagi.


"Nona Zizi, saya tidak bisa ikut turun apakah tidak apa-apa? Ada yang harus saya urus kembali."


Kata Nicx.


Zizi mengangguk.


"Tidak apa-apa Paman, di rumah sudah ada Bibi Nancy kan?"


"Ya Nancy sudah menyiapkan semuanya, sore tadi saya sudah memastikannya sendiri, ada empat pengawal yang akan menjaga di rumah, Nona jangan khawatir."


Kata Nicx pula.


"Baiklah Paman."


Mobil mulai melaju pelan saat akhirnya mulai mendekati kediaman keluarga Zizi.


Begitu sampai di depannya, mobil pun berhenti dan Zizi segera keluar dari mobil setelah mengucapkan terimakasih pada Nicx.


Dari satu mobil pengawal yang berada di belakang Nicx tampak turun empat pengawal muda yang lantas dengan sigap membuka pintu pagar dan mengawal Nonanya masuk.


Nicx pergi dengan mobilnya lagi, dan satu mobil pengawal lainnya.


Zizi berjalan memasuki halaman rumah yang sebagiannya masih bersalju.


Salah satu pengawal membukakan pintu utama rumah dan mempersilahkan Zizi masuk lebih dulu.


Maria melayang mendahului Zizi, melesat cepat dan langsung masuk ke dalam rumah.


Lama sekali tak datang, semua masih sama.


Aroma masakan dari dapur tercium harum, pertanda Nancy ada di sana.


Zizi berjalan ke arah dapur, mengikuti Maria yang melayang mengendus aroma masakan yang lezat.


"Bibi Nancy..."


Zizi memanggil begitu dekat dapur.


Nancy yang sedang mengaduk sup di atas kompor menengok ke belakang saat mendengar suara Zizi memanggilnya.


"Nona..."


Nancy tampak tersenyum lebar.


Zizi mendekati Nancy dan mereka berpelukan.


"Apa kabar Bi?"


Tanya Zizi sambil memeluk Ibu Shane.


"Baik Nona, ah kau semakin cantik saja."


Puji Nancy pada Zizi.


Mata keduanya terlihat berkaca-kaca.


Maria duduk di atas dapur, menikmati aroma sup yang nikmat.


"Sebentar lagi sup nya matang, Nona mandilah dulu dengan air hangat, nanti setelah semuanya siap, Bibi akan panggil."


Kata Nancy.


Zizi mengangguk.


"Baiklah."


Sahut Zizi.


Pelukan mereka terlepas, dan Zizi pun pamit untuk ke kamarnya di lantai atas.


Tapi...


Zizi menghentikan langkahnya sejenak manakala sudah ada di ambang pintu dapur.


Zizi menoleh ke arah Nancy sebentar.


"Bibi, apa Kak Seng sudah lama perginya?"


Tanya Zizi.


Nancy yang ditanya tampak menatap Zizi, lalu berusaha tersenyum.


"Sebentar lagi dia pasti akan pulang, jangan khawatir."


Kata Nancy menghibur.


Zizi mengangguk.


"Baiklah, kita tunggu sampai besok, jika tidak, aku akan menyusulnya."


Kata Zizi.


Nancy dan Maria saling pandang.


Nancy menggelengkan kepalanya pelan untuk memberi isyarat pada Maria agar menghalangi niat Nona mudanya.


"Cuaca sedang tak menentu Zizi, tunggu saja Shane datang, kalau kau pergi ternyata Shane pulang, bisa kacau malah."


Kata Maria akhirnya.


Tentu saja, hanya Maria dan Zia saja yang bisa bicara keras pada Zizi.


"Tapi tidak ada yang bisa memastikan Kak Seng sedang baik-baik saja."


Zizi suaranya tergetar.


Nancy menatap anak majikannya itu.


Tampak dari sorot matanya cinta yang begitu dalam untuk Shane, sungguh itu membuat hati Nancy seolah meleleh seperti es krim.


"Tunggulah sampai lusa Nona, jika tidak kembali, biar saya yang akan mencarinya, dia pergi ke Bradley Woods Lincolnshire, terlalu bahaya jika Nona datang ke sana."


"Ya Nancy benar, disamping di sana akan banyak Lycan yang bisa menyerang mu karena mereka bukan komplotan Marthinus, cuaca juga sedang eskrim begini."


Nancy menoleh pada Maria.


"Ekstrim."


Nancy meralat.


"Ya itu maksudnya."


Ujar Maria.


Zizi menghela nafas.


Ah rasanya ia ingin segera bertemu kak Seng, menunggu hingga lusa?


Mampukah?


**---------------**