Zizi

Zizi
47. Rintihan Di Tengah Hutan


Zizi, Shane dan Maria meninggalkan kerajaan Dalu dengan menunggangi kuda milik kerajaan dengan diantar langsung patih besar kerajaan Dalu sendiri.


Atas titah dari putri Arum Dalu, mereka juga meminta seluruh penghuni tanah Dalu mulai bersiaga menjaga seluruh gerbang masuk dan keluar ke Tanah Dalu.


"Nona Zizi membawa bekal makanan selama perjalanan?"


Tanya Putri Arum Dalu saat tadi akan melepas Zizi.


"Ya, hanya beberapa saja, hanya roti dan sedikit snack serta satu botol air mineral, juga vitamin."


Putri Arum Dalu tersenyum dan mengangguk.


Ia paham jika manusia memiliki keterbatasan membawa bekal dan perlengkapan saat perjalanan.


"Ada beberapa titik di mana Nona Zizi bisa keluar dan masuk ke alam manusia, jika Nona Zizi merasa lapar, setiap keluar dari hutan yang Nona lewati, sempatkan keluar untuk makan dsn istirahat."


"Di mana pintu keluar itu?"


Tanya Zizi.


"Saat matahari condong ke barat dan langit mulai temaram, itu adalah masa menjelang maghrib jika di dunia manusia. Banyak dari bangsa kami yang berkeliaran di jam itu untuk mencari banyak hal, rumah untuk ikut tinggal, anak kecil yang lalai dalam penjagaan orangtua, makanan yang tergeletak tanpa ditutup dan lain sebagainya. Nona Zizi setelah keluar dari hutan pasti akan selalu menemukan seperti jalanan kecil yang diapit dua batu besar, Nona masuklah di tengah kedua batu itu dengan menutup mata dan jangan menengok ke belakang sebelum tiga belas langkah dari pertama Nona Zizi melewati dua batu tersebut."


Putri Arum Dalu menjelaskan dengan sangat rinci.


Zizi mantuk-mantuk.


"Lalu bagaimana caranya Zizi masuk lagi?"


Tanya Zizi.


"Saat tengah malam tiba, akan ada beberapa titik yang terlihat seperti bercahaya macam kunang-kunang, Nona Zizi bisa lewat tempat-tempat itu."


"Sampainya di mana?"


Tanya Zizi cerewet.


"Sebagaimana anda pertama keluar."


"Meskipun Zizi misalnya sudah berjalan jauh di dunia manusia?"


Tanya Zizi lagi.


Putri Arum Dalu mengangguk.


"Baiklah, aku mengerti."


Kata Zizi.


Dan demikianlah akhirnya Zizi bersama Shane dan Maria pun meninggalkan kerajaan Putri Arum Dalu.


Hari mulai gelap saat akhirnya Zizi dan rombongan sampai di perbatasan.


Tanah Dalu berakhir di sana, di dekat jurang di mana di bawahnya mengalir sungai yang sangat deras.


"Kami hanya mampu mengantar hingga di sini, selebihnya Nona Zizi dan Tuan Shane serta Nyonya Maria bisa melanjutkan perjalanan sendiri."


Haiiish... Nyonya dia bilang, apa mukaku terlihat tua hingga dipanggil Nyonya. Maria ngedumel.


Zizi mengangguk.


"Ya, terimakasih, ini sudah cukup."


Ujar Zizi.


Patih dari kerajaan Dalu pun pamit kepada Zizi, meninggalkan Zizi dan Shane yang bersiap menyeberangi jembatan panjang yang memisahkan dua tebing antara milik Tanah Dalu dan yang satunya adalah milik bangsa lain.


Zizi dan Shane menatap Patih kerajaan Dalu yang menjauh bersama pasukan kuda hitamnya.


"Kamu bisa nyebrang nggak Zi? Apa mau aku gendong?"


Tanya Maria.


Zizi cekikikan.


"Emang aku bayi."


"Ya kan daripada kamu jatuh ke bawah."


Kata Maria sambil melayang-layang.


Jembatan itu terbentang hampir satu kilometer jauhnya, di bawah tampak jurang menganga.


Jembatan yang hanya dari bambu-bambu yang di sejajarkan dan diikat semacam akar-akaran itu menggantung sedemikian rupa.


Tak ada pegangan sama sekali, jadi saat meniti jembatan itu, sudah kelas Zizi harus fokus menjaga keseimbangan tubuhnya, berat sebelah saja, maka ia akan tergelincir dan jatuh ke bawah.


Maria duduk di atas jembatan, kakinya menjuntai ke bawah sambil digoyang-goyangkan.


Zizi mendengus.


Shane menatap Zizi yang terlihat mulai ragu tatkala kakinya mulai melangkah ke atas jembatan.


Shane lantas tanpa bicara langsung mendekati Zizi, mengangkatnya dan menggendongnya, melesat cepat melewati jembatan, melewati Maria hingga nyaris terjungkal.


"Heeeey!!"


Maria langsung melayang menyusul Shane yang bergerak seperti the Flash.


Tak begitu jelas karena Shane berlari seperti Supercar.


Di atas sana langit mulai benar-benar gelap, lolongan serigala di tengah hutan mulai terdengar bersahutan.


Shane sampai diujung jembatan dan baru saja akan menurunkan Zizi manakala maria menabraknya dari belakang hingga Shane dan Zizi jatuh tersungkur ke depan.


Maria tertawa melihat keduanya bertindihan seperti cucian kotor.


"Haiiish Auntyyy... kalau Zizi jatuh nggelinding ke bawah gimana?"


Zizi jadi kesal.


Shane membantu Zizi berdiri.


Maria tertawa saja, tak peduli Zizi mengomel.


"Ada yang sakit?"


Tanya Shane.


Zizi menggeleng sambil melepaskan tangannya dari lengan Shane.


Maria melayang lebih dulu menuju hutan di depan mereka, seolah memastikan jika mereka bisa melewati hutan itu.


Tapi...


Maria berbalik, ia melayang lagi ke arah Zizi.


"Aku rasa lebih baik besok saja Zi, terlalu bahaya jika dipaksakan masuk, sangat gelap."


Kata Maria.


Zizi menatap hutan di depannya.


Hutan itu memang sangat gelap.


Hampir semua pohon yang tumbuh di sana adalah pohon-pohon besar yang tinggi menjulang, belum lagi semak belukar yang juga ada di sekitar pohon-pohon itu.


"Tidak masalah untuk aku dan Shane, tapi tidak untuk mu, bagaimanapun kamu tetap manusia, yang bisa terluka, cedera, dan bahkan mati."


Kata Maria khawatir. Kali ini ia menatap Zizi dengan bersungguh-sungguh.


Zizi masih belum memutuskan akan bagaimana, saat kemudian ia mendengar sebuah rintihan seperti mahluk yang kesakitan.


"Apa itu Aunty? Kau dengar?"


Tanya Zizi.


Mereka kemudian celingak-celinguk mencari sumber suara rintihan itu berasal.


"Sepertinya dari dalam hutan, biar saya saja Nona."


Kata Shane.


"Tidak Kak Seng, Zizi harus ikut."


Ah yah, tentu saja, mana mau Zizi tak terlibat, apalagi ini adalah misinya, misi perjalanannya ke Merapi untuk menyempurnakan energi baik di dalam jayapada, dan membuang yang sebaliknya.


Shane menatap Zizi, ingin sekali ia berkata tidak boleh, tapi ia tahu Zizi tak akan mau dengar.


Shane akhirnya mengangguk dengan terpaksa, lalu...


"Jangan jauh dari saya Nona."


Kata Shane.


Zizi mengangguk.


Sebaliknya Maria tampak tersenyum melihat keduanya.


Sambil melayang Maria menggoda mereka.


"Ya anggap saja sekalian kencan sekarang mah, dan Aunty hanya nyamuk yang ngontrak."


Kata Maria.


Haiiish... Zizi mendesis.


"Kenapa Aunty ingin jadi nyamuk biar bisa ngontrak?"


Tanya Zizi pada Shane, mulai kumat bolot.


Mereka pun kini mulai memasuki hutan gelap di wilayah yang sudah di seberang tanah Dalu.


Hutan itu terlihat begitu gelap dan lembab, semaknya begitu rimbun, aromanya seperti aroma dupa atau bahkan kemenyan yang dibakar habis.


Angin bertiup sepoi-sepoi diiringi gemerisik daun dan juga suara serangga hutan, sungguh seperti bacaan mantera dari alam.


Rintihan yang seperti menahan sakit itu terdengar semakin jelas, Zizi semakin menajamkan matanya meski ia tahu tak akan bisa menangkap semuanya dengan baik karena bagaimanapun mata manusia sangat terbatas.


Hingga...


Di dekat semak belukar tak jauh dari Beringin tua yang sangat besar, tiba-tiba...


**-----------**