
Zizi menatap Maria dengan mata yang terasa meremang, rasanya ia ingin menangis lagi dan dadanya benar-benar sesak.
"Kenapa Kak Seng tidak memberitahu Zizi?"
Tanya Zizi pada Maria.
Mereka kini telah berada di kamar Zizi, tampak Ali juga bersama mereka.
Ali yang semula memilih diam saja akhirnya mencoba bicara sebagai laki-laki.
"Pasti karena Kak Shane sejatinya sangat mencintaimu Kak."
Ujar Ali.
Zizi mengalihkan pandangannya dari Maria ke arah Ali.
"Jika aku jadi Kak Shane, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Pergi diam-diam bukan karena kita berniat jahat, tapi karena takut perempuan yang kami sayang akan tidak bisa menerima."
"Tapi pamit itu jauh lebih baik, setidaknya kami tahu bahwa ia pasti akan kembali."
Kata Zizi.
"Kak Shane yakin Aunty Maria akan mengatakan pada kak Zizi, dan pasti Kak Zizi akan mengerti. Ia juga pasti berat Kak, dan jauh lebih berat jika Kakak menangisi kepergiannya lalu dia lihat itu."
Ujar Ali.
"Lagipula, apa yang akan dia lakukan adalah untuk berjuang demi kakak juga. Ia ingin jadi manusia lagi, meskipun dia tahu, tantangannya akan sangat berat dan berbahaya. Ribuan Vampire mencoba namun hanya ada satu yang bisa, itu pastinya karena sangat sulit."
Zizi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Membayangkan Shane di sana nanti seorang diri menghadapi semua marabahaya untuk menjadi manusia membuat Zizi begitu sedih.
"Seharusnya kau menghentikan ide konyolnya itu Aunty."
Lirih Zizi.
Maria menepuk-nepuk punggung Zizi agar bisa benar-benar tenang.
"Percaya dan yakin saja Shane akan sanggup melakukannya, aku akan menyusulnya minggu depan, kebetulan Mama kamu akan ke London kan?"
"Zizi ikut."
Maria menggeleng.
"Kau ada misi membantu Ali, apa kau lupa?"
Zizi menatap Ali yang langsung menggeleng,
"Aku tak akan memohon dan menghalangi mu Kak, pergi saja jika kau ingin pergi, urusanku gampang nanti tak apa."
Kata Ali.
Tapi...
"Hormatilah keputusan Shane, Zi. Jangan selalu memakai pikiranmu saja, dia ingin membuktikan dia layak untukmu, ya sudah jangan diganggu."
"Tapi bagaimana jika nanti Kak Seng gagal? Bagaimana jika ia tak bisa menghadapi semuanya sendirian? Bukankah ada Zizi akan bisa membantunya?"
"Bagaimana jika ternyata kehadiranmu malah membuatnya lemah? Membuatnya tidak fokus? Membuatnya yang semula harusnya menjaga dirinya sendiri saja akhirnya jadi harus menjagamu juga?"
Maria menatap Zizi yang akhirnya terdiam.
"Jangan egois, jangan hanya menuruti perasaanmu, berpikirlah lebih bijak Zizi."
Kata Maria.
(Tumben Maria bener, wkwkw)
Zizi akhirnya diam saja, tak ada energi untuk mendebat kata-kata Maria lagi.
"Aku yakin Kak Shane berhasil Kak, dia sangat hebat dan keren."
Ujar Ali optimis.
Maria mengangguk setuju.
"Ya Tuan Muda Ali, kau benar, Shane pasti berhasil, Aunty juga sangat yakin."
Kata Maria.
Zizi pun diam saja menatap keduanya.
**-----------------**
London,
Shane yang baru sampai di rumah Zion di London tampak berpelukan melepas rindu dengan Ibunya.
Nancy tampak begitu haru melihat Shane kini akhirnya pulang.
Nancy mengajak Shane duduk di ruang dalam, di depan perapian karena saat ini sudah mulai masuk musim dingin lagi.
"Kau pulang untuk mencari Marthinus?"
Nancy menatap Shane seolah tak percaya.
Kenapa ia ingin bertemu laki-laki campuran Vampire dan Lycan itu.
Shane tampak mengangguk.
"Ada yang harus aku lakukan Mam, harus ada yang aku dapatkan, dan aku butuh bantuannya."
Kata Shane.
"Apa itu?"
Tanya Nancy bingung.
"Aku ingin jadi manusia lagi, aku sudah mencari ribuan informasi dan aku sudah dapat satu Mam, bahwa ada dari kami yang bisa kembali menjadi manusia."
Lirih Shane.
"Apa itu tidak akan berbahaya Shane?"
Shane menatap sang Ibu.
"Aku akan melaluinya Mam, itu sebabnya aku butuh bantuan Paman Marthinus."
Ujar Shane.
Lalu...
Tanya Shane.
Nancy menggeleng,
"Entahlah, aku sudah lama tak pernah mendengar kabar Marthinus, terakhir kali aku dengar, dia pergi ke sebuah kastil tertua untuk menemui seseorang."
Kata Nancy.
Shane terdiam.
Ternyata baru awal saja sudah akan berat, hanya mencari di mana Marthinus berada sudah tak serta merta bisa bertemu.
"Di musim dingin seperti ini, para Lycan banyak yang memilih kembali ke hutan dan mencari gua dan menghindari kota. Nanti akan Mam coba carikan informasi soal Marthinus untukmu."
Kata Nancy.
"Itu akan merepotkanmu Mam."
Shane merasa membebani Ibunya.
Nancy menggeleng.
"Apa yang berat bagi seorang Ibu? Buat Ibu, memperjuangkan anak-anaknya adalah bagian dari hidup."
Kata Nancy.
Shane memeluk Ibunya lagi.
"Jika kau bisa kembali menjadi manusia, setidaknya Mam akan sangat bahagia Shane, apapun yang membuatmu termotivasi melakukannya."
Kata Nancy.
Lalu...
"Zizi... Nona Zizi, dia yang membuatku ingin jadi manusia Mam, aku ingin bisa bersamanya, menua dan mati."
kata Shane.
"Menjadi pasangan normal sebagaimana yang lain, saat ia keriput aku juga begitu, saat ia mati aku juga bisa menyusulnya. Jika aku jadi vampire, aku tidak akan menua."
Lirih Shane.
Nancy berlinang air mata.
"Kau mencintai Nona Zizi sejak dulu, Mam tahu betul perasaanmu, tapi tak usah terlalu berharap banyak Shane, karena..."
"Nona Zizi menerima cinta Shane, dan Tuan Zion sudah merestui."
Kata Shane memutus kalimat Nancy.
Nancy terbelalak.
"Tuan Zi... on?"
Shane mengangguk.
"Setelah Shane berhasil menjadi manusia lagi, Shane akan kembali ke kampus dan meraih master Mam, setelah itu, Shane diminta bergabung ke perusahaan Alpha Centauri, sebelum itu Shane akan belajar banyak dari Mister Nick."
Ujar Shane.
Nancy sungguh tak percaya dengan semuanya. Ia menangis. Sebagai Ibu ia sangat terharu.
"Semoga kau bahagia Sayang."
Kata Nancy.
Shane terlihat tersenyum sambil menatap Ibunya.
Ah andai ia nanti bisa kembali menjadi manusia, apakah ia juga bisa membuat Ibunya kembali menjadi manusia?
Apa yang harus Shane lakukan agar bisa menjadikan Ibu tak lagi hidup sebagai mahluk yang tak diinginkannya?
Toh selama ini, Shane yakin jika Ibunya tak pernah memakan manusia ataupun vampire. Ia juga seperti Shane, yang tetap berusaha keras untuk tak sepenuhnya hidup menjadi monster.
Ya Ibu, bagaimanapun Shane juga tak mungkin tega jika harus menjadi manusia lagi seorang diri.
Tidak...
Shane akan lakukan juga untuk Ibunya. Tekad Shane dalam hati.
"Kau bawalah barang-barangmu ke kamar, istirahatlah mungkin kau lelah Shane."
Kata Nancy pada putranya.
Shane mengangguk, ia pun berdiri dari duduknya, lalu bersiap menuju ke kamarnya.
"Ah iya, Shane."
Panggil Nancy.
"Ya Mam."
"Apa Nona Zizi masih suka warna biru?"
Tanya Nancy.
Shane terdiam, ia mencoba mengingat, lalu...
"Ya sepertinya ia masih menyukainya."
Kata Shane.
Nancy mengangguk sambil tersenyum.
"Akan Mam buatkan syal untuk nya, kebetulan Mam punya benang rajut berwarna biru."
Kata Nancy.
**-----------**